"Rafaela, sudahlah … tidak usah mempedulikan wanita pemarah sepertinya." Nana tampak menghibur Rafaela yang sedikit sedih.
Rafaela masih terdiam menunduk.
"Alangkah baiknya kita melanjutkan perjalanan saja. Lagi pula, pasti jika Hanabi ikut dia hanya akan menyusahkan saja," kata Nana. Sebisa mungkin ia mengeluarkan kata apa pun untuk membujuk temannya itu. "Memangnya jika Hanabi ikut dia akan membantu kita mendapatkan kitab tersebut? Belum tentu juga, kan? Bukankah kau yang bilang kalau teman-teman manusiamu itu yang lebih penting?" bisik Nana.
Rafaela meneguk saliva. Menatap ke arah Nana sejenak kemudian mengangguk.
"Sudah lah, ayo kita lanjutkan saja perjalanan kita," ucap Nana.
"Iya," jawab Rafaela setuju.
Nana akhirnya menuntun Rafaela untuk berjalan menuju keretanya kembal