Bagi Maharaja yang memiliki sejuta kesakitan dalam hidupnya, di sodori nasihat: pilihlah pasangan yang membuat hatimu tenang. Yang menempatkan dirimu di dalam hatinya. Yang mau mendengarkan segala keluh kesahmu tentang dunia. Pasangan yang bersedia ada bersamamu dalam suka dan duka. Serius, itu menyenangkan. Meringankanmu dalam segala hal di tiap perjalanan.
Tentu saja kakinya menjadi sangat kaku. Pulung bukannya menyambut dengan suguhan makan malam atau segelas air mineral. Justru berceramah perkara dirinya yang terus melajang. Padahal jika perempuan itu tahu karena siapa dirinya menjomblo… tamat sudah riwayatnya.
Sekali ini saja Maha berbuat baik. Berbesar hati untuk tidak menambah muatan di pikiran Pulung. Biarkan saja dulu ibu satu anak itu fokus pada Baraja. Toh jika harus Maha lamar Pulung di waktu yang sudah tepat dan matang, ada dukungan Bara di dalamnya. Bocah dua tahun itu sangat mengidolakan Maha. Bukan hendak sombong namun begitu fakta bekerja.
“Memangnya sulit cinta sama kamu? Sampai-sampai jajaran cewek pada minggat semua.”
Ibu-ibu di negara berfollowers punya ciri khas: merepet dengan damage yang nggak kaleng-kelang. Jadi gambaran yang sedang menyapa rungu Maha ya memang benar seratus persen. Sembari menyuapi Baraja yang kelihatan ogah-ogahan—pasalnya bayi laki-laki itu sudah tergiur ingin di gendong oleh Maha. Patutlah sampai mengabaikan sang mama.
“Ih Bara!” Kesal Pulung berteriak. Yang cepat-cepat Maha dekati untuk mengambil alih posisi Pulung. “Mubadzir tahu sembur-semburin makanan kaya gitu. Nggak mama kasih ampun, ya, besok-besok lagi.”
“Kamu jangan pakai ancaman dong. Bukan nurut malah takut.” Tegur Maha tidak sekencang suara Pulung. “Kayanya memang lagi kesukaan dia nyembur gitu. Tadi pagi minum air sama aku juga gitu.”
“Kan!” Yorobun. Untung telinga Maha tercipta dari Tuhan. Coba kalau China? “Kamu terlalu manjain dia!” Hardik Pulung.
Yang Maha geleng-gelengkan kepalanya. Tidak paham dengan sikap Pulung hari ini. Apakah perempuan itu sedang kesal dengan pekerjaannya atau perilaku Bara yang menyemburkan makanan. Keduanya sama-sama tak baik di mata Maha. Sekasar apapun tindakannya atau sebengis apa cara Maha menghabisi nyawa manusia lainnya, tidak bisa dirinya berkata parah seperti Pulung. Terlebih di depan bayi.
Bukan tanpa alasan Maha memanjakan Baraja. Ia teringat masa-masa kecilnya yang sangat kekurangan dalam segala hal kecuali uang. Maha tidak punya ayah yang bisa di andalkan atau ibu yang bisa dirinya sandari. Maha tidak punya orang-orang terdekat untuk dijadikan pelukan ketika dingin menyapa dan banyak cerita yang ingin dirinya bagi. Yang ada hanya mainan baru beserta pakaian model berharga melejit.
Dan melihat Baraja lahir tanpa sosok ayah yang tepat, memanggil sisi lain di hati Maha untuk mengambil alih tempat itu. Demi Tuhan! Tidak ada niatan apapun ketika itu terjadi. Tidak ada harapan bagi Maha untuk menikahi Pulung suatu hari nanti. Karena tahu perempuan itu diam-diam menangis sembari memandangi potret Ardika.
Tidak ada di pikirannya yang muncul untuk mendampingi perjalanan Pulung jika sudah menggenggam hati Bara. Yang ada hanya keinginan untuk Maha melindungi keduanya. Untuk dirinya simpan di masa depan dan di ceritakan pada Bara dewasa kelak.
“Kamu pilih-pilih pasangan apa gimana?”
Astagfirullah Ukhti!
Sabar Maha mengelus dadanya. Yang ia kira Pulung sudah diam dan lupa nyatanya menyambung kembali. Di mana Bara yang mulai terlelap dalam pelukannya. Efek kenyang dan dingin dari udara hujan yang membasahi bumi.
