Kampung berubah dalam minggu-minggu menjelang panggung. Bukan berubah panik—mereka sudah belajar dari kegagalan pesanan besar dulu bahwa panik adalah awal dari memotong jalan—melainkan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam: seluruh kolong bekerja menuju satu tujuan bersama, tua dan muda, dengan tempo yang dijaga ketat agar tidak ada satu celup pun yang dikurangi demi kecepatan.
Sekar memutuskan koleksi puncak itu akan terdiri dari hanya tujuh kain. Tujuh, untuk tujuh gunung. "Lebih sedikit dari yang panitia harap," Bujang memperingatkan. "Mereka minta minimal sepuluh."
"Tujuh yang sempurna lebih kuat dari sepuluh yang tergesa," jawab Sekar. "Kita sudah pernah mencoba mengejar jumlah. Kita tahu akhirnya. Kali ini kita kejar kedalaman."
Pembagian kerja itu sendiri menjadi perwujudan dari semua yang telah kampung pelajari. Bu Ngatiyem dan Bu Lastri memegang ikat—tangan tua yang tahu mengikat tujuh gunung dari hafalan, yang jari-jarinya hafal jarak antar garis tanpa perlu mengukur. Mereka bekerja pelan, mata menyipit, kadang membongkar simpul yang menurut mereka semili meleset dari yang seharusnya. Warni dan Yanti memegang celup—tangan muda yang sudah dilatih ulang dari kecepatan mesin ke kesabaran tarum, kini cukup matang untuk menjaga tujuh celup tanpa tergoda mempercepat. Nimas, yang paling muda, mengurus benang dan penjemuran, belajar dengan mata terbuka lebar. Dan Sekar sendiri memegang tenun untuk dua kain inti—dengan tangan yang dulu hampir lupa, kini pulih, kini pantas memegang motif yang ia jaga.
Di suatu subuh, ketika mereka mencelup gunung pertama dari kain inti, Bu Ngatiyem berhenti dan memandang ke arah tujuh gunung sungguhan di kejauhan, yang puncaknya mulai terkena cahaya pertama. "Kamu tahu kenapa tujuh celup?" tanyanya pada Warni, yang sedang mengaduk tarum.
Warni menggeleng. Ia tahu caranya, tapi belum tahu alasannya—itu pengetahuan yang dulu hanya disimpan di kepala Mbah Sumirah.
Bu Ngatiyem mencelupkan benang, mengangkatnya, menjemurnya sebentar, mencelup lagi. "Sekali celup, warnanya muda, cepat pudar. Dua, tiga celup, mulai dalam. Orang yang tidak sabar berhenti di situ—sudah cukup biru, sudah laku. Tapi yang tujuh kali—" ia mengangkat benang yang sudah dicelup beberapa kali, dan di bawah cahaya subuh, biru itu memang berbeda, lebih dalam, seperti memiliki gelap di dalam terangnya, "—yang tujuh kali ini tidak akan pudar seumur hidupnya. Cucumu masih bisa lihat birunya. Tujuh celup itu bukan supaya cantik. Tujuh celup itu supaya abadi. Supaya kain ini lebih panjang umurnya dari yang menenunnya."
Warni berhenti mengaduk, menatap benang itu. "Jadi tiap garis tujuh gunung—"
"Tujuh garis, tujuh gunung leluhur," sambung Bu Ngatiyem. "Tujuh celup, supaya tujuh gunung itu tidak pudar dari ingatan. Yang satu untuk mata, yang satu untuk ingatan. Sumirah dulu bilang, motif yang gampang dibuat gampang dilupakan. Yang susah, yang butuh tujuh kali sabar, itu yang orang ingat. Itu kenapa kita tidak boleh mempercepatnya. Bukan karena pakem itu mati dan kaku. Tapi karena yang cepat itu mati cepat juga."
Sekar, yang mendengar dari kolong sebelah, merasa sesuatu mengencang di dadanya. Inilah yang dulu ia perjuangkan tanpa benar-benar tahu alasannya—dan kini, di hadapan generasi muda, alasan itu akhirnya disampaikan dari mulut ke mulut seperti semestinya, bukan dari kertas dingin. Tujuh gunung tidak hanya diwariskan dalam pola. Ia diwariskan dalam alasan. Dan kali ini, alasan itu tidak akan mati bersama satu perempuan tua, karena ada Warni, Nimas, dan tangan-tangan muda lain yang mendengar.
Koleksi tumbuh perlahan di bawah tangan banyak orang. Ada momen ketika Warni, dengan kecepatan terlatihnya, menyarankan cara menjemur celupan agar lebih efisien tanpa mengurangi jumlah celup—sebuah perbaikan yang lahir dari pertemuan tempo lama dan tempo baru. Bu Ngatiyem awalnya curiga, lalu mencobanya, lalu mengakui itu berhasil. "Kamu boleh mempercepat caranya," katanya pada Warni, "asal jangan kurangi jumlahnya." Dan dalam kalimat itu, Sekar mendengar seluruh filosofi jalan ketiga terangkum: tradisi tidak harus beku, tapi intinya tidak boleh tergeser.
Dalam kerja bersama itu, Sekar juga menyatukan matanya sendiri—mata yang empat tahun dilatih butik kota untuk membaca selera panggung. Ia memilih komposisi warna yang akan menonjol di bawah lampu peragaan, mengatur lebar kain agar pas dijahit jadi busana yang bergerak, menimbang elemen mana yang boleh divariasikan—warna latar, lebar tepi—dan elemen mana yang tidak boleh disentuh sama sekali: kerapatan tujuh garis dan tujuh celup, jantung yang sakral. Ia menggabungkan kesabaran Bu Ngatiyem, kecepatan Warni, dan matanya sendiri menjadi satu kesatuan yang tidak pernah ada di kampung sebelumnya.
Ketika kain inti pertama selesai—tujuh gunung penuh, biru yang dalam, garis yang rapat dan tegas, ditenun oleh tangan Sekar sendiri—mereka membentangkannya di balai dan berdiri mengelilinginya dalam diam. Bu Ngatiyem meraba tepinya, lama, dengan jari yang sama yang dulu meraba kain pertama Mbah Sumirah. "Sumirah akan suka ini," katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Ini kain yang dia ajarkan. Bukan kain pabrik yang mengaku-aku. Ini tujuh gunung yang benar."
Sekar memandang kain itu dan untuk pertama kalinya membiarkan dirinya percaya bahwa mereka layak naik panggung—bukan sebagai keingintahuan etnik, bukan sebagai suvenir kampung yang dikasihani, melainkan sebagai karya yang berdiri di atas kakinya sendiri. Tujuh kain, tujuh gunung, tujuh celup, banyak tangan, satu nama yang ditulis pertama di tiap label. Karya puncak yang lahir bukan dari pengkhianatan pada akar, tapi justru dari menggali akar itu sedalam-dalamnya.