Arman mengangguk pelan. "Iya. Dan harus tetap sama - sama."
"Tapi aku masih penasaran."
"Penasaran apa lagi Sayang?"
"Mana yang namanya Ira itu," bisik Tanti.
"Astaga, masih dibahas lagi?"
"Kan aku cuma mau tahu, waktu itu nggak terlalu jelas mukanya."
"Dia belum datang, sama geng yang satu lagi yang kena macet itu," jawab Arman.
"Kok abang tahu dia kena macet?"
Arman memijat pelan keningnya.
"Kayaknya kamu juga dengar tadi kalau masih ada satu rombongan lagi yang belum datang karena kena macet di jalan."
Tapi mereka nggak menyebutkan nama, kok abang tahu?"
"Karena rombongannya tinggal mereka ... makanya aku tahu."
Tanti diam. Api cemburunya masih ada, belum benar - benar padam.
---
Pintu kaca Milan Cafe kembali terbuka. Angin dari luar ikut menyelinap masuk bersama suara lan