Bismillah...
"Mampir bentar ya, gue mau beli bunga," ujar Aksal sambil melepas sabuk pengamannya.
Tadi siang Aksal dan Alesha berada di kelas mata kuliah umum yang sama, karena itulah cowok itu yang bertugas mengantarnya pulang. Biasanya Sagara yang menjemputnya. Atau kalau lagi bosan lihat wajah Sagara dia meminta Radi yang mengantarnya pulang. Tapi kalau sama Radi agak ribet, soalnya ceweknya posesif. Untung sekarang sudah putus.
Alesha melirik toko bunga yang ada di pinggir jalan. Tersenyum kecil. Warna toko itu cukup nyentrik, warna telur asin. Sejenak Alesha jadi ingat iklan cat rumah gara-gara melihat warnanya.
Mas kuliiiin~
"Bunganya buat siapa Sal? Velin?" tanya Alesha sambil berjalan pelan bersama Aksal menuju toko bunga itu.
Aksal tersenyum malu.
"Enggak, buat Lestari," lirihnya.
Alesha mendelik.
"Lah, bukannya lo kemarin lagi PDKT sama Velin?"
Aksal mengedikkan bahu sok keren, "Bosan gue, Velin terlalu agresif, gue demennya sama yang cuek-cuek-jutek," jelas Aksal santai.
Alesha menghela napas. Kesal dengan kebiasaan buruk sahabatnya itu. Bagaimanapun Alesha perempuan. Ia paham sekali rasa sakit diperlakukan oleh cowok macam Aksal ini.
"Lo kapan tobatnya sih? Gonta ganti pacar terus," kata Alesha jengkel membuat Aksal malah terkekeh. Tidak sekali dua kali Alesha memarahinya karena kebiasaan buruknya ini. Aksal sih tidak masalah diceramahi berapa kali pun, melihat Alesha marah-marah malah menghiburnya.
"Yah walaupun gonta ganti seenggaknya pasangan gue jelas asal-usulnya, gak kayak lo, gak ada kejelasan,” ledek Aksal. Alesha merengut mendengar Aksal mengungkit-ungkit masalahnya beberapa hari yang lalu. Sampai sekarang ia belum bertemu lagi dengan cinta pertamanya itu.
"Doaain dong biar gue ketemu lagi sama om ganteng gue,” ucap Alesha memohon. Aksal bergumam sejenak lalu menengadahkan tangan seperti sedang berdoa.
"Mudah-mudahan Alesha dan om gantengnya gak pernah ketemu lagi, aamiin," ucap Aksal khusyuk.
Alesha menggembungkan pipi kesal, "Biasanya doa-doa orang jahat kayak lo gini dikabulin tapi jadi kebalikannya," ujar gadis itu.
Kali ini Aksal tak menanggapi ocehan Alesha lagi, ia tiba-tiba terpaku begitu saja.
"Cantik banget," desisnya dengan mata berbinar.
Alesha mengikuti arah pandangan Aksal. Tersenyum saat melihat jejeran bunga warna warni yang memukau. Ada kupu-kupu yang terbang kesana kemari menambah kesan alami di toko bunga itu. Alesha menarik nafas dalam, mencium wangi segar yang menguar dari toko bunga itu. Kenapa ia tak pernah tau ada tempat secantik ini?
"Bunganya cantik banget ya?" tanya Alesha sambil tersenyum tenang.
Aksal mengangguk setuju. "Iya, tapi yang itu lebih cantik."
Alesha mengedip dua kali. Sekarang benar-benar mengikuti arah mata Aksal. Seorang wanita berjilbab hitam berdiri di sana, dengan celemek berwarna coklat. Wajahnya cantik apalagi tiba-tiba ia tersenyum saat melihat kupu-kupu bertengger di buket bunga yang sedang disusunnya, membuat kecantikannya makin menguar.
Alesha menelan ludah, melirik Aksal yang dari tadi tidak melepaskan pandangan dari gadis itu. Ya ampun, jangan bilang cowok ini kumat lagi buayanya!
"Sal! Aksal!” seru Alesha mencoba menahan cowok itu.
Namun Aksal sudah berjalan cepat menghampiri gadis itu dengan tatapan penuh cinta membuat Alesha hanya bisa menghembuskan napas pasrah sambil menatap sahabatnya itu datar. Heh, dasar buaya!
☔☔☔
"Abis dari sini kita kemana?" tanya Ales pada Zio setelah mereka makan siang di salah satu rumah makan cepat saji. Zio diam sejenak sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Gue pulang dulu deh Les, kasihan Dara jagain toko sendirian," ujar Zio pelan.
Ales merengut. Sebenarnya ia merasa kesepian saat di Indonesia, karena itu kemanapun ia pergi ia menyeret Zio. Tapi sekarang Zio sudah menikah dan Dara bisa ngamuk kalau Ales terus menculik suaminya.
"Lo mentang-mentang udah nikah, gue ditinggal mulu," ujarnya tanpa sadar. Zio tertawa lebar.
"Ya ampun beb, gitu aja ngambek, ya gimana dong, namanya juga pengantin baru," kata Zio malu-malu.
Ales menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil. Menghela napas nelangsa. "Gue jadi pengen nikah gara-gara lihat lo Zi," lirihnya galau.
"Ya makanya nikah, bukannya Mami mau ngejodohin lo sama anak temannya?" tanya Zio santai.
Ales menggeleng.
"Belum, Mami belum nemu calon yang pas katanya," jawab Ales.
Zio mengangguk-angguk paham.
