Garvi sampai di ruangan Ganendra dengan membawa makanan, melihat semua sedang mengobrol-ngobrol asik dalam hatinya merasa bersyukur suasana menjadi sedikit tenang meskipun tak bisa di bohongin Aura kesedihan masih menyelimuti ruangan Ganendra.
“Makanan dateng ...!” sorak Garvi.
“Wah waktunya makan!” sambut Kayra.
“Mari makan!” sambung Manendra.
“Yaudah kita makan yuk! Tapi Aurora kemana Vi?” kata Carissa.
“Oh Aurora lagi ke toilet tadi!” jawab Garvi.
“Yaudah hayo kita makan!” ucap Garvi lagi.
Semuanya makan dengan perasaannya masing-masing, di tengah-tengah waktu makan mereka Aurora datang membuka pintu dan kembali dengan wajah fressnya.
“Assalamualaikum!” ucap Aurora sambil tersenyum manis.
“Walaikumsalam!” jawab Garvi, Carissa, Manendra dan Kayra serentak.
“Wah lagi pada makan!” tutur Aurora.
“Kok lu ga makan Vi?” tanya Aurora.
“Makan lah sana lu! Oh Iya habis ini kalo lu mau pulang-pulang aja dulu! Ganti baju! Bebersih dulu! Cape kan lu!” ucap Aurora.
“Gua masih kenyang! Ais jadi ceritanya gua kena usir nih!” canda Garvi.
“Kenyang makanan apan! Perasaan tadi ga makan apa-apa lu! Ih lu mah fikirannya gitu! Liat tuh mih, mom, kan Aurora maksudnya baik! Nyuruh dia istirahat dulu! Malah isi kepala dia kayak gitu tuh!” keluh Aurora manja kepada Carissa dan Kayra.
Carissa, Kayra dan Manendra tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya yang masih saja seperti anak berumur 5 tahun yang jika di ledek mengadu.
“Hehehehe!” tawa mereka bersamaan.
“Ih kalian mah! Malahan ketawa! Belain Aurora kek!” keluh Aurora lagi.
“Aurora bener kan mom! Aurora mau Garvi istirahat dulu kan Garvi pasti cape! Tapi dia malah salah arti tuh!” ucap Aurora dengan ekspresi memonyongkan bibirnya.
Garvi yang melihat tingkah lucu Aurora hanya bisa tertawa saja sambil mengiyakan ucapan Aurora.
“Iya iya lu ga ngusir gua! Gua yang salah paham! Puas lu!” ucap Garvi.
“Tuh kan lu mah ga ihklas! Ah gamau lunya ga ihklas! Dah lah gua mah males sama lu!” bantah Aurora.
“Tuh kan mom, mih, pih liat coba Garvi tuh harus gimana coba salah aja sama Aurora mah!” ucap Garvi.
“Aduh kalian ini ada-ada yaudah berantem terus!” gumam Manendra sambil tersenyum.
“Yaudah yaudah damai! Serius nih serius!” ucap Garvi.
“Yaudah gua balik dulu ya! Nanti gua kesini lagi! Kalo udah mandi lu mau di bawain apa!” sambung Garvi .
“Hmm ... bawain baju aja deh! Yaudah ati-ati ya!” tutur Aurora.
Garvi menyalami Carissa, Kayra, Manendra dan Aurora,
“Yaudah aku pergi dulu ya sayang!” pamit Garvi sambil mencium kening Aurora.
“Iya ati-ati!” sakit Aurora.
Setelah Garvi pamit tidak lama kemudian Manendra dan Kayra juga pamit.
“Kalo gitu gua juga pamit dulu ya Carissa!” ucap Kayra.
“Iya ini mau ada perlu juga nih! Ya nanti kabarin aja kalo ada apa-apa?” sambung Manendra.
“Iya udah gapapa santai aja! Gua disini juga di temenin sama Aurora, dan Garvi kok!” cakap Carissa menengkan.
“Yaudah assalamualaikum!” kata Kayra.
“Walaikumsalam ati-ati!” jawab Carissa dan Aurora.
Setelah mereka semua pamit Carissa meresahkan dirinya di sofa dan Aurora yang duduk di sofa setelahnya, sampai pada akhirnya Aurora dan Carissa tertidur karena sedih.
~Place Garvi ~
Garvi sudah sampai di rumah Aurora, Setelah sampai Garvi meletakan barang-barangnya terlebih dahulu di bantu oleh bibi di rumahnya, barang-barang sudah di letakan di kamar, Garvi meluruskan pinggangnya terlebih dahulu sebelum akhirnya mandi.
