Anak-anak muda itu duduk melingkar di balai, sepuluh orang dari berbagai kampung—beberapa dari Watu Lawang sendiri, beberapa dari Ngrancah yang dititipkan Mbah Painem, beberapa dari kampung-kampung tenun lain yang Sekar temui dalam perjalanan mengumpulkan saksi dulu, yang kini mengirim anak mudanya belajar di sekolah tenun Watu Lawang. Mereka sudah belajar mengikat motif sederhana berbulan-bulan, sudah belajar mencelup di bawah Bu Lastri, sudah merasakan tangan mereka membiru. Dan hari ini, Sekar memutuskan, adalah waktunya mengajarkan yang paling dalam: nama tujuh gunung.
Ia duduk di tengah lingkaran, di samping kain tujuh gunung yang dibentangkan di lantai papan. Bu Ngatiyem duduk di sebelahnya, dan Warni di sisi lain—tiga generasi pemegang pengetahuan ini, hadir bersama. Sekar memandang wajah-wajah muda itu, dan ia merasakan beratnya momen ini dengan cara yang membuatnya hampir gentar.
Karena ia ingat bagaimana dulu pengetahuan ini hampir mati. Ia ingat hari-hari pertama pulang, ketika ia menyadari bahwa nama dan makna tujuh gunung hanya ada di kepala tiga perempuan tua—Mbah Sumirah, Bu Ngatiyem, dan satu lagi yang sudah wafat—dan kalau mereka pergi tanpa mewariskannya, tujuh gunung akan tinggal pola garis tanpa makna, kain tanpa jiwa, motif yang bisa ditiru bentuknya tapi tak ada lagi yang tahu mengapa tujuh, mengapa rapat, mengapa garis itu di sana. Ia ingat ngeri yang dingin itu: bahwa sebuah pengetahuan tujuh generasi bisa lenyap dalam satu napas terakhir seorang perempuan tua.
"Hari ini," kata Sekar, suaranya pelan tapi jelas, "saya akan ajarkan nama tujuh gunung. Bukan cuma cara ngikatnya—itu udah kalian pelajari. Tapi namanya. Maknanya. Kenapa tujuh. Ini yang dulu cuma diwarisin dari mulut ke mulut, dari nenek ke cucu, nggak pernah ditulis, nggak pernah diajarin rame-rame kayak gini. Ini pertama kalinya diajarin ke banyak tangan sekaligus."
Ia melihat Bu Ngatiyem dari sudut matanya, mencari tanda keberatan. Dulu, perempuan tua itu akan menentang keras—pengetahuan ini terlalu sakral untuk dibagi rame-rame, terlalu rahasia untuk diajarkan ke anak dari kampung lain. Tapi Bu Ngatiyem hanya mengangguk pelan, memberi restu, dan Sekar paham betapa jauh mereka semua telah berubah.
Sekar mulai. Ia menunjuk garis pertama pada kain, dan menyebut nama gunung pertama, dan ceritanya—mengapa garis itu paling tebal, apa yang diwakilinya dalam ingatan leluhur. Lalu garis kedua, ketiga, sampai ketujuh. Ia bercerita seperti Mbah Sumirah dulu bercerita padanya, dengan kalimat yang sama, intonasi yang sama, jeda di tempat yang sama—karena begitulah pengetahuan ini diwariskan, bukan sebagai daftar yang dihafal, tapi sebagai cerita yang dialami. Anak-anak muda itu mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka, dan Sekar tahu mereka sedang menerima sesuatu yang lebih berat dari yang mereka sadari.
Ketika ia selesai, salah satu anak muda dari Ngrancah—gadis bernama Lik, cucu Mbah Painem—mengangkat tangan ragu. "Mbak Sekar," katanya, "kalau ini dulu rahasia, cuma diwarisin ke cucu sendiri... kenapa sekarang diajarin ke kami? Saya bukan dari Watu Lawang. Saya bukan keturunan yang punya tujuh gunung. Apa nggak... apa nggak ilang kesakralannya kalau diajarin ke orang luar kayak saya?"
