Bismillah...
"Les mau keluar ya? Mami nitip dong."
Ales baru saja hendak keluar rumah saat Maminya muncul sambil membawa tempat makan kucing. Wajah Maminya terlihat ceria.
"Nitip apa mi? Kok kelihatannya senang banget?" tanya Ales, ikut tersenyum.
Mami Ales terkekeh, "Itu anaknya Angelica ternyata udah lahir, imut banget tau Les, nanti kamu lihat deh pulang dari tempatnya Zio," kata Lilian riang.
Ales mengangkat alis, agak kaget. "Serius Mi? Udah lahir?"
Lilian mengangguk, "Iya, itu ada di belakang, warnanya hitam putih, untung bulunya kayak Angelica," jelas Maminya senang.
Angelica adalah kucing jenis angora kesayangan Mami Ales. Maminya merawat Angelica dari kecil. Sekarang umur Angelica sudah tiga tahun. Awalnya Angelica kucing manis yang penurut, namun entah kenapa sejak berteman dengan kucing kampung yang sering bermain ke rumahnya, Angelica jadi liar. Takut ada masalah, Maminya memeriksa Angelica ke dokter hewan dan ternyata penyebab keliaran Angelica karena ia sedang hamil. Dua minggu yang lewat Angelica kabur dari rumah. Maminya cemas sekali. Maminya bahkan sempat mengupload foto Angelica ke instagramnya, melaporkan ada kucing hilang. Untungnya sekarang Angelica sudah ketemu.
"Mami nitip makanan kucing ya Les, ah iya, sekalian bunga lili," ujar Lilian.
Ales tersenyum kecil. Maminya memang suka sekali dengan bunga lili. Biasanya Papinya yang selalu membelikan, tapi Papinya sekarang sedang di luar negri.
"Itu aja Mi?" tanya Ales. Lilian mengangguk.
"Oh iya, soal perjodohan kamu kemarin.."
Saat hendak berbalik Ales dibuat terdiam oleh Maminya. Hah, lagi-lagi masalah itu. "Kenapa Mi?" tanya Ales mencoba tetap tenang.
"Mami belum ketemu orangnya," kata Lilian lalu nyengir. Ales menghembuskan napas lega.
"Gak apa-apa Mi, Ales juga gak butuh cepat kok," sahut Ales santai.
"Kamu emang gak butuh cepat, tapi Mami butuh, masa kamu kalah sama Angelica?" ledek Maminya. Ales merengut.
"Ales pergi dulu," kata Ales lalu mencium kening maminya sejenak. Lilian mengangguk.
"Hati-hati Les!"
"Iya Mi," sahut Ales.
☔☔☔
Alesha menatap laptopnya dengan malas. Mengetik beberapa saat lalu mengerutkan kening karena tidak tau mau mengetik apa lagi. Ia berusaha membuka jurnal-jurnal yang sudah ia kumpulkan semalaman namun tidak satupun dari jurnal itu yang memberinya ide untuk menulis. Gadis itu mendesah pelan lalu memutuskan untuk meletakkan kepala di atas lipatan tangan. Alesha menyerah.
"Tumben sendirian, Sagara mana Sha?"
Fani –sahabat perempuan satu-satunya yang dimiliki Alesha- muncul tiba-tiba di sebelahnya, ikut mengamati proposal yang sedang dikerjakan Alesha dengan alis bertaut.
"Masih bab satu?" tanya Fani tanpa dosa. Alesha mendecak sebal .
"Diem deh Fan, gue beneran gak ada ide nih mau nulis apaan," gerutu Alesha. Fani tertawa kecil.
"Minta tolong dong sama Sagara, dia kan pinter,” usul Fani santai. Alesha langsung menggeleng.
"Gak deh, lagi diem-dieman gue sama dia," kata Alesha lalu kembali mencoba mengetik.
"Kenapa?" tanya Fani, memutuskan untuk duduk di sebelah Alesha sambil melepas tasnya. Fani juga ikut membuka laptopnya membuat Alesha langsung mengintip ke layar gadis itu. Proposal Fani sedang jalan bab dua.
"Wah Fan, lo udah masuk landasan teori?" ujar Alesha sambil menatap layar laptop Fani takjub. Gadis itu mengangguk tidak semangat.
"Gue mah gak ada apa-apanya, Sagara udah bab tiga," ucap Fani lalu mendesah kecewa. Alesha menatap gadis itu datar. Apalah daya Alesha yang masih bab satu.
"By the way, kenapa lo diem-dieman sama Sagara?" tanya Fani yang lebih tertarik dengan topik Sagara daripada proposal mereka. Alesha menghela napas. Mengingat kejadian pagi ini.
Tadi pagi Sagara telat bangun. Alhasil Alesha jadi telat ke kampus. Padahal hari ini adalah deadline terakhir pengumpulan tugas laporan observasinya. Tapi gara-gara cowok itu, tugas Alesha ditolak dosen.
