Bagas Wirasena datang ke kampung pada pagi yang cerah, mengendarai mobil yang sama, tapi membawa wajah yang berbeda. Sekar melihatnya dari kolong, sedang membantu Bu Lastri menggulung benang, dan ia merasakan ketegangan yang sudah terbiasa setiap kali lelaki itu muncul. Tapi Bagas tidak buru-buru membuka map. Ia turun, mengamati kampung dengan tatapan yang lebih lama dari biasanya, dan saat Sekar menghampirinya, ia menunjuk kolong-kolong yang kini berderit.
"Dulu hanya tiga," kata Bagas. "Sekarang ada berapa? Tujuh, delapan? Saya dengar Anda bahkan memanggil pulang anak-anak muda dari pabrik kami."
"Bukan dari pabrik Anda," Sekar mengoreksi. "Dari pabrik mana pun yang merumahkan mereka."
Bagas tertawa kecil, mengangkat tangan tanda menyerah pada koreksi itu. "Saya tidak datang untuk berdebat. Saya datang karena saya membaca artikel itu, dan saya membaca pasar. Anda berhasil melakukan sesuatu yang saya kira tidak mungkin. Kain tangan Anda masuk pameran tekstil bergengsi. Orang mulai membicarakannya. Dan jujur saja, Sekar, itu mengubah perhitungan saya."
Mereka duduk di balai. Bu Ngatiyem, yang sedang menenun di sudut, sengaja tidak beranjak—ia ingin mendengar. Sekar menghargai itu. Sejak kasus celupan yang dipercepat, ia berjanji tak akan lagi membuat keputusan besar tanpa mata penenun tua mengawasinya.
"Saya tidak akan menawarkan lisensi lagi," kata Bagas, dan Sekar sedikit terkejut mendengarnya. "Saya tahu itu sudah mati di antara kita. Anda menolak tiga kali. Saya bukan orang yang membenturkan kepala ke tembok yang sama. Tawaran saya kali ini berbeda." Ia akhirnya membuka map, tapi pelan, seolah menunjukkan ia tidak menyembunyikan apa pun. "Saya menawarkan Rasaraya menjadi distributor resmi kain tangan kampung Anda."
Sekar tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kata-kata itu mengendap.
"Dengar dulu kelebihannya," lanjut Bagas, condong ke depan. "Anda punya kain yang luar biasa, tapi Anda tidak punya jalan untuk sampai ke pembeli. Anda jualan lewat ponsel, satu-dua kain ke pembeli pribadi, antre tiga bulan. Itu melelahkan dan kecil. Rasaraya punya jaringan toko di dua belas kota. Punya gerai di mal-mal kelas atas. Punya hubungan dengan butik dan perancang yang sudah terbangun bertahun-tahun. Bayangkan kain tujuh gunung Anda dipajang di gerai-gerai itu—bukan dicetak, bukan ditiru, kain tangan asli Anda, dengan label nama penenun Anda. Kami yang mengurus penjualannya. Anda tetap yang menenun. Motif tetap milik Anda. Mesin tidak menyentuhnya sama sekali."
Ia berhenti, membiarkan gambaran itu mengembang di benak Sekar. Dan Sekar harus mengakui, untuk sesaat, gambaran itu menggoda. Selama ini ia kewalahan bukan hanya menenun, tapi mengurus pengiriman, mengemas, menjawab pesan, menagih pembayaran. Bujang membantu, tapi mereka berdua sering kehabisan napas. Jaringan toko yang sudah jadi, yang tinggal mengisi, terdengar seperti jawaban atas masalah yang nyata.
"Kenapa Anda mau melakukan ini?" tanya Sekar hati-hati. "Anda dulu ingin motif ini untuk dicetak. Sekarang Anda mau menjual kain tangan yang justru saingan kain cetak Anda sendiri."
Bagas tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum itu terlihat sedikit lelah, sedikit jujur. "Karena kain cetak 'Sapta Giri' kami tidak laku sebagus yang saya kira. Murah, ya. Beredar, ya. Tapi tidak ada yang membicarakannya. Tidak ada wartawan yang menulis tentangnya. Sementara kain tangan Anda, yang harganya sepuluh kali lipat, masuk majalah. Saya pebisnis, Sekar. Saya mengikuti ke mana arah nilai bergerak. Dan saat ini, nilai bergerak ke arah keaslian. Saya lebih baik menjadi orang yang menjual keaslian Anda daripada bersaing melawannya dan kalah."
Kejujuran itu mengejutkan Sekar. Bukan kebaikan hati—Bagas tidak pernah berpura-pura ini soal kebaikan. Tapi perhitungan dingin yang akhirnya berpihak pada kampung, setidaknya di permukaan. Itu lebih berbahaya, dalam beberapa hal, daripada antagonis yang jelas. Tawaran yang masuk akal lebih sulit ditolak daripada tawaran yang jelas merampas.
Di sudut, derit tenun Bu Ngatiyem berhenti. Perempuan tua itu tidak berkata apa-apa, tapi Sekar merasakan tatapannya seperti peringatan.
"Saya butuh waktu memikirkannya," kata Sekar. "Dan saya harus membahasnya dengan koperasi. Keputusan ini bukan milik saya sendiri lagi."
"Koperasi," ulang Bagas, dan ada nada hormat yang tipis di suaranya, juga sesuatu yang lain—mungkin ia menyadari bahwa pihak yang dulu ia kira mudah ditekan kini punya struktur, punya banyak kepala, lebih sulit dibujuk dengan angka besar di depan satu orang. "Tentu. Pelajari syaratnya baik-baik. Saya menulis semuanya di situ. Tidak ada yang saya sembunyikan."
Sekar mengambil map biru itu—warna yang sama dengan map lisensi dulu, ia memperhatikan, dan tak yakin apakah itu kebetulan. Ketika mobil Bagas menghilang di tikungan, Bu Ngatiyem berjalan menghampirinya, lap masih di tangan.
"Orang itu tidak pernah datang membawa hadiah," kata perempuan tua itu pelan. "Tiap kali dia datang, ada yang dia inginkan. Dulu motif kita. Sekarang dia tidak minta motif. Tapi dia tetap mau sesuatu."
"Saya tahu, Bu," jawab Sekar, menatap map di tangannya. "Saya cuma belum tahu apa."
Malam itu, ia tidak membaca map itu seperti dulu—dengan harapan. Ia membacanya seperti orang yang sudah pernah terjebak, mencari kalimat yang tersenyum di permukaan tapi menggigit di kedalaman. Dan ia tahu, sebelum ia membaca baris pertama, bahwa di suatu tempat di antara janji jaringan toko dan label nama penenun, ada satu klausul yang akan menentukan siapa sebenarnya yang memegang kemudi.