Lebih dari 2 minggu aku dan dia hampir tidak bertatapan secara langsung, akhir bulan memang hari yg sangat sibuk apalagi dengan dia yg menjabat sebagai bos baru di cabang ini jadi dia lebih sibuk lagi menganalisa tentang kemajuan cabang kami saat meeting bersama pun kami tak bertegur sapa hanya sebatas profesionalisme yg kami jalankan di kantor ini beberapa kali juga ku lihat istri dan anaknya mengunjunginya saat makan siang dan mereka keluar bersama karna aku sempat berpapasan dengan mereka saat di lift seperti saat ini.
"aku ingin makan sate pakai lontong enak kayaknya"kata Melisa lalu tak berapa lama pak Radit memasuki lift dengan menggendong anak laki2 itu dan dengan istrinya yg menggandengnya dia sempat sedikit tertegun melihatku dan hendak melepas rangkulan tangan istrinya tapi istrinya tetap menggandeng tangannya dan ku lihat dia hanya pasrah akan hal itu.
"papa aku mai cheese cake boleh kan?" kata suara anak kecil itu dengan manja "iya,,"jawabnya dengan suara yg lembut "sayang weekend besok kita jadi khan pergi dinner ber dua?aku udah reservasi restauran dan hotelnya juga loohh." suara Tasya yg sengaja sedikit lebih keras agar seluruh orang di lift itu termasuk aku bisa mendengarnya dan ku lihat pak Radit hanya diam tak membalas kata2 istrinya dan langsung keluar dari lift saat pintu terbuka meninggalkan istrinya berjalan sendiri di belakang nya.
"Bu bos overprotektif banget yaa sampe tiap hari nemenin pak bos makan siang di kantor" kata seorang karyawan di samping Melisa "takut lakiknya jelalatan kalik" jawab melisa seadanya "kalo si bos masih bisa lirik2 cewe lain mah kebangetan biniknya cantik banget gitu" kata karyawan yg lain lagi sambil kita berjalan bersama ke arah kantin.
"manager pemasaran sama bagian humas jadi nemenin pak Radit survey ke luar kota?" tanya Melisa pada kami karna bagian humas juga ikut makan siang bersama kami Varel namanya bapak gaul ber anak 1 ini tiap hari suka banget ngintilin aku dan Melisa saat makan siang"iya kita berangkat hari minggu sore khan ya Ry?" tanya Varel padaku yg ku jawab dengan angguk an tak bersemangat.
Ya aku akan menemani pak Radit melakukan perjalanan bisnis ke luar kota dan untungnya bersama sekertarisnya Mitha dan Varel bagian humas sehingga kecil kemungkinan aku akan hanya berdua dangannya.
"kemana sih Ry?" tanya Melisa "ke kota 'B' " jawab Varel "kenapa berangkatnya harus minggu sore sih?" tanya Melisa padaku ku jawab dengan mengedikkan bahu "karna senin pagi kita udah buat janji dengan perusahaan 'X' itu" lagi2 Varel yg menjawab pertanyaan Melisa "eh rel kereta bisa diem gak?aku bertanya pada Airy bukan kamu kenapa kamu dari tadi nyrocos mulu sih" kata melisa sambil ngomel pada Varel.
Sedangkan aku entah pikiranku terbang kemana dan membayangkan apa karna jujur saja kejadian di lift tadi sedikit mengganggu ku ku coba tepis perasaan itu tapi kali ini sedikit susah "hhuuuuuffffttthhhhh..." helaan nafasku yg tiba2 membuat Melisa dan varel menoleh "kamu kenapa sih Ry?"tanya melisa dan Varel hanya manggut2 saja setuju dengan pertanyaan Melisa padaku " gak papa aku udah selesai aku mau balik duluan ke ruanganku ya" kataku sambil berdiri "laahh aku masih belum pesen kopi Ry"kata Melisa "kamu bareng varel aja aku mau ke tolilet dulu sebelum balik ke ruangan" kataku sambil berlalu.
Saat di perjalanan menuju lift di kepalau masih terngiang kejadian di lift tadi aku merasa seperti tidak nyaman dengan itu ada sedikit rasa yg aneh yg saat ini ku rasakan aku tak tau apa nama rasa itu yg jelas itu bukan perasaan yg enak untuk ku rasakan.
Saat pintu lift hampir tertutup tiba2 ada seseorang yg menahan pintu itu dan memasuki lift aku masih tak menyadari siapa orang yg masuk salam lift karna aku masih terus bergelut dengan pikiranku dan saat pikiran ku tersadar tanganku sudah di tarik olehnya keluar dari lift itu dan dia lah yg menarikku pak Radit "apa yg bapak lakukan?" tanyaku dia masih diam berjalan sambil menarik tanganku mengikutinya memasuki ruangan meeting yg tampak sepi "klek" dia mengunci pintu lalu mengurungku dengan kedua lengannya di tembok "maaf" satu kata itu yg dia ucapkan "maaf untuk apa?" tanyaku dan tiba2 saja dia memelukku, memelukku dengan erat sebelum aku bisa berkata kata tiba2 saja bibirnya sudah melekat dengan bibirku melumatnya menuntut ku untuk membalas lumatannya.
Otakku terasa berhenti dan entah bagaimana aku menyambut ciuman itu membalas lumatannya dan ku rasa dia tersenyum dalam ciuman ini ada perasaan rindu dan lega yg kurasa dari ciuman ini kurasakan kedua tangannya memegang kedua pantatku dan mendorong maju agar aku lebih menempel padanya dan ku rasakan ada sesuatu yg mengganjal di bawah sana.
Dia melepas ciumannya dan mengatakan "i miss you"terengah2 di antara deru nafas kami berdua.
cut....belum saatnya ?