Bismillah...
From : Bu Siska
Saya tunggu di ruang dosen sekarang
Alesha mengerutkan kening saat membaca pesan dari Bu Siska, dosen yang menolak tugasnya tadi pagi. Perasaannya campur aduk. Antara GR sang dosen berubah pikiran akan menerima laporan observasinya sekaligus khawatir jika yang terjadi justru malah sebaliknya.
"Weh, ayo buruan Sha! Kayaknya Bu Siska mau nerima laporan lo," ujar Fani yang mengintip chat Alesha. Alesha menghela napas.
"Lo yakin? Bisa aja Bu Siska belum puas marahin gue," kata Alesha ragu.
Fani bergumam, "Gue rasa bukan karena marah deh, coba aja dulu, daripada penasaran," saran Fani. Alesha menelan ludah lalu mengangguk setuju.
"Lo temenin ya?" katanya penuh harap.
Fani nyengir, "Hem, gak deh, gue jagain laptop sama tas lo aja di sini," kata Fani.
Alesha mendecih. "Yah, gak setia kawan lo, ya udah deh, lo jagain laptop sama tas gue ya," ujar Alesha sambil bangkit dari duduknya. Fani mengacungkan jempol.
"Siap bos!"
Alesha lalu bergegas ke ruang dosen, di sana Bu Siska terlihat sedang duduk sendirian sambil memeriksa tugas mahasiswa. Saat melihat Alesha datang, Bu Siska langsung tersenyum padanya. Tapi Alesha belum merasa tenang. Ia kenal sekali dengan sifat dosennya yang satu ini. Senyum-senyum tapi penuh kejutan.
"Siang Bu," ujar Alesha sopan. Bu Siska mengangguk.
"Siang, tadi pagi saya menolak tugas kamu ya?" tanya dosennya tetap dengan wajah ramah. Alesha mengangguk.
"Saya berubah pikiran, kamu boleh mengumpulkan tugas kamu untuk kali ini, tapi dengan syarat, kedepannya tidak boleh telat lagi,” ucap Bu Siska membuat Alesha yang masih takut akan dimarahi lagi jadi melotot kaget.
"Se-serius bu?" katanya masih tak percaya. Bu Siska mengangguk.
“Serius.”
"Alhamdulillah!" pekik Alesha gembira membuat beberapa dosen yang ada di sana sampai menoleh ke arahnya.
"Makasih Bu, makasih," kata Alesha sambil menyalami dosennya berkali- kali.
"Iya sama-sama," kata Bu Siska sambil menerima laporan yang memang sudah dipersiapkan Alesha di tangannya.
Setelah tugasnya diterima, Alesha merasa masih kurang puas, ia penasaran kenapa dosennya tiba-tiba berubah pikiran. Jadi daripada rasa penasarannya berubah menjadi penyakit ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Kalau saya boleh tau, apa yang bikin ibu berubah pikiran?" tanya Alesha hati-hati. Bu Siska yang hendak memeriksa tugas Alesha mendongak, menatap gadis itu sejenak. Dosennya itu lagi-lagi tersenyum, tapi sekarang dengan pipi merona.
"Sagara tadi datang ke ruangan saya, dia menjelaskan semuanya sampai memohon-mohon, katanya biar nilai dia yang dikosongkan asal tugas kamu diterima," jelas Bu Siska. Alesha melongo, tidak menyangka sepupunya senekat itu.
"Melihat perjuangan pacar kamu membuat saya keingat suami, dulu kami juga begitu," tambah Bu Siska sambil menepuk bahu Alesha pelan.
"Langgeng ya," bisiknya.
Alesha tidak tau mau menjawab apa, yang ia ingat, reaksi yang diberikannya hanya cengiran canggung lalu segera melangkah keluar dari ruang dosen dengan langkah kaku seperti robot. Gadis itu membuang napas cepat, berniat akan mencari Sagara detik itu juga.
☔☔☔
Radi sedang duduk di atas motornya saat melihat gadis yang beberapa bulan terakhir menjadi pacarnya mendekat. Gadis itu tersenyum dengan riang gembira bertolak belakang dengan ekspresi Radi yang terlihat datar.
"Udah lama sayang?" tanya Zeline sesampainya di sebelah Radi. Radi menggeleng.
"Enggak, gue baru sampai," ujarnya datar dengan pandangan tajam membuat Zeline yang hendak meraih tangan Radi jadi membatalkan niatnya. Tapi meski begitu Zeline tetap menampilkan wajah penuh senyum untuk Radi.
"Ada apa tiba-tiba ngajak ketemu? Biasanya susah banget ngajakin kamu ketemu," ucap Zeline manis.
"Ada yang mau gue bicarain, lo mau disini atau kita makan dulu?" tanya Radi. Zeline merasa perasaannya tak enak. Tatapan Radi terlihat lebih datar dari biasanya.
"Disini aja, kamu mau ngomong apa?" tanya Zeline balik, mencoba terlihat biasa-biasa saja. Radi mengangguk.
"Gue mau putus," kata Radi, pelan. Zeline menatapnya tak percaya.
"Kenapa?"
Radi diam sejenak sambil melipat tangannya di depan d**a. “Kenapa ya?” katanya dengan ekspresi datar. Ia melirik gadis itu dengan ujung mata. “Bosan mungkin?” ucapnya.
Tanpa pikir panjang Zeline yang sedari tadi berusaha menahan emosi langsung menampar Radi dengan sangat keras membuat Radi meringis saat merasakan rasa anyir di lidahnya. Radi yakin jika bibirnya sudah berdarah sekarang.
