Setelah selesai membeli makanan Garvi kembali ke dalam rumah sakit, melihat Aurora yang sudah selesai menganti pakaiannya dan duduk bersantai di sofa sambil mendengakaan kepalanya melihat lagit-lagit atap, tanpa fikir panjang Garvi langsung duduk di sampingnya membukan makanannya dan mengajaknya makan, Aurora hanya menurut saja tanpa banyak berbicara.
Mereka makan dengan sangat tidak bersemangat, rasanya makanan seenak apapun jika keadaanya seperti ini tidak akan ada rasanya, Aurora menyelesaikan makannya dengan cepat kemudian tidur karena rasanya Aurora sangat kelemahan.
“Makannya ga di habisin sih? Gaenak tah!” tanya Garvi.
“Ah gamau ngantuk! Cape mau tidur aja!” jawab Aurora.
“Hmm yaudah tidur deh! Kamu pasti cape banget! Belum pulang kerumah! Yaudah nanti besok pagi-pagi pulang aja! Beraih-bersih dulu!” usul Garvi.
“Iya nanti besok mah mau pulang! Kamu mau tidur disini juga atau balik?” tanya Aurora.
“Hmm disini juga gapapa sih! Tapi aku mau pergi dulu ya?” izin Garvi.
“Mau pergi kemana malem-malem gini?” ucap Aurora penasara.
“Mau ke caffe sebentar, mau ngantrol keadaan disana!” ujar Garvi.
“Halah udah malem, besok aja emang gabisa!” gumam Aurora.
“Ya besok kan ke kantor, sekarang ke caffe, dah cuman sebentar ga lama!” jelas Garvi.
“Iya tau sebentar juga tapi ini udah malam! Lagian besok pulang kerja kan bisa ya!” omel Aurora.
“Ya gapapa sih pengen aja, hehehe!” balas Garvi.
“Udah besok aja! Gausah ngadi-ngadi! Ini udah malam! Mending istirahat juga, lu baru dateng juga kan! Pake acara mau ke caffe segala!” perintah Aurora.
“Yah kok gitu sih! Tapi kan pengen!” renggek Garvi.
“Ga ada ga ada, udah istirahat juga! Lu tuh cape juga! Jangan nyari-nyari perkara! Nanti lu sakit aja! Siapa yang repot! Gua kan! Udah daddy sakit! Lu bertingkah lagi!” geram Aurora.
Garvi yang di omelin oleh Aurora dan tidak di bolehkan pergi ke caffe hanya bisa berpasrah menghela nafas dan menyadarkan tubuhnya di kursi seakan menunjukan perasaan terpaksanya.
“Kenapa ga seneng!” ucap Aurora sambil melirik ke atas ke bawah melihat gelagat tubuh Garvi.
“Aa .. ga kok! Orang biasa aja! Kenapa sih sensi banget! Dah sana tuh tidur! Katanya cape! Malah ngomel!” sindir Garvi.
“Ya ngomel lah, siapa juga yang ga ngomel liat tingkah lu kayak gini! Istri lagi pusing, cape, pas mau istirahat bukanya diem, anteng disini nemenin kek apa kek! Malah nambahin beban pikiran! Pake acara mau keluar malem-malem! Gimana mau istirahat kalo di bikin ga tenang gitu!” gerutu Aurora.
“Lah ya gatau ya! Lagian istirahat mah istirahat aja! Ngapain juta mikirin gua yang pergi!” bela Garvi.
“Lah ya mikirin lah! Biar gimana juta lu suami gua! Kalo ada apa-apa sama lu, lu pikir siapa yang repot!” murka Aurora.
“Yaudah lu mau pergi! Gih sono pergi-pergi jangan balik lagi!” sambung Aurora sambil menunjukan tangannya ke arah pintu.
“Gih sono! Dah serah lu aja! Mau ga balik-balik juga gapapa!” sambung Aurora lagi.
Carissa yang tertidur tidak sengaja mendengar suara Aurora yang nada suaranya terdengar seperti orang marah memelekan matanya dan berusaha untuk mengakurkan mereka berdua kembali.
“Ada apa sih nak? Kok marah-marah gitu!” ujar Carissa.
“Aa ga ada apa-apa kok mom! Biasa lah Aurora sama Garvi emang suka kayak gini!” jawab Aurora menutupi.
“Ah masa udah gausah bohong! Ada apan! Kenapa sih Garvi kamu suruh pergi!” cakap Carissa.
“Argh ... itu sih Garvi mom, udah malem gini malah mau keluar! Aurora udah bilang besok kan bisa kalo mau ke caffe! Malah ngeyel mau pergi ke sekarang!” dengan Aurora.
“Oh jadi gitu permasalahannya! Ya di omongin baik-baik dong sayang!” tutur Carissa.