Sekar menatap gadis itu, dan ia menyadari pertanyaan itu adalah pertanyaan yang ia sendiri pernah takutkan—pertanyaan yang sama yang dulu membuat Bu Ngatiyem menentang menuliskan motif, yang membuat para penjaga tradisi mati-matian menjaga pakem dari sentuhan luar. Apakah mewariskan sama dengan kehilangan? Apakah membuka pengetahuan ini ke banyak tangan berarti mengencerkannya sampai hilang?
"Lik," kata Sekar, dan ia menjawab dengan kejernihan yang ia butuhkan bertahun-tahun untuk dapatkan, "saya dulu juga takut sama pertanyaan itu. Saya takut kalau saya ajarin tujuh gunung ke banyak orang, dia jadi nggak istimewa lagi, jadi murahan, jadi ilang sakralnya. Sama kayak Bu Ngatiyem dulu takut nulis motif sama dengan ngebuka pagar." Ia berhenti. "Tapi saya belajar sesuatu yang penting. Yang bikin warisan ilang bukan karena diwarisin ke banyak orang. Yang bikin warisan ilang justru karena disimpan terlalu rapat sampai nggak ada yang sempat mewarisinya."
Ia mengambil ujung kain tujuh gunung, mengangkatnya. "Mbah Sumirah hampir mati bawa pengetahuan ini ke kubur. Bukan karena dia pelit. Tapi karena nggak ada anak muda yang mau belajar, semua kabur ke pabrik, dan dia kira pakem ini terlalu sakral buat dipaksa-paksain. Kalau saya nggak pulang, kalau Warni nggak balik, kalau kalian nggak datang belajar—tujuh gunung mati bukan karena dicuri pabrik. Mati karena nggak ada yang nerusin. Disimpan terlalu aman sampai membusuk di dalam kepala yang nggak sempat mindahin."
Sekar menatap Lik, lalu seluruh lingkaran. "Menjaga warisan itu bukan ngebekuin dia, nyimpen dia di kotak, nggak boleh disentuh. Itu cara paling cepat ngebunuh dia. Menjaga warisan itu artinya bikin dia cukup hidup buat diwarisin terus—ke banyak tangan, supaya kalau satu tangan berhenti, masih ada tangan lain. Kamu bukan dari Watu Lawang, Lik. Tapi waktu kamu ngikat tujuh gunung dengan tangan kamu, dengan ngerti namanya, dengan ngehormatin maknanya—kamu jadi penjaga juga. Sakralnya nggak ilang karena kamu pegang. Sakralnya justru jadi lebih aman, karena sekarang ada satu tangan lagi yang jaga."
Lik menunduk, dan ketika ia mengangkat wajahnya, matanya basah. Bu Ngatiyem, di samping Sekar, mengangguk pelan, dan untuk sesaat Sekar melihat di wajah perempuan tua itu kedamaian yang dulu tak pernah ada—kedamaian seseorang yang akhirnya percaya bahwa yang ia jaga seumur hidup tidak akan mati bersamanya.
Sekar memandang sepuluh wajah muda yang melingkarinya, sepuluh pasang tangan yang kini menyimpan nama tujuh gunung, dan untuk pertama kalinya pertanyaan yang membelahnya sejak hari pertama pulang terjawab tuntas, tanpa sisa keraguan. Bisakah warisan naik kelas tanpa kehilangan jiwanya? Bisa. Dan siapa yang berhak memutuskan masa depan sehelai kain? Bukan helikopter, bukan map tebal, bukan kertas negara, bukan bahkan dia sendiri. Tangan-tangan yang menghidupinya. Tangan tua Bu Ngatiyem, tangan Warni yang sudah matang, tangan Sekar yang dulu lupa lalu ingat, dan kini—sepuluh tangan muda dari berbagai kampung, yang akan mewariskannya lagi ke sepuluh tangan berikutnya, dan seterusnya, selama masih ada subuh, masih ada benang, masih ada derit. Warisan tidak dijaga dengan dibekukan. Warisan dijaga dengan diwariskan.