"Dia mah enak, tugasnya udah dia kumpul sejak dua minggu lewat, nah gue? Observasi aja baru kelar seminggu yang lalu, lo tau lah kalau urusan bikin laporan gue lelet banget," jelas Alesha kesal. Fani terkekeh. Mengelus kepala Alesha lembut.
"Tenang aja, tahun depan masih ada,” katanya sambil menepuk bahu Alesha.
"Sialan lo!" rutuknya sambil mencubit pinggang Fani.
Saat sibuk misuh-misuh pada Fani, gadis itu tiba-tiba terdiam. Tatapannya mendadak terpaku pada seseorang yang muncul di depan mereka berdua.
"Eh."
☔☔☔
"Gue udah di kampus nih, lo dimana sih?"
Ales terlihat tidak nyaman berdiri di dekat kantin mahasiswa. Seperti biasa, Zio si juara telat mengerjai Ales lagi. Cowok yang menjadi sahabat Ales sejak zaman kuliah itu awalnya berkata sudah ada di kantin sebelum Ales datang, karena itulah Ales bergegas datang, namun ternyata Zio bohong, sahabatnya itu ternyata masih di ruang dosen.
"Gue tadi udah di kantin kok, tapi tadi wakil dekan manggil gue," jelas Zio di seberang.
"Ngeles mulu lo, cepat kesini!" ujar Ales agak ngegas. Zio tertawa tak tau diri.
"Iya iya sayang, sabar ya."
"Cepat!"
Klik.
Sambil menunggu Zio, Ales mengedarkan pandangannya. Kampus tempat Zio mengajar cukup nyaman, banyak pohon rimbun dan tempat nongkrong. Senyum Ales mendadak timbul, ia jadi ingat masa-masa kuliahnya yang juga sering nongkrong begitu.
Zio, Dara, Ales dan Rannan. Aih, Ales jadi gamon lagi kan.
Saat menyesap kopi panasnya, tatapan Ales mendadak terfokus pada seorang mahasiswi yang duduk sendirian di bawah pohon rimbun. Rambutnya hitam pekat dan berkilau, persis seperti iklan shampo di tv. Ujung rambutnya sedikit ikal. Entah kenapa Ales suka melihatnya. Saat Ales mencoba memfokuskan pandangan pada wajah gadis itu, Ales mendadak terdiam. Wajah itu membuatnya teringat pada seorang bocah SMP yang beberapa hari lalu menggodanya di mall.
Nama aku, Alesha! Om bisa panggil aku Shasha!
Mata Ales membulat kaget. Lho? Itu gadis itu kan? Dia sudah kuliah?!
"Gue tau lo jomblo udah lama, tapi menurut agama islam, menatap non mahram gak boleh sampai begitu."
Celetukan Zio membuat Ales tersentak dari lamunannya. Pemuda itu menoleh, menatap Zio yang tengah menggelengkan kepalanya kecewa.
"Ngakunya belum move on, lihat mahasiswa bening dikit langsung lemah iman, cih,” sindir Zio.
"Diem lo! Udah ngaret masih berani banyak tingkah," balas Ales sewot. Ternyata benar kata Maminya, Zio sepenuhnya lupa dengan wajah gadis itu.
Zio terkekeh tanpa dosa, "Hehe, sabar dong, gue pesan dulu ya? Lo mau makan?" tanya Zio segera mengalihkan pembicaraan sebelum Ales kembali
mengomelinya. Ales menggeleng.
"Gak deh, gue minum aja," jawab Ales sambil mengangkat gelas kopinya. Zio mengangguk mengerti.
"Okeh."
Setelah Zio pergi, Ales kembali memperhatikan gadis itu, sekarang gadis itu sudah duduk dengan temannya. Melihat ekspresinya yang tertawa, sedih dan merengut membuat Ales tanpa sadar senyum-senyum sendiri. Gadis itu lucu juga ternyata.
Ekspresi Ales berubah takjub saat seorang kakek-kakek penjual tisu keliling lewat di dekat Alesha. Tanpa ragu gadis itu bangkit dari duduknya lalu memberikan satu lembar lima puluh ribu kepada kakek tersebut. Tidak hanya itu Alesha bahkan menyempatkan diri untuk berbincang dengan sang kakek, ia mengambil beberapa kotak tisu lalu tersenyum riang saat kakek itu mengucapkan beberapa kata, Ales diam-diam memperhatikan semuanya.
Sepertinya anak baik, pikir Ales sambil tersenyum.
"Les, merhatiin apa sih?"
Zio muncul dengan satu plastik gorengan plus satu gelas teh dingin. Pemuda itu mengikuti arah pandang Ales dengan kening berkerut samar.
"Oh itu!" seru Zio tiba-tiba jadi bersemangat.
Ales mendelik saat Zio menunjuk ke arah Alesha. Apa jangan-jangan Zio ingat gadis itu siapa? Lagipula kenapa Ales jadi panik begini?
"Lo mau tisu? Mau gue beliin? Emang panas banget sih hari ini," celetuk Zio sambil menyedot es tehnya. Ales menghembuskan napas. Untuk sejenak merasa lega memiliki teman yang punya ingatan jangka pendek.