Hari itu, setelah Camelia mengatakan maaf … aku menatap kedua bola indah miliknya. “Aku senang, bisa memiliki saudara sepertimu.” Kupeluk kembali Camelia dengan tulus. Pikirku, meski tersiksa tinggal di sana, dia tidak pernah bersalah. Dia sangat baik padaku. Dia selalu memberikan apapun yang dia punya padaku. Dan memaksa Ayah membelikan apa yang telah Ayah belikan untuknya agar aku juga memiliki benda yang sama. Dan satu hal yang membuatku salut adalah … dia tidak membenciku, meski tahu bahwa aku adalah anak selingkuhan Ayah.
“Arasha, kau tidak mencintai Andrew, kan?”
DEG!
Pertanyaannya berhasil membombardir seluruh isi hati dan kepalaku. “Tentu saja … tidak.” Meski tahu aku sedang membohongi diri, aku telah meyakinkan hatiku untuk mengikhlaskan semua ini. Namun, sekuat apapun aku berusaha … aku ingin sekali berkata : Camelia, aku akan membalas kebaikanmu dengan apapun, tapi … kau punya segalanya. Apa tidak bisa, yang satu ini menjadi milikku saja?
“Setelah ini, pergilah sejauh mungkin. Aku tidak ingin Ayah dan Ibu memanfaatkanmu lagi.” Mendengar kalimat yang seharusnya membuatku senang, malah aku tak kuasa dan rasanya ingin tumbang. Pernikahan yang kukira akan terjadi sekali seumur hidup, nyatanya hanya sebuah mimpi yang membuatku tenggelam dalam ilusi.
***
Malam itu, setelah Ayah dan Nyonya Arin kembali, kulihat Camelia masih menonton televisi. Kulihat Andrew mendekat dan duduk di sampingnya. Dia meraih tangan Camelia, membawanya masuk di antara kedua genggaman tangannya. Dia meletakkan tangan itu di atas bibirnya, mengecupnya lembut dengan cara yang berbeda. Tatapannya hangat, tidak seperti kepadaku.
Walau bagaimanapun, aku masih istri Andrew yang baru dia nikahi beberapa hari yang lalu. Sangat berat bagiku melihat pemandangan ini.
“Eh, jangan seperti ini. Kau masih suaminya Ara.” Camelia menjadikan kehadiranku sebagai lelucon. Mereka tertawa bersama, tanpa tahu aku sedang menangis di belakang.
“Ara, aku pulang dulu ya. Lain kali aku akan mampir untuk menemanimu.” Camelia melambaikan tangannya padaku. “Biar kuantar,” kata Andrew membuntuti. “Tidak usah. Aku sudah minta supir menjemputku.”
Sampai detik itu, hatiku yang sakit masih harus terus melihat momen mesra mereka. Andrew mengecup dahi Camelia dengan caranya yang lembut. Aku, yang padahal ia setubuhi semalam, bahkan tidak merasakan kecupannya. Dia tidak mencium atau sekedar mengelus rambutku sama sekali. Sakit, rasanya … aku sudah tidak kuat lagi.
Malam ini, aku duduk memeluk kedua lututku yang kaku dan dingin di atas ranjang. Pintu kamar yang berderit kembali melambungkan pikiranku. Kulihat Andrew masuk sembari membuka kemejanya, memori tentang tadi malam kembali berputar.
Dia yang tadi senyum-senyum sendiri tiba-tiba berubah jengkel. Mungkin, karena baru sadar aku sedang duduk di atas ranjangnya.
“Kenapa kau di sini?” Suaranya membuat hatiku terguncang. Aku hanya sedang memandu diriku untuk lebih kuat. “Keluar.”
“Suamiku, bukankah ini juga kamarku?” Kupelankan suaraku, berusaha menyentuh hatinya yang beku.
“Apa?” Dia berjalan cepat ke arahku, mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajahku. “Lupakan semua kejadian tadi malam. Anggap tidak ada yang terjadi antara kita.” Keringat yang beradu di sudut keningnya, terasa sangat menyiksa. Dia menyesal melakukannya?