Kini Garvi sudah berada di dalam bak mandi, Garvi mandi sambil melalui memikirkan tentang Aurora dan bagaimana kehidupan pernikahannya kedepannya di tambah lagi mertuanya yang sedang sakit parah, belum pekerjaannya yang sangat penumpukan dan juga caffenya yang sudah lama tidak di kontrol.
Garvi memutuskan untuk bergegas menyelesaikan mandinya kemudian, bersiap-siap untuk ke caffenya dan mempersiapkan baju untuk Aurora pakai, Aurora pasti mau mandi dan berganti baju juga, kalo kesana telat bisa kena amuk gua.
“Bi tolong siapin baju Aurora ya mau saya bawa!” perintah Garvi kepada bibi.
“Oh iya siap tuan! Berapa yang mau di bawa tuan?” tanya bibi memastikan.
“1 aja dulu deh!” kata Garvi.
Setelah semua sudah selesai, Garvi sudah rapih dan fress wajahnya sudah sumringah meskipun rasa lelah masih menyelimuti badan Garvi.
“Yaudah bi saya berangkat dulu! Kunci rumah nanti malam jangan lupa bi! Barangkali saya ga pulang! Tapi kalo ga pulang kuncinya di lepas aja bi! Saya bawa kunci cadangan!” ucap Garvi.
Garvi pergi meluncur mengantarkan baju milik Aurora kemudian ke caffe miliknya rasanya sudah rindu juga tidak ke sana-sana selama beberapa hari terakhir.
~Place Devandra~
Devandra lagi menikmati kesendirannya di diskotik, Devandra pergi seorang diri dengan maksud untuk menghibur dirinya sendiri yang selalu sendiri, rasanya Devandra sangat kesepian tidak ada seseorang yang mengisi harinya, tidak juga ada seseorang yang membuatnya terburu-buru melakukan pekerjaannya hanya untuk bertemu dengan wanita itu, Devandra sangat merasa kesepian.
Namun memikirkan itu membuat Devandra teringat oleh sosok wanita yang selalu memprioritaskannya betapa jahatnya sikap Devandra kepada wanita itu kalo di fikirkan sekali lagi, dengan perasaan bersalah dan kondisi mabuk Devandra mengambil ponselnya dan mencari nama Lavina yang tertera di ponselnya kemudian menelfonnya.
“tut ... tut ...!” dering ponsel Lavina.
“Hallo!” gumam Lavina.
“Hallo!” jawab Devandra.
“Kenapa Dev!” ucap Lavina binggung.
“Aa iya kenapa ya gua nelfon lu!” ujar Devandra sambil melantur.
“Aa iya gimana kabar lu!” sambung Devandra.
“Aish lu kenapa! Tumben amat, biasa juga ga pernah nelfon gua!” gumam Lavina.
“Aa kenapa lu masih marah sama gua!” keluh Devandra.
“A gua ga bermaksud jahat sama lu, hanya saja entah Aurora lebih bearti daripada lu!” sosor Devandra.
“Tapi gua sayang juga kok sama lu, lu aja yang gamau ngerti perasaan gua!” sambung Devandra lagi.
Lavina yang mendengar ucapan menyakitkan yang keluar dari mulut Devandra benar-benar ga habis fikir oleh Devandra bagaimana bisa dia mengatakan ucapan yang di luar nalar Lavina, hatinya terasa sangat sakit mendengarnya tanpa Devandra katakan juga Lavina sudah tau, tapi apakah tidak bisa dia tidak mengatakan hal semenyakitkan seperti itu.
“Lu lagi mabok ya! Omongan lu ngelantur gini sih!” tuduh Lavina.
“Gua cuman mau minta maaf aja sama lu, kalo selama pacaran sikap gua selalu buruk sama lu! Gua ngerasa bersalah aja!” ucap Devandra lemas.
Setelah banyak berbicara melantur, Devandra terjatuh tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak minum alkohol, dan Lavina yang terus memanggil nama Devandra namun tidak juga ada jawaban akhirnya mematikan telfonnya.
“Dev ...!” panggil Lavina.
“Dev oy lu mabok!” panggil lagi Lavina.
“Uy Dev! Lu gapapa kan!” ujar Lavina khawatir.
“Devandra Dipta!” teriak Lavina.
“Tut!” suara Ponsel.
~Place Lavina~
Lavina yang sedang mengobrol bersama temannya di restoran niat hati untuk melepaskan penat justru malah membuat moodnya menjadi tambah hancur setelah mendengar omongan yang keluar dari mulut Devandra, Lavina tidak menyangka Devandra akan mengatakan perkataan yang sangat menyakitkan, dan sejujur itu.
