Mursid menjawab tawaran terakhir itu dengan cerita malam yang tidak bisa kulupakan itu, dan menjawabnya dengan suara yang tidak berubah dari suaranya yang biasa dan dengan mata yang membaca insinyur itu dengan cara yang sama dengan yang dibacanya membacanya sejak sore lelaki berbatik di toko fotokopi dulu.
Ia menceritakannya di gudang bawah tanah itu, di antara rak-rak kematian dan buku-buku besar yang sudah difoto dengan kamera-kamera kecil mereka, dengan dua petugas Baringin yang berdiri di dua sudut dengan surat yang berdiri di tangan mereka dan tidak pernah memotong satu kata pun dari percakapan dua pembaca manusia itu — dan menceritakannya dengan kebenaran yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun sebelum Tigor di warung soto itu, dan tidak pernah akan ia ceritakan kepada siapa pun sesudahnya:
"Kau menawariku dengan harga yang lebih besar dan lebih jujur, dan kau menawariku dengan pengakuan bahwa aku akan menjadi kau di sisi yang lain. Dan kau salah membaca satu hal yang tidak bisa dibaca manusia dengan cara yang sama denganku membaca manusia: aku sudah berdiri di sisi itu, dan aku sudah memilih untuk tidak pernah berdiri di sana lagi, dan pilihan itu ditulis dengan dua anak yang memandangiku dari belakang ayahnya yang berlutut di depan pintuku — dan tidak ada satu pun perhitungan dari mesin manapun yang bisa menulis ulang pilihan yang ditulis dengan dua anak yang memandangiku dengan mata yang tidak pernah bisa kulupakan seumur hidupku."
Dan Sutedja mendengarkannya dengan mata yang tidak berubah dari mata insinyur yang membaca manusia dengan cara yang sama, dan mendengar cerita malam yang tidak bisa kulupakan itu dengan cara yang tidak pernah dibaca Mursid akan datang dari insinyur yang membela karyanya dengan seluruh yang ia punya: dengan keheningan yang berdiri di antara rak-rak kematian itu, dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya, dengan mata yang membaca satu halaman yang tidak pernah dibacanya sebelumnya dari hantu yang berdiri di depannya dengan kamera kecil di tangannya.
Dan cerita itu berdiri di antara rak-rak kematian itu dengan kebenaran yang tidak dibungkus: ayah yang berlutut di depan pintu kontrakannya dengan dua anaknya berdiri di belakangnya, di malam yang hujannya tidak deras tapi tidak berhenti juga, dan dirinya yang berdiri di depannya dengan daftar tagihan di tangannya dan dengan dua puluh tahun cara kerja yang sudah menjadi tulang-tulangnya. Ia tidak memukulnya. Penagih yang baik tidak perlu memukul — penagih yang baik membaca, dan ia membacanya sampai ke dasar yang tidak bisa dibaca orang lain: sampai ke titik di mana seorang ayah memilih berlutut di depan penagih dengan dua anaknya memandanginya, supaya anak-anaknya tidak melihat hal yang lebih buruk dari itu.
Dan dua anak itu memandanginya dari belakang ayahnya yang berlutut dengan mata yang tidak menangis — dan mata yang tidak menangis dari anak yang memandangi ayahnya berlutut adalah mata yang tidak pernah bisa dilupakannya seumur hidupnya, karena mata itu membaca sesuatu tentang dirinya yang tidak pernah berani dibacanya sendiri dari cermin mana pun.
Malam itu ia pulang dengan uang tagihan yang penuh di tasnya, dan malam itu juga ia berhenti menjadi penagih — dan sepuluh tahun setelahnya ia mencari orang-orang yang hilang dengan buku tulis anak sekolah dan tarif lima ratus ribu seminggu, karena itu satu-satunya cara yang ditemukannya untuk bisa memandang matanya sendiri di cermin lagi.
Dan Mursid menyelesaikannya dengan suara yang tidak berubah dan dengan satu halaman yang berdiri di atas semua halaman yang sudah diucapkannya di gudang bawah tanahnya itu:
"Dan itu bedanya antara kita, Sutedja Kusuma. Bukan sisi yang benar dan sisi yang salah — itu terlalu mudah untuk orang-orang yang membaca manusia dengan cara yang sama dengan kita. Bedanya adalah harga yang sudah dibayar penuh sebelum mesinmu berdiri, dan pilihan yang ditulis dengan dua anak yang memandangiku dari belakang ayahnya yang berlutut di depan pintuku. Dan pilihan itu tidak bisa ditulis ulang oleh perhitungan mana pun, oleh tawaran mana pun, oleh gaji mana pun yang tidak akan pernah kuhitung dengan tarif lima ratus ribu seminggu yang lama — karena pilihan itu ditulis dengan tangan yang sudah menagih utang dua puluh tahun dengan cara yang salah, dan ditulis ulang dengan tangan yang mencari orang-orang yang hilang dengan cara yang benar, dan tidak ada satu pun dari mesinmu yang bisa membayar untuk menulis ulangnya lagi."
Dan Sutedja memandanginya lama, dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya, dengan dua petugas Baringin yang berdiri lebih dekat dengan surat yang berdiri di tangan mereka — dan membaca satu hal terakhir dari hantu yang berdiri di depannya dengan jawaban yang tidak bisa ditulis ulang dengan perhitungan mana pun: bahwa ada orang yang tidak dijual, dan orang itu berdiri di gudang bawah tanahnya dengan kamera kecil di tangannya dan jawaban yang ditulis dengan dua anak yang memandangiku dari belakang ayahnya yang berlutut di depan pintunya.
Dan petugas Baringin tiba sebelum api menyala — dengan surat yang berdiri di tangan mereka dan dengan dua orang lagi di tangga yang sudah membaca percakapan dua pembaca manusia itu dari sudut-sudut gudang bawah tanah itu — dan Sutedja Kusuma ditangkap di gudang bawah tanahnya dengan botol kecil yang sudah turun dari tangannya dan dengan arsipnya yang sudah difoto dengan kamera-kamera kecil mereka, dengan pengakuan yang dingin dan jujur yang tidak pernah ia tarik kembali, dengan satu kalimat terakhir untuk Mursid yang berdiri di atas semua yang sudah diucapkannya di antara rak-rak kematian itu:
"Kau menang dengan jawaban yang tidak bisa kutulis ulang dengan perhitungan mana pun, dan kau menang dengan cara yang tidak bisa kubeli dengan gaji mana pun — dan aku mengakui kekalahanku dengan cara yang sama dengan aku mengakui keberhasilanku selama dua puluh tahun membangun mesin ini: dengan pengakuan yang dingin dan jujur, dengan botol kecil yang turun dari tanganku, dengan arsipku yang sudah difoto dengan kamera kecilmu dan surat inspeksi yang berdiri di atasnya dengan kaki yang benar. Dan kalau kau lahir di sisi yang lain, kau akan menjadi aku — dan aku mengatakan itu sekali lagi sebelum dibawa dari gudang bawah tanahku ini, dengan pengakuan yang tidak pernah kuberikan kepada siapa pun dalam dua puluh tahun membangun mesin ini."