“Noh kan lu puas! Lu yang ngeyel, gua yang kena!” cakap Aurora berisik kepada Garvi.
Garvi yang mendengar bisikan Aurora seperti sangat marah padanya hanya bisa menahan senyumnya tidak berani membalas ucapan Aurora, karena jika semakin di ladenin semakin marah Aurora.
Suasana mendadak menjadi sunyi, keadaan kembali mencengkam dan Aurora melihat gerakan tangan Ganendra seakan pertanda Ganendra akan segera sadar, Aurora yang senang melihat ini membuatnya bersemangat dan memberi tahu ibu dan suaminya dengan gembira kemudian memanggil dokter.
“Mom mom ... liat deh jari-jari daddy gerak mom!” ucap Aurora axited.
“Ah iya bener-bener cepet-cepet panggil dokter!” sahut Carissa.
Tanpa bertele-tele lagi Garvi langsung berlari cepat ke ruang dokter untuk memberitahu keadaan Ganendra sekarang, Garvi mencari kesana kemari karena sudah larut malam dokter yang jaga pun sedikit, setelah mencari kemana-mana akhirnya Garvi berhasil membawa dokter ke ruangan Ganendra.
Setelah dokter sampai teryata Ganendra sudah sadarkan diri, dan tentunya keadaan Ganendra di periksa oleh dokter untuk memastikan Ganendra benar-benar baik-baik saja setelah melewati masa kritisnya.
Carissa, Aurora dan Garvi yang melihat Ganendra di nyatakan bisa melewati masa kritisnya sangat bersyukur dan menghela nafas lega pertanda ke khawatirannya berhasil membaik, meskipun tetep akan merasa sangat terus khawatir akan keadaanya yang mendadak kritis.
“Keadaan bapak Ganendra sudah membaik sekarang, dia berhasil melewati masa kritisnya, namun kami akan terus mengontrol keadaanya, agar bisa terus membaik!” tutur Dokter.
“A makasih kalo gitu dok! Jadi lega!” jawab Carissa.
“Iya bu sama-sama, sekarang biarkan bapak Ganendra beristirahat dulu bu! Agar keadaanya benar-benar bisa pulih, jangan katakan suatu yang bisa membebani fikirannya buk!” usul Dokter.
“Baiklah dok!” sahut Carissa singkat.
Dokterpun keluar ruangan dan kembali berjaga, sedangkan Ganendra masih saja melihat Aurora,Garvi dan Carissa dengan tatapan seadanya, membuat Aurora binggung sebenernya apa yang di fikirkan oleh Ganendra.
“Daddy kok ngeliat kita sendiri gitu?!” kata Aurora.
“Emang ada yang salah sama kita? Atau gimana?” tanya Aurora lagi.
“Aa ga kok, daddy cuman bersyukur aja bisa ngeliat kalian lagi!” jawab Ganendra singkat.
“Ih daddy ngomong apan! Gitu banget!” gumam Aurora.
“Yaudah kalian istirahat lah! Daddy tau kalian belum istirahat kan dari tadi!” tebak Ganendra.
“Hmm iya udah daddy juga istirahat!” jawab Garvi.
Setelah berbicara sedikit banyak semua beristirahat, Carissa tidur di bangku sebelah ranjang Ganendra sedangkan Garvi dan Aurora di sofa, semua tampak akur dan baik-baik saja, Garvi juga merasa senang karena biasanya tidurnya berjauhan dengan Aurora namun sekarang bisa berdekatan.
Malam ini berlalu dengan sangat tenang, suasana malam ini juga terasa lebih nyaman saja di banding kemarin-kemarin, detikan jam terus berputar hingga akhirnya jam sudah menunjukan pukul 5 pagi, itu tandanya Aurora dan Garvi harus bergegas pulang kerumah untuk bersiap pergi ke kantor, melihat Carissa dan Ganendra masih terlelap di tidurnya membuat Aurora tidak tega untuk membangunkannya akhirnya Aurora pergi tanpa pamit.
“Garvi yaudah hayo kita pulang dulu!” ajak Aurora.
“Mau ke kantor kan!” sambung Aurora lagi.
“Iya yaudah yuk!” ucap Garvi mengiyakan.
“Yaudah nanti gua bawa mobil sendiri aja! Soalnya Mau ke sini dulu Pamitan sama daddy sama mommy! Sekarang mah lagi tidur!” ujar Aurora.
“Ah ya gapapa mau di anter kesini lagi juga! Gua juga kan harus pamit dulu sama daddy sama mommy!” sahut Garvi.
“Ah yaudah gimana nanti! Yaudah ayo kita pulang dulu!” ucap Aurora sambil berjalan keluar.
