Artikel di majalah mode itu terbit dua pekan kemudian, dan Sekar tidak siap untuk apa yang menyusulnya. Judulnya sederhana—Kampung yang Menolak Mati—dengan foto kolong rumah panggung tempat Bu Lastri mencelup benang, tangannya yang membiru terangkat di atas bak tarum. Di bawah foto itu, kalimat yang membuat dada Sekar bergetar membacanya: Di lereng yang hampir dilupakan, sehelai kain masih ditenun seperti seabad lalu, dan kini dunia mode mulai melihatnya.
Dalam tiga hari, ponsel Sekar tak berhenti berdering. Pesan masuk dari nomor-nomor yang tak ia kenal. Seorang pemilik butik di Surabaya ingin memesan tiga puluh kain. Seorang perancang busana di Jakarta menanyakan apakah kampung bisa menyuplai kain tujuh gunung untuk koleksinya musim depan—seratus lembar. Seorang pembeli yang tak menyebut namanya menawar untuk memborong semua stok yang ada, berapa pun jumlahnya, dengan harga di atas pasaran. Angka-angka yang mengalir ke layar ponselnya membuat tangannya berkeringat.
Di balai, ia membentangkan catatan permintaan di hadapan Bujang, dan untuk sesaat keduanya hanya diam menatap deretan angka itu. "Kalau kita terima semua ini," kata Bujang akhirnya, suaranya hampir berbisik, "kita bisa lunasi semua, beli ATBM baru, gaji semua orang dua kali lipat. Ini yang kita tunggu, Sekar. Ini yang kita perjuangkan."
Sekar memandang sepupunya, dan di matanya ada kilau yang ia kenal—kilau orang yang melihat jalan keluar dari kemiskinan dan ingin berlari ke arahnya secepat mungkin. Dulu, beberapa bulan lalu, ia akan ikut berlari. Tapi sesuatu telah berubah di dalam dirinya, sesuatu yang ditanamkan oleh kegagalan pesanan besar yang dulu nyaris menghancurkan kampung. Ia masih ingat kain yang dikembalikan, celupan yang dipercepat, malu yang ia tanggung di depan penenun yang sudah ia yakinkan untuk pulang dari pabrik.
"Berapa kain yang bisa kita hasilkan dalam sebulan, Jang?" tanya Sekar tenang. "Yang sungguh-sungguh tujuh celup, tujuh gunung penuh pakem, tanpa satu pun yang dipaksakan?"
Bujang terdiam. Ia mengambil kertas, menghitung—berapa penenun matang yang ada, Bu Ngatiyem, Bu Lastri, dan sekarang Sekar sendiri yang sudah cukup mahir. Warni dan beberapa muda masih dalam pelatihan, belum boleh menyentuh tujuh gunung penuh. Setelah lama menghitung, Bujang menulis sebuah angka kecil, dan menatapnya dengan wajah yang berubah. "Delapan. Mungkin sepuluh, kalau cuaca bagus dan tak ada yang sakit."
"Sepuluh," ulang Sekar. "Dan permintaan yang masuk ratusan dalam tiga hari."
Keheningan di antara mereka berbeda kali ini. Bukan keheningan keputusasaan, melainkan keheningan orang yang sedang menimbang sesuatu yang lebih sulit dari kekurangan: kelebihan yang tak bisa ditampung. Sekar bangkit, berjalan ke ambang balai, menatap kolong-kolong rumah panggung yang kini berderit lagi tapi belum cukup banyak. Ia teringat kata-kata Pak Damar di kota: orang mengingat yang paling lemah, bukan yang paling kuat. Satu kain cacat menghapus kesan lima kain sempurna.
"Kita tidak akan menerima semuanya," katanya akhirnya, berbalik menghadap Bujang.
Wajah sepupunya jatuh. "Sekar, ini—"
"Dengar dulu." Suaranya tegas tapi tidak keras. "Kalau kita terima seratus pesanan dan hanya bisa membuat sepuluh dengan benar, kita akan memaksa sembilan puluh sisanya jadi cepat, jadi asal, jadi seperti yang dulu dikembalikan ke muka kita. Dan begitu satu kain jelek beredar dengan nama kita, semua yang kita bangun di kota itu runtuh dalam semalam. Orang yang sekarang memuja kita akan jadi orang pertama yang menertawakan kita."
Ia menarik kursi, duduk kembali, dan mulai memilah daftar permintaan dengan cara yang membuat Bujang mengernyit—bukan mengejar yang paling banyak, melainkan memilih yang paling sabar. "Kita layani yang mau menunggu. Yang bersedia memesan sepuluh dan menerima kainnya tiga bulan lagi. Yang mengerti bahwa kain ini lambat justru itu nilainya. Yang lain, kita tolak dengan hormat, atau kita masukkan daftar tunggu."
"Daftar tunggu," gumam Bujang, hampir tak percaya. "Kita yang dulu mengemis satu pembeli, sekarang membuat orang antre?"
Sekar tersenyum tipis, tapi matanya serius. "Bukan untuk gaya, Jang. Karena kalau kita kejar kecepatan, kita kalah sebelum mulai—pabrik selalu lebih cepat dari kita. Tapi pabrik tidak bisa membuat orang menunggu dengan senang. Hanya barang yang langka yang bisa. Dan kelangkaan kita bukan dibuat-buat. Kita memang cuma sepuluh tangan. Itu kelemahan kita. Tapi kalau kita jujur soal itu, kelemahan itu jadi kekuatan."
Bujang menatap daftar yang kini terbagi dua—yang sedikit, ke kanan; yang banyak, ke kiri—dan tertawa pendek, getir tapi mengerti. "Kau mulai bicara seperti kurator gila itu."
"Aku belajar dari orang yang menolak empat belas kain kita," jawab Sekar. "Dan ternyata dia benar."
Malam itu, Sekar menulis surat penolakan yang sopan pada belasan calon pembeli, dan rasa di dadanya bukan kehilangan, melainkan sesuatu yang lebih jarang ia rasakan sejak pulang: kendali. Untuk pertama kalinya, kampung tidak ditentukan oleh siapa yang mau membeli, melainkan oleh siapa yang mereka pilih untuk dilayani. Sorotan telah datang, dan bersamanya beban yang dulu pasti menggilas mereka. Tapi kali ini, kampung tahu cara berdiri di bawah sorotan tanpa membakar diri sendiri.