Pulang ke rumah menjadi yang sangat malas untuk Naomi lakukan. Selain malas berurusan dengan mama tirinya, Naomi benci sebenci-bencinya kepada balita seumuran Armani.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bayi tersebut. Namun karena sudah terpatri di otak Naomi bahwa posisinya tergeser dengan kehadiran makhluk kecil itu, jadilah selamanya terdoktrin di pikirannya.
Kini, Naomi benar-benar menjadi seorang kakak yang kejam. Pernah suatu hari berkata: karena bayi itu yang membuat mama Pulung pergi dari sini. Karena Dante membuat papanya berpisah dengan mama Pulung. Sungguh, Naomi tidak banyak bicara namun sekali berucap tajamnya pisau bisa mengalahkan segalanya.
Bukan bermaksud menyalahkan apa yang sudah terjadi. Tidak tahukan pikiran para orang dewasa bahwa Naomi hanya bocah berumur lima tahun yang sedang iri-irinya melihat semua kawannya menggandeng ibunya? Tidak tahukah para orang dewasa bahwa menjadi ada di dunia ini tanpa kehadiran seorang ibu sangat Naomi benci? Tidak tahukah para orang dewasa ada rindu menggunung yang harus Naomi elukan di malam-malam panjangnya? Tidak tahukah para orang dewasa Naomi hanya punya satu doa dari dulu hingga detik ini bahwa bersama mama Pulung hidupnya sudah lebih berharga dari tiap harinya.
Sekarang, siapa yang kejam di sini?
Naomi tidak meminta yang muluk-muluk. Tidak meminta dengan nominal uang yang fantastis. Tidak juga mengharapkan apa yang sudah ada di dirinya.
Apalah arti memiliki banyak mainan ketika hatinya kosong. Apalah artinya kehidupan mewah yang papanya kucurkan jika ternyata ada kehampaan di relung hatinya. Di lubuk paling terdalam kehidupannya batin Naomi menjerit. Kesepian terus menggerus perjalanannya. Sehingga menjadikan Naomi pribadi yang tertutup dan menutup diri dari dunia luar.
“Aku mau tinggal sama oma sama opa,” kata Naomi pagi itu. “Sekolah lebih dekat sama rumah oma opa. Jadi papa nggak usah repot-repot antar jemput.”
Pagi hari di rumah Ardika tidak pernah terajut dengan drama. Setelah diam sekian lama dan berbicara seperlunya, putri sulungnya berucap yang menggetarkan jantung Ardika. Jenis getaran disertai remasan yang menapakkan jejak luka di sana. Putrinya berbeda dari yang dirinya kenal dan tahu pasti akibat siapa semua itu terjadi.
“Papa nggak kerepotan Omi.”
“Aku yang kerepotan.” Di bantingnya sendok garpu dalam tangan mungilnya. Tatapan matanya tak menyinarkan kelembutan atau binar bahagia selayaknya anak seumurannya. “Aku benci sama papa dan papa tahu itu. Jadi… sebisa mungkin ayo kita kurangi interaksi satu sama lain. Cukup beri aku uang jajan dan sekolah sampai tinggi.”
Bocah mana yang berumur tujuh tahun sudah bisa mengancam orangtuanya?
Adalah Naomi Aksara yang sangat Ardika sayangkan perubahannya. Padahal, sebisa mungkin Ardika didik putrinya dengan kucuran kasih sayang yang tertakar sempurna.
“Kamu nggak ngerasa bersalah sudah ngomong gitu ke papa?” Vokal Dante menyahut. Ikut masuk ke dalam obrolan ayah dan anak yang tengah bersitegang.
Lirikan Naomi tak bisa dikatakan kalem. Warna hitamnya benar-benar menghujam tepat di wajah Dante yang Naomi decihkan perasaan jijik di sana. “Orang luar nggak perlu ikut campur. Kamu—”
“Omi!”
“Lihat!” Naomi banting piring bekas makannya. Tangannya bersidekap d**a dan wajahnya terangkat tinggi-tinggi. “Papa lebih memilih perempuan luar ini ketimbang aku anak papa. Aku keluarga papa. Pantas… Mama pergi ninggalin papa. Soalnya pantas, sih.”
Melihat itu, Dante tatapi anak tirinya dengan bengis. Yang di balas tak kalah buasnya oleh Naomi.