“Enggak juga,” jawab Maha. Tubuhnya bergoyang mengikuti gerakan kakinya yang menimang Bara. “Aku lebih banyak emosinya.” Ungkap Maha. Bibirnya tersenyum setelahnya mengecup pucuk kepala Bara. “Nggak mudah sayang sama aku karena egoku nggak sebesar kelihatannya. Aku diktator. Nggak suka ngalah. Bakal sulit, kan, nemuin cewek yang mau ngimbangin sikapku ini.”
Kegiatan Pulung mengiris daging terhenti. Maha tahu karena bunyi pisau dan telenan yang sahut-menyahut tidak berisik lagi. Dapat di lihatnya perempuan tersebut menerawang ke luar jendela dapur. Tetes air yang berembun menyita penglihatannya.
“Turunin dikit deh kualifikasinya.” Sarannya. “Jangan sendirian seumur hidup. Jangan sakit sendirian. Jangan menderita sendirian.
‘Ada kamu di sini.’ Yang cuma Maha serukan dalam hati. ‘Apa kabar dengan kamu?’
“Ini nggak sekadar ‘tidak mudah’ saja. Aku suka memperumit masalah-masalah kecil yang akhirnya bikin para cewek pergi. Tanpa mereka tahu kalau diam-diam aku sayang sama mereka. Nggak semuanya, sih.”
Kekehan Pulung terdengar merdu.
“Kamu konyol.”
Bertahun-tahun mengenal Maharaja Askara, baru kali ini sisi lelaki itu keluar. Mau berterus terang tentang perasaannya yang Pulung percayai sangat tabu untuk di bagi.
“Soalnya aku takut ditinggalin. Jadi sebelum mereka pergi, aku lebih dulu mengusirnya. Biar aku nggak ngerasain sakit duluan. Semampuku untuk ngedorong mereka.”
“Kamu cemburuan, sih.”
Benar. Maha pernah menceritakan soal cemburu yang tidak bisa dirinya tutupi. Letupan emosinya selalu merajai jadi tidak heran tindakannya selalu di luar nalar.
“Kadang mereka juga aneh. Suka nuntut aku A sampai Z dan Z sampai A. Yang intinya menghambat pergerakanku. Katanya, nggak boleh begini dan begitu. Katanya wajib ngasih kabar sehari telepon tiga kali. Minum obat kali sehari tiga kali.”
Menggelegar sudah tawa Pulung. Yang tidak di sadari perempuan janda itu amatlah cantik wajahnya kala tawa bersemayan. Aura keibuan yang menguar. Sensasi bahagia yang menyeri-nyerikan pipi Maha sehingga kemerahan nampak di sana.
“Patah hati pertamamu?”
‘Kamu.’
Embusan napas Maha menerpa Bara. Membuat bocah dua tahun dalam gendongannya menggeliat dan Maha menepuki bokongnya pelan.
“Saat seseorang lebih memilih orang lain ketimbang aku.”
Maksudnya Pulung yang menerima lamaran mantan suami pertamanya. Padahal sudah jelas-jelas Pulung tahu bahwa Maha memiliki perasaan khusus untuknya. Meski belum Maha jabarkan mendetail, namun gelagat Maha waktu itu sangatlah kentara terlihat.
“Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi.” Alih-alih bertanya siapa perempuan yang kondang mematahkan hati Maha, Pulung bernyanyi setelah terdiam lama. “Aku tenggelam dalam lautan luka dalam.” Ya. Dalam. Pulung sangat tahu siapa gerangan. “Aku tersesat dan tak tahu jalan arah pulang—”
“Aku tanpamu butiran debu.” Sambung Maha yang sebenarnya begitu Pulung hindari. “Kerecehan kamu mulai meningkat nih.”
Dan begitulah terjadinya ledekan demi ledekan yang keduanya suarakan.
Membahas perasaan memang tidak ada habisnya. Maharaja tetaplah yang sangat misterius dengan hatinya. Sedang Pulung, masih menyimpan rasa lama untuk orang yang mengkhianatinya. Dua kali berturut-turut. Rasanya ingin percaya. Mendengarkan penjelasan yang waktu itu Pulung tolak. Namun kepercayaan yang tertanam sudah di tumpas habis. Pulung bukan tipe perempuan pemaaf. Sekali di sakiti akan sangat terkenang di hati.
Tahun sudah berubah. Tetap saja bekas lukanya tidak memudar.
Kehidupan terus mengejar. Tetap saja bayangan kelam terus berdampingan.
Jadi, ketimbang memikirkan hasil akhirnya yang tak pasti. Pulung berusaha untuk belajar waspada demi hati.
***