Garvipun mengikuti langkah Aurora tanpa berkata apapun, dan kini mereka sudah sampai di parkiran dan mereka sedang menuju pulang kerumah.
Carissa juga yang terbangun tidak lama setelah kepergian Aurora dan Garvi di karenakan ada perawat yang datang untuk memeriksa keadaan Ganendra pagi ini.
“Gimana pak perasaannya, apa ada yang masih di rasa?” tanya perawat sambil ngecek caranya infusnya.
“Ga ada sih sus! Ga merasakan sakit atau apapun!” jawab Ganendra.
“Oh yaudah baiklah kalo seperti itu, makan sama obatnya jangan lupa di minum ya pak!” perintah perawat.
“Iya makasih sus!” sahut Ganendra.
“Makasih ya sus!” ulang Carissa.
Setelah memeriksa keadaan Ganendra perawat kembali ke ruangannya menyisakan Ganendra dan Carissa, Ganendra melihat ke arah sekitarnya tidak menemukan Aurora, membuatnya bertanya-tanya kemana perginya Aurora.
“Aurora mana mom! Kok ga ada?” ujar Ganendra.
“Gatau mommy juga orang pas bangun udah ga ada mereka berdua!” jawab Carissa.
“Lah anak kenapa ga bilang dulu! Malah asal pergi aja!” gumam Ganendra.
“Ya mungkin pulang kali dad, kan mau pada ke kantor hari ini! Udah daddy gausah fikirin mereka! Mending daddy makan aja! Makanan udah dateng! Biar bisa minum obat dan cepat sehat!” tutur Carissa.
Ganendra makan dengan di siapin oleh Carissa, sebenarnya ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh Ganendra kepada Aurora dan Garvi namun mereka tidak ada, dan Ganendra hanya bisa termenung menatap ujung kasur, dan berbicara dalam hati kapan mereka akan kembali lagi.
“Garvi sama Aurora lama ga sih ya! Daddy mau ngomong sesuatu! Takut kalo besok atau besok ga bisa ngomong!” gumam Ganendra.
Carissa yang melihat Ganendra seperti termenung begitu dan mendengar gumaman Ganendra merasa tidak senang mendengarnya sebenernya apa yang di maksud oleh ucapan Ganendra tadi, mengapa Ganendra berbicara melantur di tambah tatapannya yang terlihat kosong seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di matanya membuatnya merasa takut sekaligus tidak tenang.
Namun Carissa berusaha menenangkan Ganendra yang sedang melantur dan menyuruhnya fokus untuk sehat saja di banding harus berbicara melantur seperti tadi.
“Dad ngomong apa sih! Ngelantur tuh!” gumam Carissa.
“Gapapa daddy cuman pengen liat Aurora aja! Kok dia lama banget ya!” jawab Ganendra sambil menatap Carissa sendu.
“Aurora tuh lagi pulang! Pasti nanti juta balik lagi! Tenang aja! Udah daddy mendingan makan aja! Fokus buat sehat daripada ngomong ngelantur gitu!” ucap Carissa dengan pelan dan sambil mengengam tangan Ganendra.
“Hmm ... yaudah mana obatnya daddy mau minum!” ucap Ganendra.
“Nih, nah kayak gitu kan enak daripada ngomong ngelantur mendingan minum obat terus bobo! Nanti mommy kasih tau kalo Aurora dateng!” ucap Carissa memberi semangat.
Ganendra meminum obatnya dan tertidur, sedangkan Carissa membersihkan area ruangan Ganendra agar terasa nyaman dan pergi membersihkan diri.
~Place Manendra~
Manendra yang bersiap-siap berangkat ke kantor dan juga Kayra yang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit untuk menemani Carissa karena bosan juga di rumah tanpa adanya kegiatan saat suaminya pergi bekerja.
“Mamih tumben siap-siap juga, mau kemana?” tanya Manendra.
“Ah iya dong, mau ke rumah sakit aja ah, bosen nungguin papih pulang kerja, ga ada kerjaan mamih, mau nemenin Carissa aja!” tutur Kayra.
“Oh iya bener juga! Yaudah siap-siap berangkat bareng aja ya! Kita sarapan pagi di luar dulu! Udah lama juga kan kita ga keluar pagi-pagi nyari sarapan!” usul Manendra.
“Ah iya bener! Kita mengulang masa pacaran waktu kuliah dulu, selalu cari sarapan bareng sebelum masuk kelas!” ucap Kayra mengiyakan.
“Yaudah siap-siapnya cepet mih, papih sebentar lagi selesai nih!” ujar Manendra.
“Yaudah papih tunggu di ruang tv ya!” sambung Manendra lagi.
“Iya pih sok, papih duluan aja! Mamih bentar lagi!” sahut Manendra.