Sebuah sofa tunggal diduduki Andrew dengan menyilang kedua pahanya. Dia menengadahkan telapak tangannya ke langit, menggerakkan telunjuknya dengan cara yang menggoda. Dia menarik tangan Camelia yang saat itu masih sibuk berbicara kepadaku. Tubuh Camelia jatuh tepat di atas pangkuannya. Melihatnya … rasanya sangat sakit. Tapi kenapa … kenapa Ayah dan Nyonya Arin membiarkan mereka bermesraan di depan aku, istri sah Andrew?
“Ara kami hanya sebentar.” Perkataan Ayah mengantar tubuhku duduk di atas sofa. Sesekali kulirik Camelia yang saat itu kembali menangis di pelukan Andrew.
“Kumohon, jangan menangis seperti ini.” Suara Andrew yang berat terkesan lembut dan menenangkan. Dia meraih pipi merah Camelia seraya menyeka air matanya yang kembali tumpah. “Bukankah sudah kukatakan semua ini hanya akan berjalan sebentar.” Dia bahkan meraih kepala Camelia, menuntunnya untuk bersandar ke pundaknya yang hangat.
“Ada hal yang belum sempat kami sampaikan kepadamu.” Kalimat kedua ayah berhasil mengalihkan mataku dari pandangan menyakitkan tadi. Saat itulah aku melihat ada sebuah dokumen yang terbuka lebar. Di sudut bawah kanan kulihat tanda tangan Andrew di sana.
“Setelah dua tahun menikah, kau dan Andrew harus berpisah.” Kalimat ketiga Ayah menyentakku hingga dadaku terasa lebih sakit. “Kau tahu Andrew dan Camelia saling mencintai, kan?” Kalimat keempat Ayah membuatku menoleh pada Nyonya Arin. Jadi, itu alasan Nyonya Arin tersenyum waktu itu? Karena dia tahu aku akan semakin menderita.
“Apa ini, Ayah?” tanyaku. Aku takut suaraku yang bergetar akan mereka dengar. Sudah sejak tadi tenggorokanku terasa sakit dan tersekat.
“Perjanjian cerai setelah dua tahun menikah. Kami tidak ingin Camelia menderita. Dia dan Andrew saling mencintai. Nanti, setelah Camelia juga berpisah dengan Lionel … kau boleh pergi dari rumah. Andrew dan Camelia akan menikah setelah itu.” Ayah meraih tangan Camelia, mengusapnya sembari memberikan senyuman kekuatan agar Camelia berhenti menangis.
Mata ini berlabuh pada Camelia yang saat itu kembali tersenyum. “Terima kasih, Ayah.” Dari pangkuan Andrew dia berpindah dan memeluk Ayah.
“Jangan berterima kasih pada Ayah. Berterima kasihlah pada Andrew.” Kalimat yang baru saja aku dengar dari Ayah, menyadarkan aku betapa Andrew sangat mencintai Camelia. Dia bahkan rela menunggu Camelia berpisah dengan Lionel. Entah kenapa, pemandangan hari itu berhasil menciptakan luka yang jauh lebih lebar dari sebelumnya. Tidak hanya cinta Ayah dan simpati Nyonya Arin saja, aku bahkan juga tidak mendapatkan rasa kasihan mereka. Dan Andrew, dia malah sedang tersenyum senang bersama Camelia.
Melihat Camelia tersenyum seperti itu, aku merasa sangat membencinya padahal aku tahu dia tidak bersalah karena tidak tahu apa-apa. Namun, aku tahu kebenaran sekarang.
Ternyata aku hanya dijadikan pelarian mereka untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan. Mereka memanfaatkan Lionel Wang yang saat itu sedang naik daun untuk menaikkan popularitas mereka yang mulai redup. Dan … cinta Andrew yang begitu besar untuk Camelia membuatnya juga tidak tahu bahwa Ayah dan Nyonya Arin telah menyeretnya dalam misi menyedihkan ini. Siapapun pria yang bernama Lionel Wang itu, kurasa dia tidak bersalah. Dan aku, setelah mereka membawaku ke rumah ini untuk dimanfaatkan … mereka akan mengusirku pergi setelah membuat hidupku lebih menderita.
“Hei Ara, kenapa kau diam saja?” Suara Nyonya Arin menyadarkan aku dari lamunan panjang yang menyakitiku. Aku menoleh padanya, berusaha tersenyum seluas mungkin. Aku memang harus sadar diri bahwa aku tidak ada artinya bagi mereka. Tapi untuk Camelia, aku akan berusaha mengikhlaskannya.
“Baik, Nyonya.” Meski berat bagiku hidup bersama pria yang tidak mencintaiku, tapi … menandatangani perjanjian cerai ini mengapa terasa lebih menyakitkan.
