Utang pinjol tiga belas juta itu dinyatakan fiktif dan dihapus resmi dalam minggu yang sama dengan bayi tanpa nama yang didaftarkan dengan nama pilihannya sendiri kelak, dan penghapusannya berdiri dengan bukti dari pembukuan mesin itu sendiri yang sudah difoto dari gudang bawah tanahnya dengan kunci yang benar: satu pinjaman yang dicairkan dalam satu hari dan langsung dikuras dalam satu hari yang sama, oleh orang-orang yang tidak pernah dikenal Tigor Marpaung, dengan tanda tangan yang tidak pernah ditulis Tigor Marpaung, untuk utang yang tidak pernah dibuat Tigor Marpaung.
Dan Tigor Marpaung menarik ojek lagi dengan Bang Jul di pangkalan depan pasar Cibitung di hari pertama setelah utang fiktif itu dihapus resmi dari namanya, dan menariknya dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya dan dengan satu hal yang dibayarnya tunai di hari pertama kerjanya itu: utang dua ratus ribu ke Bu Nah, dibayar tunai, di warung yang sama dengan warung yang selalu memberinya makan dengan utang yang tidak pernah ditagihnya dengan cara yang salah.
"Utang dua ratus ribu, Bu Nah. Tunai, hari pertama kerja, seperti yang selalu kubayar utang-utangku sebelum aku dihapus dari kertasku sendiri." Tigor meletakkannya di meja warung Bu Nah dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar dan dengan satu senyum yang sudah lama tidak dipakainya sejak malam ia dibawa dengan kurir jam tiga dari kamar kosnya di belakang terminal. "Dan terima kasih untuk dua ratus ribu yang tidak pernah kau tagih dengan cara yang salah selama aku tidak ada, Bu Nah. Itu utang yang tidak tertulis di buku utang mana pun, dan itu utang yang akan kubayar dengan makan di warungmu setiap hari dengan uang yang kutagih sendiri setiap hari dari kerja yang berdiri dengan kaki yang benar."
Dan Bu Nah menerima dua ratus ribu itu dengan tangan yang tidak berhenti menyentuhnya dengan jempolnya dan dengan air mata yang tidak berusaha disembunyikannya dengan cara yang sudah lama tidak ia sembunyikannya lagi, dan berkata dengan suara yang lebih kasar untuk menutupi sesuatu yang sama:
"Tigor Marpaung membayar utang dua ratus ribu di hari pertama kerjanya setelah dihapus dari kertasnya sendiri. Dan warung ini berdiri untuknya dengan makan yang sama seperti selalu, dengan utang yang tidak pernah kutagih dengan cara yang salah, dengan harga yang sama seperti selalu untuk orang-orang yang bekerja dengan kaki yang benar. Sekarang duduk dan makan, Tigor. Dan Bang Jul, bawa dia ke pangkalanmu dan ajar dia menarik dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar itu dengan cara yang benar — dan jangan biarkan dia menarik lebih dari yang seharusnya ditarik tangan yang luka itu, dan jangan biarkan dia lupa makan dengan cara yang salah lagi."
Dan Bang Jul mengajarinya menarik lagi dengan cara yang benar di hari pertama itu — bukan dengan kata-kata yang banyak, karena Bang Jul tidak pernah bekerja dengan kata-kata yang banyak, melainkan dengan satu pagi penuh di pangkalan depan pasar Cibitung: dengan jatah penumpang yang dibagi rata seperti selalu, dengan istirahat yang dipaksakannya kepada tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar itu setiap dua kali narik, dengan kopi dari warung Bu Nah yang dibayarnya sendiri dan diletakkannya di samping Tigor tanpa satu kata pun tentangnya.
"Jangan ngebut di jalan tol yang debunya masih tebal itu," kata Bang Jul akhirnya, satu kalimat untuk satu pagi penuh, dengan rokoknya yang dijepitnya di bibirnya tanpa dinyalakan karena pangkalannya melarangnya sejak dulu. "Penumpangmu bukan orang yang buru-buru mati. Dan tanganmu itu belum sembuh benar, jadi biar pelan asal sampai — itu cara narik yang benar untuk orang yang baru pulang dari tempat yang salah."
Dan Tigor mengangguk dengan helm yang sudah lama tidak dipakainya di kepalanya, dan menarik penumpang pertamanya setelah dihapus dari kertasnya sendiri — seorang ibu dengan belanjaan pasar yang berat, ke perumahan di ujung jalan yang berdebu — dan membawanya dengan pelan, dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya, dengan debu proyek tol yang menempel lagi di jaketnya seperti dulu, dengan satu perasaan yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun dari kertas-kertas resminya: jalan yang sama yang dilaluinya setiap hari sebelum ia dihapus, dilalui lagi dengan namanya sendiri di kantongnya, dengan utang fiktif tiga belas juta yang sudah dihapus resmi dari namanya, dengan satu keluarga yang menunggunya pulang dengan kertas yang benar.
Dan penumpang pertamanya itu membayarnya dengan uang pas dan dengan satu kalimat kecil yang tidak dibacanya dari penumpang mana pun sebelum ia dihapus: "Terima kasih, Bang. Hati-hati di jalan." Dan Tigor berdiri di pangkalannya dengan uang pas di tangannya dan dengan satu hal yang dituliskannya di kepalanya untuk diceritakannya kepada Surti nanti malam: bahwa ia dibayar lagi dengan namanya sendiri, dengan kerja yang berdiri dengan kaki yang benar, dengan jalan yang sama yang tidak pernah berubah menunggunya pulang.
Dan Tigor menarik lagi dengan Bang Jul di pangkalan depan pasar Cibitung, dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya, dengan utang dua ratus ribu yang dibayarnya tunai di hari pertama kerjanya, dengan satu keluarga yang berdiri dengan kertas yang benar menunggunya pulang dengan makan yang dibelinya sendiri dengan uang yang ditagihnya sendiri setiap hari dari kerja yang berdiri dengan kaki yang benar.
Dan Mursid membacanya dari kejauhan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulisnya dengan tangan yang hangat dengan cara yang sudah lama tidak ia rasakan sejak menjadi hantu: Tigor melunasi utang dua ratus ribu ke Bu Nah di hari pertama kerjanya setelah utang fiktif tiga belas juta dihapus resmi dari namanya — dan Tigor Marpaung menarik lagi dengan Bang Jul di pangkalan depan pasar Cibitung dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya, dengan satu keluarga yang berdiri dengan kertas yang benar menunggunya pulang, dengan satu utang fiktif yang tidak pernah dibuatnya dihapus resmi dari namanya dengan bukti dari pembukuan mesin itu sendiri yang ditulis dengan hormat yang salah.