Jawaban dari pembeli luar negeri itu tidak datang dalam sehari, dan tiap jam menunggu terasa seperti menarik benang lungsin yang mungkin putus kapan saja. Sekar telah menulis dengan hati-hati, menjelaskan apa yang ia bisa dan tidak bisa. Ia menawarkan variasi pada hal-hal yang memang bukan inti: ukuran kain bisa disesuaikan untuk koleksi busana; ada motif pendamping di tepi yang bisa diatur lebih lapang; ia bahkan menawarkan satu seri kain dengan latar yang sedikit berbeda asal bukan tujuh gunungnya sendiri. Tapi pada dua hal, ia menulis dengan kejelasan yang ia harap tidak terdengar sombong: tujuh celup tidak bisa dikurangi, dan kerapatan tujuh garis tidak bisa digeser.
Ia menjelaskan alasannya bukan dengan istilah dagang, tapi dengan kebenaran. Tujuh celup, ia tulis, bukan untuk membuat warna gelap demi gaya. Itu yang membuat warna mengikat ke serat begitu dalam hingga kain bisa diwariskan dari nenek ke cucu tanpa pudar. Mengurangi celupan demi warna pastel akan menghasilkan kain yang cantik di musim pertama tapi pucat di musim kedua—dan kampung tidak menjual kain yang berumur satu musim. Mereka menjual kain yang dibuat untuk hidup lebih lama dari yang menenunnya.
Dan tujuh garis, ia tulis dengan lebih hati-hati lagi, bukan pola dekoratif. Itu tujuh gunung leluhur kampungnya: Wungkal, batu asahan, garis paling rapat, sang penjaga; Sela Putih, batu yang ada celahnya; Watu Gentong, gentong yang menampung air; Tangkeban, gunung yang melipat; Pawon, yang berasap seperti dapur; dan dua gunung lagi yang namanya hanya diwariskan lewat mulut. Jarak di antara garis-garis itu ditentukan oleh hafalan turun-temurun, bukan oleh selera pasar mana pun. Melebarkannya agar terlihat minimalis sama dengan memindahkan gunung dari tempatnya. Yang tersisa mungkin masih indah, ia tulis, tapi itu bukan lagi tujuh gunung. Itu hanya garis-garis yang kebetulan ada tujuh.
Ia menutup suratnya dengan kalimat yang ia tulis ulang berkali-kali: Saya tidak menulis ini untuk menolak Anda. Saya menulisnya supaya Anda tahu apa yang Anda beli. Kalau yang Anda cari adalah kain yang menyesuaikan diri dengan selera Anda, ada banyak pabrik yang bisa membuatnya, lebih cepat dan lebih murah dari kami. Tapi kalau yang Anda cari adalah kain yang membawa gunung-gunung sungguhan dari sebuah kampung yang menolak mati, maka inilah kami, apa adanya. Kami hanya bisa menjual yang kami sendiri yakini layak.
Dua hari kemudian, jawaban itu datang, dan Sekar membacanya dengan tangan gemetar.
Pembeli itu menulis—dan Sekar harus membacanya tiga kali untuk yakin ia tak salah terjemah—bahwa dalam belasan tahun ia mencari tekstil untuk koleksi, jarang ada penenun yang berani menolak permintaannya. Kebanyakan, ia tulis, akan menjawab 'ya' pada apa pun demi pesanan, dan justru itu yang membuat tekstil mereka kehilangan jiwa di tangannya. Kain yang menyesuaikan diri dengan semua selera akhirnya tidak punya selera sendiri. Tapi kain yang punya garis yang tak boleh digeser—itu, tulisnya, adalah kain yang dicari kolektor sungguhan. Bukan karena ia eksotis. Karena ia punya pendirian.
Ia menerima syarat Sekar. Tujuh celup tetap tujuh celup. Tujuh garis tetap pada jaraknya. Ia akan mengambil kain apa adanya, warna tarum yang pekat dan semua, dan ia akan menjualnya dengan cerita itu—cerita tentang kampung yang menolak memindahkan gunungnya. Penyesuaian hanya pada hal yang Sekar sendiri tawarkan, ukuran dan tepi, hal-hal yang bukan inti.
Sekar duduk diam di balai untuk waktu yang lama setelah membaca itu, dan ketika ia akhirnya bisa bergerak, ia berjalan ke kolong tempat Bu Ngatiyem menenun dan menunjukkan surat itu, menerjemahkannya kalimat demi kalimat. Perempuan tua itu mendengarkan, dan saat Sekar sampai pada bagian tentang kain yang punya pendirian, tangan Bu Ngatiyem berhenti di teropong.
"Jadi," katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar di atas derit yang berhenti, "dia membeli kita justru karena kita tidak mau berubah."
"Iya, Bu," jawab Sekar. "Persis karena itu."
Bu Ngatiyem menatap kain di alat tenunnya, garis-garis tujuh gunung yang separuh jadi, dan untuk waktu yang lama ia tidak berkata apa-apa. Lalu, sesuatu yang jarang terjadi—matanya basah. Bukan tangis terbuka, perempuan tua itu terlalu keras untuk itu. Hanya kilau yang ia kedipkan cepat. "Sepanjang hidupku," katanya, "aku menjaga pakem ini karena leluhur menyuruh. Aku tidak pernah tahu apakah itu berguna atau aku cuma keras kepala. Anak-anak muda bilang aku kuno. Pasar bilang aku tidak realistis. Dan sekarang ada orang dari seberang lautan yang membeli kain kita justru karena kita tidak mau menggeser garis ini." Ia menggeleng pelan, seperti tak bisa mempercayainya. "Ternyata keras kepala itu ada gunanya."
Sekar tersenyum. "Bukan keras kepala, Bu. Pendirian. Ada bedanya, ternyata. Yang satu menolak berubah karena takut. Yang satu menjaga inti karena tahu apa yang dijaga."
Dan di sanalah, di kolong yang berderit, Sekar memahami pelajaran terakhir yang ia butuhkan tentang pasar—pelajaran yang membalik segala yang ia kira benar saat pertama pulang. Dulu ia mengira menyelamatkan kampung berarti membengkokkannya pada selera dunia. Sekarang ia tahu yang sebaliknya: dunia yang sungguh menghargai tangan juga menghargai batas yang tak boleh dilanggar. Pembeli yang ingin kau geser garismu tidak pernah benar-benar menginginkanmu; ia menginginkan dirinya sendiri, yang kebetulan kau buatkan. Tapi pembeli yang menerima garismu apa adanya—itulah yang membuat kain ini layak menyeberangi lautan. Bukan dengan menjadi yang lain. Dengan menjadi, sepenuhnya, dirinya sendiri.