“Bagus.” Tangan gagah yang tadi malam mempermainkan aku meraih cepat berkas yang baru saja aku tanda tangani. Setelah mengambil kesucianku dengan cara yang kasar, dia bahkan tidak merasa bersalah akan meninggalkan aku nanti sebagai janda. Namun, saat mataku kembali memandangnya, aku merasa sangat kasihan padanya. Cinta miliknya yang mahal dan suci hanya sedang dimanfaatkan oleh orang-orang yang kusebut sebagai “keluarga” ini. Kualihkan mataku pada Camelia, kupandangi wajah cantiknya yang dulunya selalu tersenyum. Ada yang aneh, saat aku mulai menelusuri tatapan itu. Camelia Tan, apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan?
Aku mencoba mengajak kakiku yang lemah untuk beranjak meninggalkan mereka. Namun,
“Ara, bisa kita bicara sebentar?” Camelia berdiri dari duduknya. Ayah dan Nyonya Arin lantas terperangah, begitu juga Andrew.
Malam itu di taman belakang rumah, Camelia memelukku. Dia menangis sesenggukan tiada henti di atas pundakku. Kuraih kepalanya, dan kujatuhkan tanganku yang bergetar ke punggungnya untuk mengusap lembut. Meski sebenarnya aku jauh lebih tersiksa, aku tetap memperkuat keteguhan hatiku.
“Maafkan, Aku.” Satu kata dari Camelia yang langsung memadamkan kobaran api di kepala. Kulepaskan pelukanku, lalu kuraih dagunya yang basah. “Tidak usah minta maaf. Aku baik-baik saja.” Kusampaikan sebuah kebohongan dengan napas yang sesak. Sepasang mata cantiknya menatapku lekat. Diletakkan olehnya kedua telapak tangan dingin itu di wajahku. “Aku sudah membuatmu banyak berkorban. Kalau aku tahu Ayah dan Ibu hanya akan mempersulit hidupmu, aku tidak mungkin membawamu ke rumah.” Kata-kata dari Camelia, membuat hatiku hancur berantakan.
Terulang kembali dalam memori kecilku, ketika pertama kali aku datang sebagai tamu saat usiaku masih 10 tahun.
Saat itu, kuselipkan secarik foto di dalam kantung bajuku. Meringkuk aku di tengah keramaian, menatap para lelaki yang berlalu lalang. Satu persatu wajah pria-pria berumur itu kupandangi hati-hati. Sesekali, kulirik lagi foto yang kubawa.
Setelah lama kehilangan Ibu, aku yang tidak punya siapa-siapa berharap dapat bertemu dengan Ayah yang tidak pernah kujumpai sebelumnya. Karena mendiang Ibu berkata bahwa Ayah sedang bekerja, kuberanikan diri untuk menjejakkan kaki di kota yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu di mana.
Tak sedikit orang yang menaruh simpati, bahkan dengan berbaik hati memberikan aku nasi bungkus atau sedikit uang untuk ongkos kembali. Namun, dengan tekad luar biasa yang kupunya … aku memberanikan diri untuk menyusul Ayah setelah tak sengaja melihat fotonya terpampang lebar di sebuah papan reklame.
Aku tersenyum ceria melihat itu, dan mulai bertanya-tanya pada orang tentang keberadaan Ayahku. Wajah mereka menaruh iba, karena mengira aku sedang bermimpi punya Ayah pengusaha sukses seperti Tuan Edwin. Namun, saat aku kembali melirik foto yang kubawa, aku menjadi sangat yakin bahwa aku tidak salah.
Aku berjongkok menyudut di sebuah kedai yang tutup. Saat itulah, kulihat tangan seseorang yang terulur ramah padaku. Saat itulah Camelia mengajakku ke rumahnya.
Masih jelas teringat olehku, seorang pria yang telah lama kucari selama ini keluar dari rumah mewah bak istana. Melihat Ayah yang membentangkan tangannya untuk Camelia, kupikir Ayah akan melakukan hal yang sama padaku. Namun, aku yang bodoh tiba-tiba saja berteriak di antara keramaian. “Ayah!” Aku berlari ikut kejar-kejaran bersama Camelia yang minta digendong Ayah.
Semua mata tertuju padaku, tetapi aku tidak tahu apa-apa. Ayah yang kebingungan lantas terbelalak melihat aku yang tiba-tiba saja datang. Dia mendorongku menjauh, menatap banyak orang. “Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya dengan wajah merah padam.
Camelia melihat tatapan itu, lantas berdiri di depanku. “Dia ingin bertemu dengan Ayah. Mengapa Ayah tidak pernah bilang kalau aku punya saudari perempuan?” tanya Camelia kesal.
Sejak saat itu, mereka terus saja bersandiwara mengatakan pada media bahwa aku hanyalah anak yang mereka ambil dari panti asuhan, dan mereka besarkan dengan cinta. Padahal, mereka mengasuhku agar aku tidak buka mulut soal Ayah yang meninggalkan wanita simpanannya yang saat itu sedang hamil besar. Aku tahu Nyonya Arin pasti sangat kecewa, tapi … Ibu tidak bersalaha karena Ibu tidak tahu Ayah sudah menikah. Aku mengetahui itu, setelah kembali menelaah percakapan Ibu dengan temannya beberapa tahun yang lalu.