Percakapan itu berjalan di antara rak-rak kematian itu dengan botol kecil yang sudah turun dari tangan Sutedja, dan berjalannya dengan cara yang tidak pernah dibaca Mursid akan datang dari insinyur yang membaca kekalahannya dengan cara yang sama dinginnya dengan yang dibacanya keberhasilannya: bukan dengan bantahan, dengan pengakuan yang dingin dan jujur dengan cara yang lebih berbahaya dari semua bantahan.
"Kau membaca mesinku dari bawah toko dengan jaket kuli dan cara berdiri yang salah untuk kuli serabutan," kata Sutedja, memandang Mursid dengan mata yang menilai dengan cara yang sudah lama dibacanya dari sore lelaki berbatik di toko fotokopi dulu. "Dan aku membaca keberadaanmu sejak sore itu, dan aku salah membaca dari mana datangnya — aku membaca dari satu petugas yang dibayar untuk membaca dari bawah, dan aku tidak pernah membaca dari satu hantu yang sudah kuhapus sendiri dari kertasku sendiri. Itu salah baca pertama, dan salah baca itu mahal harganya bagi insinyur yang membaca manusia dengan cara yang sama denganmu."
Dan Mursid menjawabnya dengan suara yang tidak berubah dari suaranya yang biasa:
"Dan salah baca kedua adalah tawaranmu, dengan harga besar untukku dan harga lebih besar untuk orang-orang di sekitarku. Kau membaca tawaran itu sebagai perhitungan yang bisa dibaca manusia dengan cara yang sama denganmu membaca manusia — dan kau salah membaca satu hal yang tidak pernah bisa dibaca manusia dengan cara yang sama: orang yang tidak bisa dihitung harganya, karena harganya sudah dibayar penuh sebelum mesinmu menawarnya. Malam yang tidak bisa kulupakan itu dibayar penuh sebelum mesinmu berdiri, Sutedja Kusuma. Dan orang yang sudah membayar harganya penuh tidak bisa ditawar dengan harga mana pun dari mesin mana pun."
Dan Sutedja bertanya satu hal yang tidak pernah ditanyakan orang yang kalah kepada orang yang menang, dengan suara yang membawa keingintahuan insinyur yang tidak bisa dimatikannya bahkan di gudang bawah tanahnya sendiri:
"Bagaimana kau membacanya dari bawah? Aku membangun mesin ini supaya tidak bisa dibaca dari bawah — lantai dua yang berdiri di atas toko fotokopi yang biasa, kurir yang bergerak di jam yang tidak dibaca siapa pun, pembukuan yang berdiri di bawah rumah duka yang tidak pernah ditanyakan siapa pun. Dari mana kau mulai membacanya?"
"Dari kerikil di sepatu," jawab Mursid. "Mesin yang berdiri terlalu rapi berdiri dengan kerikilnya sendiri: surat kematian yang terbit lebih cepat dari surat kematian mana pun yang pernah terbit, peti yang terlalu ringan di bahu-bahu yang memikulnya, nama yang hilang dari kertasnya dengan cara yang terlalu bersih. Aku tidak membaca mesinmu dari peta besarnya, Sutedja. Aku membacanya dari kerikil-kerikilnya, satu per satu, seperti membaca orang dari kebohongan-kebohongan kecilnya — dan kerikil tidak pernah berbohong, karena kerikil tidak pernah merasa perlu."
Dan Sutedja mengangguk pelan, dengan cara orang yang menerima jawaban teknis dari sesama pembaca manusia, dan untuk satu detik di gudang bawah tanah itu mereka berdiri bukan sebagai pemburu dan buruan — melainkan sebagai dua orang yang membaca manusia dengan cara yang sama, berdiri di dua sisi yang tidak pernah bisa bertemu.
Dan Sutedja memandanginya dengan mata yang membaca satu halaman baru dari hantu yang berdiri di depannya di gudang bawah tanahnya dengan kamera kecil di tangannya — dan berkata dengan suara yang membawa pengakuan yang dingin dan jujur dengan cara yang lebih berbahaya dari semua bantahannya:
"Dan itulah yang membuatmu berbahaya dengan cara yang tidak bisa kubaca dari mesin manapun yang kubangun: kau membaca manusia dengan cara yang sama denganku, dan kau berdiri di sisi yang tidak bisa dihitung harganya. Insinyur yang membaca manusia dengan cara yang sama berdiri di dua sisi itu selalu berdiri dengan cara yang sama: membaca harga orang-orang di sekitarnya dan menawarnya dengan harga yang benar untuk mereka. Tapi kau berdiri di sisi yang tidak bisa dihitung harganya, dan sisi itu tidak bisa kubaca dengan cara insinyur membaca — dan itu salah baca kedua, dan dua salah baca itu berdiri untukmu dengan arsipku yang sudah difoto dengan kamera kecilmu dan surat inspeksi yang berdiri di atasnya dengan kaki yang benar."
Dan percakapan itu berjalan di antara rak-rak kematian itu dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya dan dengan dua petugas Baringin yang berdiri lebih dekat dengan surat yang berdiri di tangan mereka — dan Sutedja membaca kekalahannya dengan cara yang sama dinginnya dengan yang dibacanya keberhasilannya selama dua puluh tahun, dan membaca satu hal terakhir dari hantu yang berdiri di depannya dengan kamera kecil di tangannya dan mata yang tidak berubah dari mata yang membacanya sejak sore lelaki berbatik di toko fotokopi dulu:
"Dan aku menawarimu sekali terakhir, dengan harga yang lebih besar dan lebih jujur dari semua tawaran yang sudah lalu: bergabung dengan mesin ini sebagai pembaca manusia yang berdiri di sisinya, dengan kebebasan penuh atas cara kerjamu, dengan gaji yang tidak akan pernah kau hitung dengan tarif lima ratus ribu seminggu yang lama. Dan kau menjawabnya dengan cerita malam yang tidak bisa kulupakan itu, dan dengan jawaban yang tidak bisa kutulis ulang dengan perhitungan mana pun — dan aku mendengarnya, dan aku membaca satu hal terakhir darinya: bahwa ada orang yang tidak bisa dihitung harganya, dan kau orangnya, dan aku sudah salah membaca itu tiga kali sejak sore kau berdiri di tokoku dengan kertas di tanganmu dan cara berdiri yang salah untuk kuli."
Dan percakapan itu berdiri di gudang bawah tanah itu dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya, dengan dua pembaca manusia yang membaca satu sama lain dengan cara yang sama untuk dua sisi yang berlawanan, dengan dua petugas Baringin yang berdiri lebih dekat dengan surat yang berdiri di tangan mereka — dan berakhir dengan satu kalimat dari Sutedja yang berdiri di atas semua yang sudah diucapkannya di gudang bawah tanahnya itu:
"Kalau kau lahir di sisi yang lain, kau akan menjadi aku. Dan aku mengatakan itu dengan pengakuan yang tidak pernah kuberikan kepada siapa pun dalam dua puluh tahun membangun mesin ini — dan kau akan menjadi pembaca manusia terbaik yang pernah berdiri di mesin ini, dengan cara yang tidak bisa kubayar dengan gaji mana pun, dan kau menolaknya dengan jawaban yang tidak bisa kutulis ulang dengan perhitungan mana pun. Dan itu bedanya antara kita, dan bedanya itu yang membawaku ke gudang bawah tanah ini dengan botol kecil di tanganku dan arsipku yang sudah difoto dengan kamera kecilmu."