Order pertama di kantor kecil itu datang di minggu pertama berdirinya, dan datangnya dengan cara yang sama dengan cara order pertama datangnya dulu dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya: dengan satu ibu yang datang dengan tangan yang tidak berhenti bergerak di atas tas kecilnya, dengan mata yang sudah lama tidak tidur dengan cara yang sudah lama dibaca Mursid dari mata-mata orang yang kehilangan orang-orang yang dicarinya.
Seorang ibu mencari anaknya yang hilang setelah ditipu penyalur kerja palsu — anak laki-laki yang berangkat dengan janji kerja di luar kota dengan penyalur yang membawa KTP-nya dan tidak pernah mengembalikannya, dengan telepon yang tidak pernah dijawab lagi sejak minggu-minggu pertama, dengan satu ibu yang mencarinya ke kantor-kantor yang menjawabnya dengan cara yang salah dengan kaki yang salah yang berdiri dengan cara yang salah juga.
Dan ibu itu menceritakannya dengan cara orang-orang yang sudah lama tidak didengar menceritakannya — tergesa, melompat-lompat, kembali ke awal setiap kali suaranya hampir patah: anaknya berangkat di akhir musim kemarau dengan tas ransel dan dua lembar pakaian dan janji kerja di pabrik luar kota dengan gaji yang tertulis di selebaran, dan penyalur itu meminta KTP-nya untuk dibereskan administrasinya dan tidak pernah mengembalikannya, dan teleponnya dijawab dua minggu pertama dengan suara yang lelah dengan cerita asrama yang penuh dan kerja yang berat — lalu tidak pernah dijawab lagi.
"Saya ke alamat yang di selebaran itu, Pak. Kantornya enggak ada — ruko kosong. Saya ke polisi sektor, katanya orang dewasa pergi merantau itu bukan orang hilang, suruh tunggu. Saya ke kelurahan, suruh ke kecamatan. Ke kecamatan, suruh bawa surat ini-itu yang enggak pernah saya mengerti. Semua jawabnya benar menurut kertas mereka, Pak. Tapi anak saya enggak pernah pergi tanpa kabar dua hari pun seumur hidupnya, dan sekarang sudah empat bulan, dan kertas mereka enggak ada satu pun yang menghitung napas anak saya."
Dan Mursid mendengarnya dengan cara yang sudah lama didengarnya dari mata-mata orang yang kehilangan: kertas melawan napas, lagi, dengan kaki yang salah berdiri di atas napas yang benar — dan kerikil di sepatunya terasa sejak kalimat pertama ibu itu.
Dan sebelum mencatatnya ia bertanya dengan cara yang sudah lama dipakainya membaca orang hilang — pelan, satu per satu, dengan jeda-jeda yang memberi ingatan ruang untuk bekerja: jam berapa telepon terakhir dijawab, dan dari nada suaranya anak itu bicara sebagai orang bebas atau orang yang dibacakan kalimatnya; siapa nama teman sekampung yang berangkat bersamanya dengan penyalur yang sama; selebarannya masih ada atau tidak, dan di bagian mana hurufnya paling kecil. Dan ibu itu menjawabnya satu per satu dengan mata yang mulai membaca bahwa orang di hadapannya membaca dengan cara yang tidak pernah dibacanya dari kantor-kantor yang menjawabnya dengan cara yang salah — dan dari jawaban-jawaban itu Mursid sudah membaca tiga titik pertama untuk esok pagi: terminal tempat bus rombongan itu berangkat, warung-warung di sekitarnya yang membaca orang-orang yang hilang dengan cara yang benar, dan satu teman sekampung yang mungkin masih menyimpan nomor yang berhenti dijawab itu.
Dan Mursid mencatatnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis halaman-halaman buku tulis pertamanya — dengan nama anak laki-laki itu, dengan tanggal hilangnya, dengan penyalur palsu yang membawa KTP-nya dan tidak pernah mengembalikannya, dengan satu ibu yang mencarinya dengan mata yang sudah lama tidak tidur dengan cara yang sudah lama dibacanya dari mata-mata orang yang kehilangan orang-orang yang dicarinya.
Dan ia menjawabnya dengan kalimat yang menjadi tanda tangannya sejak malam ia menerima order pertama dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya:
"Kita cari sampai ketemu, Bu. Itu kerjaan saya sekarang — mencari orang-orang yang hilang dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun, dengan buku tulis anak sekolah dan motor bebek dengan bensin di garis E dan warung-warung yang membaca orang-orang yang hilang dengan cara yang tidak pernah bisa dibaca dari kertas-kertas resmi mana pun juga. Dan anak Ibu akan kita cari sampai ketemu, dengan cara yang sama dengan cara kami mencari orang-orang yang hilang sebelumnya, dengan harga yang sama dengan harga yang tidak pernah berubah sejak malam pertama kantor ini berdiri: lima ratus ribu seminggu, dan empat ratus untuk yang menggadaikan gelang."
Dan ibu itu membacanya dengan mata yang sudah lama tidak tidur dengan cara yang sudah lama dibacanya dari mata-mata orang yang kehilangan orang-orang yang dicarinya — dan untuk pertama kalinya sejak minggu-minggu pertama anaknya berangkat dengan penyalur palsu yang membawa KTP-nya dan tidak pernah mengembalikannya, mata itu membaca satu halaman yang tidak pernah dibacanya dari kantor-kantor yang menjawabnya dengan cara yang salah dengan kaki yang salah itu: satu orang yang menjawabnya dengan kita cari sampai ketemu, dengan harga yang sama dengan harga yang tidak pernah berubah sejak malam pertama, dengan buku tulis anak sekolah yang mencatat nama anaknya dengan tangan yang lebih mantap dari tangan-tangan yang menulis dengan kaki yang salah.
Dan Mursid mencatatnya di buku tulis keduanya dengan tangan yang lebih mantap — dan satu order pertama di kantor kecil di atas warung Bu Tarmi itu berdiri dengan satu ibu yang mencari anaknya yang hilang setelah ditipu penyalur kerja palsu, dengan satu kalimat yang menjadi tanda tangannya sejak malam pertama itu: kita cari sampai ketemu, Bu. Dan satu buku tulis kedua itu mulai ditulis dengan nama-nama yang akan dicarinya dengan cara yang sama dengan cara ia mencari Tigor Marpaung dari kamar kontrakan yang bocor dengan buku tulis anak sekolahnya dan satu order dari perempuan yang menggadaikan gelang dengan harga yang lebih murah dari harga yang seharusnya.