Hujan datang sepuluh hari sebelum tenggat, dan tidak mau pergi. Bukan hujan biasa lereng pegunungan yang turun sore lalu reda—ini hujan panjang yang menggantung berhari-hari, mendung tebal yang menutup matahari, udara lembap yang membuat benang celupan tak mau kering. Dan tanpa kering, tujuh celup tak bisa dilanjutkan, karena tiap celup butuh benang yang dijemur dahulu sebelum dicelup lagi.
Sekar berdiri di beranda memandang langit kelabu, dan untuk sesaat seluruh tubuhnya dialiri ingatan buruk. Inilah, persis, yang menghancurkan mereka dulu—pesanan besar, cuaca buruk, penjemuran molor, dan ketika tenggat menjepit, ia diam-diam menyetujui mengurangi celupan demi mengejar waktu. Kain itu dikembalikan. Reputasi tercoreng. Bu Ngatiyem marah besar. Dan kini, di ambang panggung paling penting dalam hidup kampung, langit memberinya cobaan yang sama persis.
Bujang yang pertama menyuarakan godaan itu, meski ia sendiri tampak malu mengucapkannya. "Mbak, kalau hujan tidak berhenti tiga hari ini, kita tidak akan selesai tujuh kain. Mungkin... mungkin untuk yang dua kain terakhir, kita bisa—" ia berhenti, tak sanggup menyelesaikannya.
"Kurangi celupnya," Sekar menyelesaikan untuknya, datar. "Dari tujuh jadi lima. Tidak akan kelihatan di bawah lampu panggung. Itu yang mau kamu bilang."
Bujang menunduk. "Tidak ada yang akan tahu, Mbak. Bahkan pembeli paling ahli pun tidak bisa hitung jumlah celup cuma dari melihat. Dan kalau kita datang dengan lima kain saja, panitia akan kecewa, kesempatan ini—"
"Aku akan tahu," potong Bu Ngatiyem dari ambang pintu. Suaranya tidak marah—itu yang membuatnya lebih tajam. "Sekar akan tahu. Warni akan tahu. Dan dalam dua puluh tahun, ketika kain itu dipajang di museum sebagai kain yang membawa Watu Lawang ke panggung dunia, kita semua akan tahu bahwa dua dari tujuh itu bohong. Kita akan membawa kebohongan ke panggung yang paling terang. Itu lebih buruk dari gagal, Jang. Gagal jujur masih bisa dibangun ulang. Bohong di puncak, itu meracuni semuanya."
Ruangan diam. Sekar memandang dua orang itu—Bujang yang pragmatis, Bu Ngatiyem yang menjaga—dan ia menyadari bahwa keputusan ini ada di tangannya sebagai pemegang motif. Tiga tahun lalu, dalam tekanan yang sama, ia memilih jalan Bujang dan hancur. Kini ia tahu apa yang harus ia pilih, dan ia tahu juga bahwa mengetahui yang benar tidak membuatnya lebih mudah—karena yang benar berarti mengecewakan panitia, mengecilkan koleksi, mungkin kehilangan momentum yang tak akan datang dua kali.
Ia menarik napas. "Kita tidak akan mengurangi satu celup pun," katanya. "Tapi kita juga tidak akan memaksakan tujuh kain. Kita bawa berapa pun yang selesai dengan pakem utuh. Kalau cuma lima yang jadi, kita bawa lima. Kalau cuma empat, empat. Lebih baik kita berdiri di panggung itu dengan empat kain yang benar daripada tujuh kain yang setengahnya berbohong tentang siapa kita."
Bujang mengangkat wajahnya. "Tapi panitia—"
"Aku akan bicara dengan panitia," kata Sekar. "Aku akan jujur pada mereka. Aku akan bilang: cuaca tidak mengizinkan kami menyelesaikan tujuh, dan kami menolak memalsukan sisanya, jadi kami bawa yang benar saja. Kalau mereka menghargai kain tangan, mereka akan paham kenapa kain tangan tergantung pada matahari. Itu justru cerita yang mereka cari—bahwa kain ini begitu jujur sampai langit pun ikut menentukan. Mesin tidak peduli hujan. Tangan peduli. Itu bukan kelemahan kita. Itu bukti kita nyata."
Dan inilah yang membedakan kampung sekarang dari kampung tiga tahun lalu: mereka menghadapi cuaca buruk bukan dengan panik dan memotong jalan, melainkan dengan dewasa—mengatur ulang, menerima koleksi lebih kecil, menjaga inti. Mereka memindahkan penjemuran ke kolong-kolong dengan tungku, mengeringkan benang perlahan dengan asap dan panas yang dijaga agar tidak merusak warna. Mereka bekerja bergiliran siang malam, tapi tidak mengejar yang mustahil. Warni mengusulkan memprioritaskan kain inti—dua kain tujuh gunung penuh yang menjadi jantung koleksi—agar setidaknya yang terpenting pasti jadi sempurna, sisanya menyusul sesuai yang cuaca izinkan.
Hujan baru reda lima hari kemudian. Ketika matahari akhirnya menembus mendung, seluruh kampung membawa benang ke halaman, menjemurnya di bawah cahaya yang sudah terlalu lama hilang, dan untuk beberapa jam tujuh gunung yang separuh jadi itu berjajar di tali jemuran seperti bendera. Mereka berhasil menyelamatkan enam dari tujuh kain dengan pakem utuh. Kain ketujuh tidak selesai tepat waktu, dan Sekar memutuskan untuk tidak memaksakannya—kain itu akan diselesaikan setelah panggung, dengan tempo yang benar, tanpa tekanan.
Malam sebelum keberangkatan, Sekar menelepon panitia dan menjelaskan: enam kain, bukan tujuh, dan ini alasannya. Ia menahan napas menunggu jawaban, setengah menyangka mereka akan kecewa. Tapi penyelenggara di seberang justru terdiam, lalu berkata pelan, "Mbak, dalam dua belas tahun saya menyelenggarakan ini, baru kali ini ada peserta yang menelepon untuk mengabari mereka membawa lebih sedikit karena menolak memalsukan. Itu... itu justru yang ingin saya pamerkan ke dunia. Bawa enam kain Mbak. Tapi izinkan saya ceritakan kenapa cuma enam. Cerita itu lebih berharga dari kain ketujuh."
Sekar menutup telepon dengan tangan gemetar. Bu Ngatiyem menatapnya dari seberang ruangan. "Bagaimana?" tanya perempuan tua itu.
"Mereka mau enam," kata Sekar. "Dan mereka mau cerita hujannya."
Bu Ngatiyem mengangguk, dan untuk pertama kalinya sejak Sekar mengenalnya, perempuan tua penjaga pakem itu tersenyum lebar—senyum orang yang seumur hidup menolak kota, kini melihat kota datang menjemput kejujuran yang ia jaga mati-matian. "Bagus," katanya. "Kalau begitu kita berangkat dengan kepala tegak. Enam kain yang benar. Tidak ada yang perlu kita sembunyikan di sana."