“Papa harusnya sadar. Cinta pertama seorang anak perempuan itu ayahnya. Dan bagi aku, papa orang pertama yang matahin hati aku. Papa orang pertama yang naburin garam di atas luka aku. Kalau seandainya papa pisah tanpa nikah lagi, aku bisa terima.”
Tertohok. Persendian di tubuh Ardika lemas seketika. Seolah dilolosi satu per satu. Membenarkan perkataan putrinya. Jika di pikir-pikir lagi, Ardika memang sangat kejam sudah membekaskan luka di hati Naomi. Yang Ardika pikir semuanya baik-baik saja faktanya tidak. Yang Ardika pikir Naomi tumbuh dengan baik, nyatanya diamnya selama ini menyimpan luka yang tak berkesudahan. Malah seperti sengaja Ardika taburi cuka ke dalamnya.
“Papa—”
“Minta maaf?” Di potong secara sarkas oleh Naomi. Menyunggingkan bibirnya ke atas yang lebih menyerupai seringaian. Bocah tujuh tahun itu siap berdiri dan hendak melangkah. Sebelum ucapannya kian meremas jantung Ardika. “Telat banget, kan, pa? Dua tahun ini papa ke mana saja?” tanyanya sembari melihat Dante yang tengah mengejeknya dengan alis berjengit. “Papa sibuk dengan perempuan ini yang cuma cinta sama papa. Begitu cara kerjanya keluarga, ya, pa? Mengalihkan dunia papa, menjauhkan papa dari darah dagingnya sendiri. Aku nggak yakin dia seorang ibu yang baik.”
Sungguh. Ardika sangat menyesal sekarang. Tindakannya yang sejauh ini setelah tahun-tahun berganti, justru diungkap oleh putrinya sendiri. Yang terang-terangan mengakui kekecewaannya pada dirinya sendiri.
“Kamu pikir ibu kamu baik?”
Tungkai Naomi yang sudah berada di ujung tangga menuju pintu keluar berhenti mendadak. Remasan pada tas jinjingnya mengetat. Mendengar suara perempuan ini sangat menyakitkan bagi telinganya.
“Jangan coba-coba!” Ardika mengancam. “Atau kita berakhir secepatnya.”
“Coba saja!” Gertak Dante. “Kalau kamu bisa dan semua rahasia kamu aku bongkar ke publik.”
Tawa Ardika menggelegar. Membuat bulu kuduk Naomi meremang. Pasalnya, sang papa tidak pernah bertindak demikian. Tawa papanya sangat lembut. Sangat menyenangkan ketika Naomi pandang. Namun kini, bukan seperti yang biasanya Naomi lihat. Dan begitu tubuhnya berbalik, baik papanya maupun Dante sama-sama menghujam di netra masing-masing. Papa yang mendominan penuh dendam dan geram, sedang Dante kelicikan terlukis di sana.
“Dia bukan anak istimewa yang harus di lahirkan. Makanya—”
“Aku bahkan nggak pernah minta di lahirkan,” sahut Naomi. “Kamu salah kalau berpikir aku sangat emosional mengenai ini. Sekalipun kamu mengatai ibuku sangat kotor, bukan masalah buatku. Kamu lebih dari kotoran itu.”
“Berengsek!”
“Dengar, kan, pa!?” Jerit Naomi keras-keras. “Gitu perempuan yang papa nikahi. Papa jadikan pendamping hidup. Yang soal mengontrol omongannya saja nggak bisa. Ini di depan papa berani ngatain aku berengsek. Apalagi di belakang papa?”
Tertampar sendiri. Tertohok sendiri. Terluka sendiri. Begitu kira-kira yang Ardika rasakan. Perputaran dunia yang ada di sekelilingnya sangat aneh. Tapi Ardika mencoba menjalaninya. Ardika tetap optimis dalam melangkah. Karena berjalan di masa lalu bukan sesuatu yang baik. Meski untuk pelajaran ke depannya, masa lalu harus tertinggal jauh di belakang. Cukup menjadi bayangannya saja. Tanpa perlu beriringan dengan masa depannya.
Dan ketika semua yang Naomi ungkapkan menyingkirkan segala keputusan bodoh dua tahun lalu, Ardika sadar, harus ada yang dirinya rubah hari ini. Entah pada siapa dan bagaimana akhirnya. Semua ini harus di selesaikan.
Namun… apakah bisa menutup luka di hati Naomi?
***