Arman menahan napas. "Iya, nanti aku batalkan."
Tanti mendengus pelan.
"Ini kebetulan ketahuan. Coba kalau nggak ketahuan tadi."
Arman memilih diam beberapa detik. Ia tahu, jika dilawan sekarang, Tanti akan semakin panjang.
"Pokoknya aku nggak suka," tegas Tanti.
Arman lalu berkata santai, "Kalau nggak suka, pindahlah ke sini."
Tanti langsung bangkit duduk lebih tegak.
"Iya, aku pindah ke sana nanti!"
Arman menahan senyumnya. Ia tahu kalimat itu separuh ancaman, separuh keinginan.
"Kayaknya aku harus bilang makasih sama Poppy," ujarnya ringan.
"Jangan kebaek-an!" balas Tanti cepat.
"Iya ... iya ..."
Dede menutup mulutnya menahan tawa. Drama kecil seperti ini sudah biasa ia saksikan. Cemburu Tanti bukan karena tidak percaya, melainkan karena terlalu peduli. Dan Arman pun seperti