Surat elektronik itu datang melalui Pak Damar, diteruskan dengan satu baris catatan yang membuat jantung Sekar berdebar: Ini serius. Baca baik-baik. Jangan terburu menjawab. Pengirimnya seorang pembeli dari sebuah butik di luar negeri—seorang perempuan bernama yang sulit Sekar eja, pemilik ruang pamer tekstil etnik untuk perancang busana internasional. Ia melihat kain tujuh gunung di pameran kota besar, mendapat fotonya dari katalog Pak Damar, dan ia ingin memesan untuk sebuah koleksi mode yang akan ditampilkan di luar negeri.
Sekar membaca surat itu lima kali, menerjemahkannya pelan-pelan dengan bekal bahasa yang ia pelajari di butik dulu, dan tiap kali ia membacanya, dua perasaan bertarung di dadanya. Yang pertama adalah keterpukauan: kain dari kolong rumah panggung di lereng yang hampir dilupakan, akan melintasi lautan, masuk koleksi yang dilihat dunia. Mbah Sumirah, jika ia bisa mengerti, tak akan pernah membayangkannya. Tujuh gunung leluhur, di panggung yang bahkan tak punya nama di peta hafalan mereka.
Tapi perasaan kedua datang lebih lambat dan lebih dingin, ketika ia sampai pada paragraf di tengah surat. Pembeli itu memuji keindahan motif, kerumitan tenunan, kedalaman warna alam. Lalu ia menulis, dengan sopan tapi jelas: untuk pasar Barat, ia menyarankan beberapa penyesuaian. Warna tarum yang pekat itu, katanya, mungkin terlalu gelap untuk selera musim semi koleksinya; bisakah dibuat lebih cerah, lebih lembut, mungkin dengan tambahan warna pastel yang sedang tren? Dan motif tujuh gunungnya, meski indah, mungkin terlalu padat untuk mata pembeli Barat yang menyukai ruang kosong; bisakah jaraknya diperlebar, garisnya disederhanakan, agar terasa lebih modern, lebih minimalis?
Sekar meletakkan ponselnya dan menatap kolong rumah neneknya untuk waktu yang lama.
Ia tahu persis apa yang diminta. Bukan permintaan jahat. Bukan upaya merampas. Hanya pembeli yang membaca pasarnya sendiri, yang ingin kain ini laku di tempat asalnya. Dari sudut pandang dagang, masuk akal. Dan godaan untuk menurut begitu kuat—ini pesanan terbesar yang pernah datang, pintu ke pasar yang bahkan Bagas tak punya, jumlah yang bisa menggaji seluruh kampung berbulan-bulan. Satu kata 'ya', dan kampung naik kelas lagi, lebih tinggi dari sebelumnya.
Tapi ia teringat pada kain yang dulu dikembalikan ke mukanya. Ia teringat pada celupan yang ia percepat demi tenggat, dan bagaimana Bu Ngatiyem marah, dan bagaimana ia menjadi orang yang ia kritik. Ia teringat pada janji yang ia buat pada dirinya sendiri di balai, setelah kurasi kejam Pak Damar: bahwa mereka yang menentukan apa yang layak, bukan pembeli, bukan pasar.
Dan lebih dari segalanya, ia teringat pada apa arti warna tarum yang pekat dan kerapatan tujuh garis itu. Bukan keputusan estetika yang bisa ditawar. Tujuh celup bukan sekadar membuat warna gelap—itu yang membuat warna tahan, yang membuat tarum mengikat ke serat begitu dalam hingga tak luntur seumur kain. Mengurangi celupan demi warna cerah berarti membuat kain yang warnanya akan pudar dalam setahun. Dan kerapatan tujuh garis Wungkal hingga gunung terakhir bukan pilihan gaya. Itu makna. Itu tujuh gunung leluhur, jarak di antaranya ditentukan oleh hafalan yang diwariskan turun-temurun, bukan oleh selera musim semi pasar mana pun.