Reno yang melihat ada perubahan ekspresi di wajah Lavina membuatnya merasa binggung harus melakukan apa, karena Reno takut membuat Lavina semakin marah, namun mendiamkannya begitu saja juga tidak enak membuat keadaan semakin canggung.
Setelah beberapa saat membiarkan keadaan seperti ini terus menerus akhirnya Reno memberanikan diri untuk memulai obrolan dan mencari kan suasana.
“Lavina are you oke!” tanya Reno.
“Oke kok oke!” ucap Lavina.
“Lu yakin!” ucap Reno.
“Yakin lah, emang kenapa?” tampik Lavina.
“Tapi kok gua ga yakin ya!” gumam Reno sambil menggelengkan kepala sambil menyapitkan mata.
“A gua gapapa jeh! Emang gua kenapa coba!” papar Lavina menutupi kesedihannya.
“Hmm yaudah kalo emang gamau cerita gapapa! Tapi lu gapapa kan beneran!” urai Reno.
“Iya gapapa lah! Santuy aja! Kita mau bahas apa nih! Gaenak banget haha ga ada pembahasan!” jawab Lavina.
“Iya bahas apa ya! Gua juga binggung, Hehe!” sahut reno.
“Oh iya lu gapapa kan! Ga keberatan gua ajak lu nongkrong!” sambung Reno.
“Ga lah! Gua juga kalo keberatan bakal gua tolak! Lagian gua juga gabut!” cakap Lavina.
“Ah yaudah makan dah lu! Jangan diem aja!” tawar Reno.
“Iya lu juga makan lah! Masa iya gua sendiri!” ajak Lavina sambil melirik Reno.
“Oh iya gua mah ya pasti makan, tenang aja lah!” jawab Reno.
Lavina dan reno melanjutkan pembicaraan mereka dan bersantai, namun di tempat lain ada Garvi yang baru datang dari rumah ke rumah sakit, ketika masuk melihat Aurora yang sudah menunggu Garvi dengan wajah lelahnya dan Carissa mamah mertuanya yang tertidur di sebelah kasur Ganendra sambil mengenggam tangannya.
“Assalamualaikum,” ucap Garvi.
“Walaikumsalam,” jawab Aurora.
“Lama ya sayang! Maaf ya! Jangan cemberut dong!” rayu Garvi sambil mencubit pipi Aurora.
“Ihh diem sih! Siapa juga yang marah!” gumam Aurora.
“Tapi cemburut aja sih, ga marah tuh!” sahut Garvi sambil memasang wajah tak percaya.
“Ya ga marah, tapi tuh cape aja!” keluh Aurora menghelakan nafas.
“uluh uluh istri aku lagi cape ya! Yaudah bilang bilang mau apa, nanti di beliin!” buruk Garvi.
“Gamau apa-apa! Orang cape jeh! Malah di ajak ngomong bae! Diem kek orang mah! Malah ngomong bae! Bikin tambah pusing tau!” omel Aurora.
“Ish ish ada aja ini orang ya! Ya kan bener nanya mau apa! Nanti di beliin! Mau coklat!” tawar Garvi.
“Ya gamau!” ketus Aurora sambil melibatkan tanganya.
“Yaudah mau di beliin apa sayangku! Laper kan! Kamu tuh penat hari ini tuh! Di tambah baru banget pulang! Ya pasti kamu cape! Yaudah aku beliin makan ya! Kamu mandi gih! Nanti habis makan kamu tidur oke istirahat!” perintah Garvi.
“Ah tau ah! Lu mah ga akan paham rasanya!” gerutu Aurora.
“Ih sayang kamu lho kenapa! Udah nih bajunya! Sekarang kamu mandi ya!” ucap Garvi sambil menyerahkan bajunya.
“Udah jangan di fikirin! Semua akan baik-baik aja! Aku yakin kamu bisa ngelewatin ini kok! Yaudah kamu ganti baju gih! Aku beli makan ya! Kita makan bareng!” usul Garvi.
“Hmm yaudah ganti baju dulu!” jawab Aurora sambil mengambil baju yang di berikan oleh Garvi.
Aurora berjalan ke kamar mandi untuk menganti baju dan Garvi berjalan keluar mencari makan, Garvi yang berniat untuk ke caffenya setelah mengantarkan baju Aurora mengurungkan niatnya karena melihat Aurora yang sepertinya butuh di temenin.
Garvi mencari makanan di sekitar rumah sakit, pergi ke kantin rumah sakit untuk melihat adakah makanan yang terlihat menarik dan bisa di belinya, sampai akhirnya Garvi menemukan KFC mini di sekitar rumah sakit, sepertinya Aurora senang makan ayam, Garvi membeli 2 buah paket ayam dan nasi kemudian membawanya Aurora.