Sisa konsorsium itu bergerak membalas dengan satu percobaan terakhir yang sudah dibaca Baringin akan datang dari titik-titik kecil yang berdiri dengan kaki yang salah: menculik Tigor lagi dari pangkalan depan pasar Cibitung, dengan dua orang dan satu mobil yang datang dengan cara yang sudah lama dibaca dari pembacaan-pembacaan cara mesin bekerja.
Dan percobaan itu gagal oleh pangkalan yang sudah menjadi mata kampung.
Bang Jul membacanya dari jauh dengan mata yang sudah lama dibacanya dari pangkalan ojeknya yang berdiri di tempat yang sama bertahun-tahun: mobil yang berhenti dengan cara yang salah di tempat yang salah, dua orang yang turun dengan cara yang salah dengan mata yang membaca pangkalan dengan cara yang salah, dan satu Tigor yang menarik di pangkalan itu dengan tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setirnya. Dan Bang Jul bergerak dengan cara yang sudah lama dibacanya akan datang dari pangkalan yang sudah menjadi mata kampung: dengan tiga orang ojek lainnya yang berdiri lebih dekat dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas resmi mana pun, dengan satu peluit yang dibunyikannya dengan cara yang sudah lama disepakati pangkalan itu untuk hal-hal yang tidak pernah ditulis di kertas resmi mana pun.
Dan pangkalan itu berdiri untuk Tigor dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin dari kertas-kertas resminya: dengan Bang Jul dan tiga orang ojek yang berdiri lebih dekat, dengan pedagang-pedagang pasar yang menoleh dengan cara yang sudah lama dibacanya dari kampung yang sudah belajar membaca orang asing dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin mana pun, dengan dua orang dari mobil itu yang membaca satu pangkalan yang berdiri untuk satu ojeknya dengan cara yang tidak bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun — dan memilih pergi dengan mobil yang sama yang datangnya, dengan dua orang yang tidak pernah turun dari mobilnya dengan cara yang salah.
Dua orang itu membaca pangkalan dengan cara yang salah sejak kaki mereka turun dari mobil — sepatu yang terlalu bersih untuk pasar Cibitung di pagi yang berdebu proyek tol, mata yang menghitung kepala satu per satu seperti orang menghitung barang di rak toko, dan satu pertanyaan yang salah yang ditanyakan ke warung yang salah: menanyakan seorang penarik ojek bernama Tigor kepada penjual sayur yang sudah berdiri di sudut yang sama bertahun-tahun. Dan penjual sayur itu menjawab dengan cara yang benar yang sudah lama disepakati kampung itu untuk orang-orang yang bertanya dengan cara yang salah: tidak tahu, dengan mata yang kembali ke timbangannya, dan satu tangan yang bergerak ke bawah meja dengan isyarat kecil yang sudah lama dibaca pangkalan itu dari isyarat-isyarat kecil yang tidak pernah ditulis di kertas resmi mana pun.
Dan Tigor sendiri membaca mereka sebelum Bang Jul meniup peluitnya — membaca dari tangan yang luka yang sudah dirawat dengan benar di setir motornya, membaca dari dingin yang berjalan di punggungnya dengan cara yang sudah dibacanya dari malam-malam di rumah susun tanpa nama itu: dua orang yang berjalan ke arahnya dengan kaki yang salah adalah dua orang yang dikirim mesin yang sudah dijatuhkannya bersama orang-orang yang berdiri bersamanya. Dan tangannya tidak gemetar di setirnya kali ini — tidak seperti malam-malam pertama setelah ia pulang, ketika setiap motor yang berhenti di belakangnya dibacanya sebagai kurir jam tiga yang datang lagi. Tangannya mantap, karena pangkalannya berdiri di sekelilingnya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin dari kertas-kertas resminya.
Dan malamnya, di pangkalan yang sama dengan kopi dari warung sebelah yang dibayar Bang Jul dengan uang receh dari kantong jaketnya, Tigor bertanya satu hal yang sudah disimpannya sejak siang:
"Mereka bakal balik lagi enggak, Bang?"
"Enggak bakal balik dengan cara yang sama," jawab Bang Jul, dengan rokoknya yang dibakar pelan-pelan dan dengan mata yang masih membaca ujung jalan dengan cara pangkalan membaca ujung jalan. "Mesin yang mau mati itu enggak punya banyak kaki lagi, Tor. Mereka coba kau sekali lagi karena kau yang paling gampang mereka baca dari kertas-kertas lama mereka — dan mereka gagal, karena kau enggak lagi berdiri sendirian di kamar kos belakang terminal. Kau berdiri di pangkalan sekarang, dan pangkalan ini mata kampung sekarang, dan mata kampung enggak pernah tidur dengan cara yang bisa dibaca mesin mana pun."
Dan Tigor menarik kopinya dengan dua tangan dan mengangguk dengan cara yang sudah lama tidak dipakainya sejak malam ia dibawa dengan kurir jam tiga — mengangguk sebagai orang yang percaya, bukan sebagai orang yang takut.
Dan dari seberang jalan, Mursid membaca semuanya dengan rokoknya yang tidak dibakarnya di antara jari — membaca pangkalan yang berdiri untuk satu ojeknya, membaca Tigor yang mengangguk sebagai orang yang percaya, membaca dua orang yang pergi dengan mobil yang sama yang datangnya dan tidak akan kembali dengan cara yang sama. Dan kerikil di sepatunya diam — tidak ada yang janggal di pangkalan itu, tidak ada yang salah di kampung yang sudah belajar membaca orang asing, dan hantu tua itu berdiri di seberang jalan dengan pinggang yang linu dan dengan satu halaman yang akan ditulisnya nanti malam dengan tangan yang mantap.
Dan Tigor menarik lagi di pangkalan yang sama di hari berikutnya, dengan Bang Jul yang berdiri di sisinya dengan cara yang sudah lama dibacanya dari Bang Jul sejak malam ia membaca bahwa teman nariknya tidak kabur melainkan dihapus dari kertasnya, dengan satu pangkalan yang berdiri untuknya dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca mesin dari kertas-kertas resminya.
Dan Mursid membacanya dari kejauhan dengan satu halaman yang akan ditulisnya di buku tulisnya dengan tangan yang mantap: sisa konsorsium itu bergerak membalas dengan satu percobaan menculik Tigor lagi dari pangkalan depan pasar Cibitung, dan percobaan itu gagal oleh pangkalan yang sudah menjadi mata kampung dengan Bang Jul dan tiga orang ojek yang berdiri lebih dekat. Dan percobaan itu adalah percobaan terakhir dari titik-titik kecil yang berdiri dengan kaki yang salah — dan titik-titik kecil itu akan jatuh satu per satu dengan surat-surat yang berdiri di atas kaki yang benar, dengan sabar yang sama dengan sabar yang membawa kita ke gudang bawah tanahnya dengan kunci yang benar, dengan dua pintu dan tiga tangan yang tidak pernah bekerja bersama untuk menulisnya.