Ia membawa surat itu ke Bu Ngatiyem sore harinya, menerjemahkannya kalimat demi kalimat. Perempuan tua itu mendengarkan dalam diam, dan ketika Sekar selesai, ia tidak meledak seperti yang dulu. Ia hanya menatap kain tujuh gunung yang tergantung di dinding balai dan berkata, "Jadi mereka mau membeli kain kita, asal bukan kain kita."
Kalimat itu menusuk tepat. "Begitulah, Bu," jawab Sekar.
"Dan kau?" Bu Ngatiyem menoleh, matanya tajam, menguji. "Kau yang dulu bilang kita harus membaca selera pasar. Kau yang dulu mau mengubah warna dan ukuran supaya laku. Apa kau mau mengubahnya sekarang, untuk pasar yang jauh lebih besar dari yang dulu kau impikan?"
Sekar tahu pertanyaan itu bukan jebakan. Itu pertanyaan jujur dari perempuan yang sudah menyaksikannya tergoda, gagal, dan belajar. Dan ia menyadari, dengan kejernihan yang menenangkan, bahwa jawabannya sudah ada di dalam dirinya, ditempa oleh setiap kesalahan yang ia buat.
"Dulu aku mau mengubahnya karena aku pikir pasar selalu benar," kata Sekar pelan. "Aku pikir kalau kita tidak menyesuaikan diri, kita mati. Tapi aku salah, Bu. Pasar yang mengubah kita sampai kita tidak dikenali bukan menyelamatkan kita—ia menghapus kita pelan-pelan, sampai yang tersisa cuma nama tanpa isi. Aku sudah belajar itu dengan harga yang mahal." Ia menatap kain di dinding. "Kalau aku mengubah warna jadi pastel dan melebarkan garis tujuh gunung supaya laku di sana, maka aku menjual kain yang kelihatan seperti kita tapi sudah bukan kita. Itu sama saja dengan lisensi Bagas. Cuma kali ini, mesinnya adalah tanganku sendiri."
Bu Ngatiyem menatapnya lama, dan sesuatu di wajahnya melembut—bukan senyum, perempuan itu jarang tersenyum, tapi sebuah pengakuan. "Lalu kau akan menolak pesanan sebesar itu?"
Sekar menarik napas. Ia tahu konsekuensinya. Penenun muda akan kecewa lagi, seperti soal Rasaraya. Pasar luar negeri mungkin tertutup. Pak Damar mungkin kecewa. Tapi ia juga tahu bahwa ada batas yang, jika dilewati, membuat semua perjuangan ini kehilangan arti.
"Aku tidak akan menolak begitu saja," katanya akhirnya, sebuah gagasan mulai terbentuk. "Aku akan menjawabnya. Tapi tidak dengan 'ya' dan tidak dengan 'tidak'. Aku akan menjelaskan padanya kenapa warna ini gelap dan kenapa garis ini rapat. Aku akan menawarkan apa yang bisa kuubah—dan menjaga apa yang tidak boleh kusentuh. Kalau dia membeli kita karena kita, dia akan mengerti. Kalau dia cuma ingin kita yang kelihatan eksotis tapi tunduk pada seleranya, maka dia bukan pembeli yang kita cari, sebesar apa pun pesanannya."
Malam itu, Sekar duduk lama menyusun jawaban, kata demi kata, dengan dua bahasa yang ia kuasai—bahasa harga-tren-pasar yang ia pelajari di kota, dan bahasa lungsin-pakan yang ia warisi dari neneknya. Untuk pertama kalinya, ia merasa kedua bahasa itu tidak bertabrakan di dalam dirinya. Mereka bekerja sama. Dan ia tahu, saat menekan kirim, bahwa ia sedang mempertaruhkan pesanan terbesar dalam sejarah kampung pada sebuah keyakinan yang dulu ia tak punya: bahwa keaslian, jika dijelaskan dengan jujur, lebih kuat dari kompromi.