Kuraih bantal persegi yang ada di atas ranjang, kulangkahkan kaki menuju sofa. “Aku akan tidur di sofa. Anda tidurlah di ranjang. Maaf, membuat Anda tidak nyaman.” Begitu adanya, di manapun aku berada … aku tidak pernah dibutuhkan.
Dia berpaling dari wajahku, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia tersenyum sendiri memandangi ponselnya entah kenapa. Yang jelas, aku senang bisa melihatnya tersenyum seperti itu.
**
“Ah!”
Aku terperanjat saat baru bangun dari tidur. Kulihat Andrew sedang memegangi mangkuk kecil berisi air. Rambutku basah, dengan pakaian pada bagian pundak yang ikut basah. Kulihat tetes-tetes air dari bawah mangkuk yang di pegang Andrew.
“Kenapa kau susah sekali dibangunkan?” Dia tanpa rasa iba melotot tajam padaku. Padahal, semalaman aku tak bisa tidur sama sekali. “Cepat mandi dan ganti pakaianmu.” Dia melemparkan sebuah gaun tepat di wajahku. Aku mengucek mataku yang buram, kupandangi dia baik-baik. Dengan setelah jas mewah yang melekat di tubuhnya, kembali aku mengumpulkan kesadaran untuk terus menatapnya.
Oh, astaga! Aku tersentak.
Hari ini pernikahan Camelia dengan Lionel Wang. Tentu saja aku harus hadir dan bersandiwara sebaik mungkin, karena aku adalah istri seorang bos besar. Ini pernikahan saudariku, pernikahan orang yang sangat aku sayangi.
Terburu aku ke kemar mandi, meraih gaun itu dan segera mempersiapkan diri. Tak lama, setelah para pelayan selesai membantuku berpakaian, aku berjalan menyusuri anak tangga untuk turun ke bawah. Menoleh aku pada sosok yang sedang duduk di atas sofa. Andrew sedang menundukkan wajahnya. Kulihat matanya yang sendu, aku menjadi ikut terluka karenanya. Dia pasti sangat sedih, karena Camelia akan segera menikah.
“Suamiku.” Meski sulit, aku tetap berusaha keras mengeluarkan suara. Kulihat dirinya yang sedang menatapku takjub. Mungkin karena ini pertama kalinya dia melihatku memakai gaun semahal ini. Gaun putih dengan corak keemasan ini berjuntai panjang hingga ke lantai. Ada belahan tinggi dari paha sampai ke bawah sebelah kaki kananku. Aku sedikit tidak nyaman, tapi … melihat wajah merengut suamiku yang tiba-tiba saja berubah, aku menjadi sedikit percaya diri. Dia tak melepaskan tatapan itu, memandangku dari ujung kaki sampai ujung kepala sebelum akhirnya memalingkan wajah.
“Cepat,” perintahnya. Meski sedikit sulit, aku tetap mengikuti langkah cepatnya. Sepatu dengan tumit sekitar 7 senti membuatku kesulitan berjalan. “Dasar kampungan,” tambahnya menghina.
Aku meluaskan hatiku sampai ke langit, biarlah seluruhnya bermuara hingga ke samudra. Yang pasti, bersanding dengannya nanti adalah mimpi yang akan segera jadi nyata, meski hanya sebuah sandiwara. Di dalam mobil yang sama dengannya, lagi-lagi aku tak sengaja melihat wajahnya yang murung.
“Jangan bersedih.” Untuk menghibur lelaki yang kucintai, hanya itu yang bisa aku katakan. Mendengar suaraku dia spontan menoleh. Tak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya, selain gelak tawa yang seolah menghina. “Jangan bersedih katamu? Apa kau tahu rasanya melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain? Apa kau tahu, ha? Gadis kampung yang tidak tahu apa-apa sepertimu, sebaiknya tutup mulut dan jangan membuatku semakin kesal.”
Dia benar. Aku hanya gadis kampung yang tidak tahu apa-apa. Namun, jika dia bertanya bagaimana rasanya melihat orang yang kita cintai menikah dengan orang lain, maka akan aku jawab … ya, mungkin memang sakit. Hanya saja, kurasa ada yang orang kaya sepertinya tidak tahu tentang perasaan gadis kampung sepertiku. Jauh lebih sakit dari pada perasaannya sendiri ... aku mencintai, suami yang membenciku.