"Dari awal gue emang salah nerima lo. Dasar ****"
Radi meringis saat mendengar segala u*****n yang keluar dari mulut Zeline. Zeline cantik, sangat cantik. Tapi sebenarnya ini yang membuat Radi rela memutuskannya. Selain karena saran dari Sagara, Radi memang sudah berniat ingin mengakhiri hubungannya sejak lama. Radi hanya butuh waktu untuk memikirkan alasan yang tepat untuk memutuskan gadis itu, namun setelah mendengar kalau Alesha juga tidak menyukai pacarnya, Radi merasa tidak perlu untuk memikirkan alasan lagi.
“Gue gak suka cewek kasar Lin,” kata Radi tiba-tiba membuat Zeline yang masih memakinya langsung terdiam, menyadari jika alasan bosan yang dikatakan Radi tadi hanyalah untuk memancing segala u*****n kasarnya keluar.
“Radi, aku cuma terbawa suasana, aku aslinya gak kayak gini kok, kamu tau sendiri kalau aku selalu bersikap manis sama kamu, jadi aku mohon jangan tinggalin aku,” rengek Zeline sambil memegangi lengan Radi.
Radi menghela napas lalu menggeleng tegas, ia melepaskan cekalan tangan Zeline di lengannya. “Terimakasih untuk beberapa bulan belakangan tapi maaf gue udah gak bisa lanjut lagi,” ucapnya membuat Zeline yang hanya bisa terdiam pasrah.
Radi tersenyum sedikit di depannya sebelum melajukan motor, meninggalkan Zeline yang hanya bisa menangis dalam penyesalan.
☔☔☔
Alesha baru saja hendak mencari Sagara saat melihat Radi duduk sendirian di dekat minimarket fakultas tekhnik. Cowok itu terlihat meringis beberapa kali sambil menyentuh tepi bibirnya.
"Radi?"
Alesha bergegas mendekat kepada Radi dan menepuk bahunya.
"Lo kenapa?" katanya kaget saat melihat bibir pemuda itu berdarah.
Radi mengerjapkan matanya kaget saat melihat Alesha tiba-tiba saja muncul di sebelahnya.
"Gak kenapa-ssh!"
Alesha menghela napas. Memutuskan untuk menggagalkan sementara niatnya untuk menemui Sagara. "Gue beli obat dulu, lo jangan kemana-mana," kata Alesha dengan nada mengancam membuat Radi mengangguk pasrah.
Alesha segera bergegas ke minimarket, membeli beberapa bahan yang biasa ia gunakan untuk menangani luka Radi. Tidak sekali dua kali Alesha menemui Radi dalam keadaan luka, padahal Radi terkesan seperti anak pendiam dan jarang memancing masalah, tapi entah kenapa ia sering terlibat perkelahian dengan orang-orang.
Mungkin ekspresi sengaknya yang membuat Radi jadi sasaran empuk perkelahian. Yah, walaupun hasil akhirnya Radi yang menang tapi tetap saja itu bukan hal yang baik.
"Udah lo putusin?" pertanyaan itu membuat Alesha yang baru saja keluar dari minimarket segera berhenti berjalan. Mata Alesha membulat saat melihat Sagara duduk dengan Radi sambil membicarakan sesuatu membuat gadis itu memutuskan untuk bersembunyi di balik pohon dan menguping dari jauh.
"Udah," jawab Radi singkat.
Sagara terkekeh pelan.
"Demi Alesha mah apasih yang gak mau Radi lakuin, bibir berdarah pun gak masalah,” ledek Sagara membuat Radi mendecih walau langsung meringis lagi.
"Jangan ngelawak lo, gue lagi gak bisa ke-"
"Apa maksudnya?"
Sagara mendelik saat Alesha tiba-tiba datang dengan wajah murka. Di tangannya ada obat antiseptik dan kapas. Sagara mengerjap, melirik Radi dengan tatapan, "Kok dia bisa ada di sini?"
"Siapa yang putus?" tanya Alesha lagi.
Sagara menelan ludah, ia tak tau jadinya akan ketahuan begini.
"Gue yang putus," jawab Radi, datar.
"Kenapa? Gara-gara gue?" desak Alesha dengan nada marah. Radi melirik Sagara untuk meminta bantuan tapi sia-sia, sahabatnya itu hanya menunduk dalam.
Radi menghela napas, menatap Alesha serius, "Bukan, gue emang mau mutusin dia sejak lama, tapi gak ada alasan yang tepat, jadi kebetulan Sagara juga ngasih ide, jadi yah-"
"Ya ampun syukur deh kalau gitu, gue udah lama pengen banget bilang ke lo, tapi takut lo marah," potong Alesha cepat, gadis itu bahkan sampai menangis terharu saking leganya membuat Radi yang sebenarnya sedikit khawatir Alesha akan marah jadi terdiam. Terlebih Sagara, ia pikir Alesha akan mengamuknya karena sudah ember ke Radi soal Alesha yang tak suka dengan pacar Radi tapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya.
Alesha menyeka air matanya cepat-cepat. Lalu menatap Sagara lekat. "Gue tau ini akan terdengar menggelikan di antara kita, tapi hari ini lo baik banget tau, makasih ya," ujar Alesha tulus. Sagara terkekeh pelan sambil mendekat pada gadis itu.
"Untuk Alesha apasih yang enggak," celetuknya menggoda, mengira Alesha akan langsung memukul lengannya seperti biasa, namun di luar ekspektasinya gadis itu malah tersenyum manis membuat pemuda itu tertegun.
"Makasih Sagara," lirihnya tulus.
Sagara terdiam, cepat-cepat kembali menegakkan tubuhnya kembali. Senyuman itu ... membuatnya sedikit gugup.
"Iya, sama-sama," sahutnya pelan.
☔☔☔