BUKU tulis pertama itu penuh di minggu kedelapan sejak malam Mursid menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah, dan buku tulis kedua itu dibuka dengan halaman pertama yang bukan daftar orang yang dihapus: daftar orang yang ditemukan, dengan nama-nama dari perang itu di baris-baris pertamanya.
Buku tulis pertama itu berdiri penuh di mejanya di kamar tanpa nama itu, dengan halaman-halaman yang dibacanya dari dua bulan menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah: aturan enam untuk orang mati di halaman pertamanya, dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya untuk dibaca setiap pagi sebelum apa pun. Daftar tiga puluh delapan nama dari buku tamu dan daftar kelurahan, dengan tanggal-tanggal yang dibacanya dari pembacaan-pembacaannya dari bawah mesin itu selama dua bulan menjadi hantu. Peta mesin yang berdiri utuh dari lantai dua ke klinik ke rumah duka ke yayasan ke gudang bawah tanah dengan kunci yang disalin Yopi dengan tangan yang gemetar dua minggu sebelumnya. Dan satu halaman dari pembukuan mesinnya yang dibacanya dari gudang bawah tanahnya dengan kamera kecil di tangannya dan dengan dua petugas Baringin di dua sudut dengan surat yang berdiri di tangan mereka.
Dan buku tulis kedua itu dibuka dengan halaman pertama yang bukan daftar orang yang dihapus: daftar orang yang ditemukan, dengan nama-nama dari perang itu di baris-baris pertamanya — Tigor Marpaung di baris pertama dengan tanggal pulangnya dari rumah susun tanpa nama, Ratna di baris keduanya dengan nama yang diucapkannya dengan cara yang sakral di kamar aman jalur Linda, dan nama-nama dari sembilan belas yang dipulihkan satu per satu dengan jalur administratif yang lambat dan sah yang dibaca Linda dari luar dengan kesabaran orang yang sudah lama bekerja dengan kertas.
Dan sebelum menulis baris-baris pertama buku tulis kedua itu, Mursid membaca ulang buku tulis pertama itu dari halaman pertamanya sekali terakhir — dengan rokok yang dinyalakannya pelan-pelan di kamar tanpa nama itu, dengan motor bebeknya berdiri di bawah dengan bensin di garis E seperti selalu, dengan pinggangnya yang linu mengingatkannya bahwa dua bulan menjadi hantu itu dibayar tubuhnya dengan harga yang tidak pernah bisa dihitung dari kantong-kantong orang kecil.
Ia membaca ulang aturan enam untuk orang mati yang ditulisnya dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya di malam pertama ia menjadi hantu, dan membacanya dengan satu hal yang tidak dibacanya malam itu: aturan-aturan itu ditulis dengan tangan yang takut, oleh orang yang baru saja membaca surat kematiannya sendiri akan terbit besok pagi — dan delapan minggu kemudian tangan yang sama menulis daftar orang yang ditemukan dengan tangan yang lebih mantap, di buku tulis kedua yang dibuka dengan nama-nama yang pulang.
Dan ia membaca ulang baris-baris tentang kawan lamanya dari Bekasi yang pernah mengajarinya membaca orang dari cara mereka berdiri di depan pintu, dan tentang adiknya yang sudah lama tidak dihubunginya sejak keluarganya menjauh malam yang tak terlupakan itu — dan menuliskan satu baris kecil di tepi halaman terakhir buku tulis pertama itu, dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya, untuk dirinya sendiri yang akan membacanya lagi kelak:
Orang yang dihapus tidak pernah benar-benar sendirian, selama ada satu buku tulis anak sekolah yang mencatatnya dengan benar, dan satu tangan yang menulisnya dengan benar, dan satu malam yang dijalaninya dengan benar demi satu malam yang benar berikutnya. Kertas boleh menghapus nama — napas tidak pernah bisa dihapus kertas mana pun, dan napas itu yang kucatat di sini satu per satu, dengan tangan yang sudah tidak takut lagi.
Dan ia menutup buku tulis pertama itu dengan dua tangan, dengan hormat yang benar untuk pembukuan yang benar — pembukuan satu orang kecil yang bekerja dari bawah mesin selama dua bulan menjadi hantu, dengan kertas melawan kertas, dengan napas melawan kertas, dengan satu daftar yang berdiri lagi sebagai daftar orang yang ditemukan di buku tulis kedua yang menunggu di mejanya.
Dan Mursid menuliskan baris-baris pertama buku tulis kedua itu dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman buku tulis pertama itu, dan menuliskannya dengan satu kepala yang berdiri di atasnya dengan cara yang berbeda dari kepala-kepala buku tulis pertama itu: DAFTAR ORANG YANG DITEMUKAN, dengan tanggal pembukaannya, dengan satu baris kecil di bawahnya yang ditulisnya dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya untuk dibaca setiap pagi sebelum apa pun juga:
Buku tulis pertama penuh dengan daftar orang yang dihapus, dan buku tulis kedua dibuka dengan daftar orang yang ditemukan. Dan daftar itu tidak akan pernah penuh dengan cara yang sama dengan buku tulis pertama itu penuh — karena daftar orang yang ditemukan itu tidak pernah selesai ditulis dengan baris terakhirnya, dan baris-barisnya akan terus ditulis dengan nama-nama yang pulang dengan kaki yang benar, dengan jalur yang benar, dengan orang-orang yang berdiri untuk mengembalikan nama-nama mereka tanpa dibayar untuk berdiri. Dan itu pekerjaan yang tidak pernah selesai, dan itu pekerjaan yang tidak perlu selesai: selama ada yang menghapus, akan ada yang mencari, dan selama ada yang mencari, buku tulis kedua ini akan terus ditulis dengan nama-nama yang pulang dengan kaki yang benar.
Dan ia menutup buku tulis pertama itu dan menyimpannya di tempat yang sudah dibacanya dari pembacaan-pembacaannya dari pembukuan-pembukuan yang disimpan di tiga tempat yang tidak bisa dibakar sekaligus, dan membuka buku tulis kedua itu di mejanya di kamar tanpa nama itu, dan menulis baris pertama daftar orang yang ditemukan dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman buku tulis pertama itu — dan menuliskannya dengan satu malam yang tidak pernah ia bayangkan sejak malam ia menjadi hantu dengan surat kematian yang diterbitkan dengan kaki yang salah: malam dengan buku tulis kedua yang dibuka dengan daftar orang yang ditemukan, dengan nama-nama yang pulang dengan kaki yang benar, dengan satu buku tulis pertama yang penuh dengan daftar orang yang dihapus yang berdiri sebagai pembukuan dari perang yang sudah berlalu dengan kaki yang benar.