Klinik Pratama Sehat Sentosa itu ditutup untuk penyelidikan dalam minggu yang sama dengan lantai dua yang runtuh, dan penutupannya adalah penutupan yang sudah dibaca dari semua yang sudah berdiri dengan kaki yang benar sejak surat-surat pembekuan pertama berdiri di depan kantor dukcapil dengan kaki yang benar yang tidak bisa dibantahnya tanpa membantah sistemnya sendiri.
Dan Yanti berdiri di depannya sebagai saksi kedua, dengan tangan yang tidak gemetar lagi dari tangan yang sudah lama mengetik surat-surat kematian palsu di bawah ancaman yang sudah lama dibacanya dari balik mejanya — dan menceritakan administrasi kematian palsu itu dengan cara yang sama dengan cara Yopi menceritakan mengetik kematian orang-orang dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar: dengan kebenaran yang tidak dibungkus, dengan tangan yang tidak berhenti bergerak di udara kosong dengan kebiasaan mengetik yang tidak pernah berhenti, dengan suara yang lebih rendah dari suara penyidik yang mencatatnya dengan hati-hati yang sudah menjadi cara mereka dengan saksi-saksi yang dipekerjakan mesin itu dengan ancaman.
"Aku mengetik surat-surat kematian untuk orang-orang yang masih hidup, Pak. Surat-surat kematian dengan tanggal-tanggal yang kusalahkan sendiri supaya cocok dengan kebutuhan mereka, dengan tanda tangan dokter yang tidak pernah memeriksa orang-orang itu, dengan rekam medis yang tidak pernah ada untuk orang-orang yang tidak pernah datang ke klinik kami." Yanti menceritakannya dengan tangan yang bergerak di udara kosongnya dengan kebiasaan yang tidak pernah berhenti, dengan mata yang membaca dari balik mejanya dengan cara yang sudah lama dibacanya dari balik mejanya. "Dan aku mengetiknya di bawah ancaman yang sudah lama kudengar dari balik mejaku juga: bahwa keluargaku dibaca alamatnya oleh orang-orang yang tidak kukenali, bahwa pekerjaanku dibaca dengan cara yang tidak bisa kubantah dengan pekerjaan kecil seperti pekerjaanku, bahwa surat-surat kematian itu akan diketik orang lain kalau bukan aku — dan aku mengetiknya dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar sejak malam pertama kuketik surat kematian untuk orang yang kudengar masih hidup dari berita yang kubaca dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar yang sama."
Dan klinik itu menutup dengan surat penyelidikan yang berdiri di atas kaki yang benar, dengan Yanti yang berdiri di depannya sebagai saksi kedua dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dengan surat-surat kematian palsu yang dibacanya dari balik mejanya dengan tanda tangan-tanda tangan dokter yang tidak pernah memeriksa orang-orang yang ditulisnya untuk mereka — dan dengan satu halaman dari buku tamu resepsionisnya yang dibacanya dari balik mejanya dengan nama-nama yang tidak pernah datang ke klinik itu dengan tanggal-tanggal kematian palsu yang ditulisnya untuk mereka dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar sejak malam pertamanya.
Dan satu petugas menemukan surat kematian itu di antara berkas-berkas klinik di sore yang sama — surat kematian atas nama Mursid Salasa, dengan tanggal yang disalahkan, dengan tanda tangan dokter yang tidak pernah memeriksanya, dengan rekam medis untuk penyakit yang tidak pernah dideritanya — dan membawanya kepada Yanti dengan dua tangan seperti membawa satu halaman dari pembukuan yang sudah lama dibacanya.
"Ini salah satu yang Ibu ketik?" tanyanya.
Yanti memandanginya lama, dan mengangguk dengan gerakan yang kecil.
"Salah satu yang pertama. Aku ingat nama ini, Pak." Suaranya tidak berubah, tapi tangannya berhenti bergerak di udara kosongnya untuk pertama kalinya sejak pagi. "Aku ingat karena malam itu aku pulang dan enggak bisa tidur, dan aku mengucapkan nama ini dalam hati seperti orang mengucapkan doa — minta maaf kepada orang yang enggak pernah kukenal, yang kumatikan di atas kertas dengan tuts mesin ketikku. Dan sekarang orang ini berdiri lagi di atas kertasnya sendiri, dan aku yang mengetik kematian palsunya berdiri di sini sebagai saksi yang membatalkannya." Ia mengangkat wajahnya ke petugas itu. "Itu adil, Pak. Dengan cara yang paling lambat dan paling sah, itu adil."
Dan berkas itu dibawa ke meja penyidik dengan surat kematian Mursid Salasa berdiri di atasnya dengan tanggal yang disalahkan dan tanda tangan yang palsu — dan Mursid membacanya dari kejauhan dengan satu perasaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya: melihat kematiannya sendiri berdiri di atas meja penyidik sebagai barang bukti, dibawa dengan dua tangan, dicatat dengan kaki yang benar, untuk dibatalkan dengan jalur yang benar. Kematian kertas yang dulu menelannya dengan cara yang salah sekarang dibaca ulang dengan cara yang benar — dan kerikil di sepatu itu akhirnya keluar, satu per satu, dengan surat-surat yang berdiri di atas kaki yang benar.
Dan sebelum klinik itu disegel, Yanti berdiri sekali lagi di balik mejanya yang sudah kosong — meja resepsionis dengan telepon yang tidak berbunyi lagi dan buku tamu yang sudah dibawa sebagai barang bukti — dan menyentuh permukaannya dengan satu tangan, dengan cara orang mengucapkan selamat tinggal kepada pekerjaan yang dicintainya dan dibencinya dalam satu napas yang sama. Lalu ia berjalan keluar ke cahaya sore, dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dan tidak pernah menoleh ke belakang.
Dan Mursid membacanya dari kejauhan dengan satu halaman dari buku tulisnya yang sudah lama ditulisnya dari balik meja yang sama — dengan surat kematiannya sendiri yang diterbitkan dari klinik yang sama dengan tanggal yang disalahkan dengan cara yang sama dengan yang dibacakannya dari pembacaan-pembacaannya dari balik meja Yanti yang mengetiknya dengan tangan yang tidak bisa berhenti gemetar.
Dan surat kematiannya sendiri itu dibatalkan dengan jalur administratif yang lambat dan sah dalam minggu-minggu berikutnya, dengan bukti dari kesaksian Yanti dan dari pembukuan mesinnya yang sudah difoto dari gudang bawah tanahnya — dan Mursid Salasa berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan nama yang dibatalkan kematian palsunya dengan cara yang sama dengan cara kematian palsu itu diterbitkan: dengan kertas, dengan jalur yang benar, dengan surat pembatalan yang berdiri di atas kaki yang benar yang tidak bisa dibantahnya tanpa membantah sistemnya sendiri.
Dan ia berdiri lagi di atas kertasnya sendiri dengan nama yang dibatalkan kematian palsunya, dan menuliskannya di buku tulisnya dengan tangan yang mantap: surat kematian Mursid Salasa dibatalkan dengan jalur yang benar, dan aku berdiri lagi di atas kertasku sendiri dengan nama yang tidak pernah dihapus dengan cara yang salah lagi — dan klinik yang mengetiknya dengan tangan Yanti yang tidak bisa berhenti gemetar itu menutup dengan surat penyelidikan yang berdiri di atas kaki yang benar, dengan saksi keduanya yang berdiri dengan tangan yang tidak gemetar lagi, dengan surat-surat kematian palsu yang dibacakannya dengan kebenaran yang tidak dibungkus.