"Yah lagian lo juga sih Les, akhir-akhir ini gue perhatiin galak banget sama cewek, ada apa sih?"
Ales menghela napas. Tatapannya menerawang.
"Entahlah, gue belum sanggup patah hati lagi."
Zio tersenyum sedih melihat Ales.
"Buka hati bukan berarti pasti patah hati kan? Denger Les, apapun yang ditakdirkan Allah buat lo, itu akan buat lo, rezeki itu gak ada yang tertukar," kata Zio sambil menepuk bahu Ales kuat.
Ales ikut tersenyum. Semenjak menikah entah kenapa Zio mulai suka berkata bijak. Ales bahkan curiga sebentar lagi Zio akan ganti profesi jadi motivator.
"Udah ah, gue antar lo pulang, sekalian mau beli bunga lili," kata Ales lalu segera menghidupkan mobilnya.
Tak sampai sepuluh menit, mobil hitam Ales sudah berada di depan toko bunga Dara. Pemuda itu memang agak ngebut karena tak mau membuat Zio menunggu terlalu lama. Namun saat hendak turun, kening Ales berkerut samar, pemuda itu baru sadar jika ia kehilangan sesuatu membuat Ales menyuruh Zio turun duluan.
"Lho? Katanya mau beli bunga lili," kata Zio heran.
"Lo duluan aja, dompet gue gak ketemu," jawab Ales sambil memeriksa kursi mobil, berharap dompetnya jatuh di sana. Zio menghela napas.
"Kayak sama siapa aja, bayarnya kan gak harus sekarang Les," kata Zio.
"Bukan soal itu, gue penasaran dompet gue nyelip dimana," jelas Ales cepat lalu memeriksa laci mobil.
Zio mendengus pelan walau begitu tetap patuh untuk turun duluan karena sudah tak sabar untuk bertemu Dara. "Gue masuk duluan ya," ucapnya.
"Iyee,” jawab Ales singkat.
☔☔☔
"Wah cantik banget," ujar Aksal sambil mendekat kepada perempuan bercelemek coklat itu dengan langkah pelan. Alesha mengikutinya dari belakang dengan wajah kesal.
"Terimakasih, ini namanya bunga lavender, cocok untuk hiasan di rumah atau hadiah," jawab perempuan itu sambil tersenyum manis. Kepalanya masih menunduk ke arah buket.
"Maksud aku kamu yang cantik," ujar Aksal manis. Alesha sendiri pura-pura muntah di belakangnya, sudah khatam dengam gombalan Aksal sedangkan gadis bercelemek coklat itu perlahan mendongak dan tersenyum kecil membuat Aksal makin melting.
"Makasih," ujarnya. Aksal mengangguk kalem.
"Nama kamu siapa?" tanya Aksal lagi.
"Dara."
"Oh, aku Aksal," lirih Aksal sambil mengulurkan tangannya. Dara tersenyum lagi, memilih untuk merapatkan kedua telapak tangan di depan d**a.
"Salam kenal," lirihnya.
Melihat gadis itu menolak bersalaman dengan Aksal, Alesha langsung tertawa lebar membuat Aksal melototinya dengan gemas.
"Hem, ya, kamu pekerja disini?" tanya Aksal kembali melancarkan aksinya. Dara
mengangguk.
"Bisa dibilang, pekerja dan pemilik sih," jelas Dara. Aksal bertepuk tangan.
"Keren banget," puji Aksal sambil mengacungkan dua jempol tangannya. Dara tersenyum saja.
"Pantas aja tokonya cantik, pemiliknya aja cantik begini," goda Aksal makin ngegas. Dara tetap tersenyum walau sebenarnya mulai kesal digombali oleh bocah kemarin sore di depannya. Namun mendadak wajahnya menjadi cerah saat melihat seseorang muncul dari arah pintu toko.
"Saya rasa pujian kamu lumayan mengganggu istri saya," ujar seseorang.
Alesha menoleh ke belakang. Menatap takjub sosok Zio yang berjalan ke arah mereka. Berbeda dengan Alesha yang takjub, Aksal malah menatap Zio dengan ekspresi kaget. Bibirnya mendadak pucat.
"Mati gue!" lirih Aksal panik.
"Kenapa?" tanya Alesha.
"Dosen gue!" jerit Aksal pelan.
"Mampus lo!" bisik Alesha balik, menahan tawa.
Zio berdiri di samping Dara, menyorot Aksal dengan tatapan dingin.
"Kamu mau beli bunga apa gangguin istri saya?"
"Be-Beli bunga Pak.." lirih Aksal dengan suara bergetar.
Pak? Kedua alis Zio terangkat. Ia menatap Aksal makin tajam.
"Kamu mahasiswa saya ya?" tanya Zio. Aksal mengangguk takut-takut. Hilang sudah tingkah sok kerennya di depan Dara.
"Mau saya kasih nilai E?" ancam Zio. Aksal menganga.
"Enggak Pak, enggak! Saya beneran tadi kesini niatnya cuma beli bunga untuk calon pacar saya, tanya aja sama sahabat saya, iya kan Sha?" ujar Aksal panik sambil menyikut Alesha.
Sebenarnya Alesha ingin mengusili Aksal. Biar Aksal kena batunya karena suka menggoda cewek. Tapi berhubung yang di depan ini dosen Aksal, Alesha akhirnya mengangguk saja. Bagaimanapun mendapat nilai E bukan hal yang bagus untuk jejak pendidikan Aksal. Terlebih Aksal cowok yang pintar. Ia pasti kesal sekali kalau harus mengulang di semester berikutnya.
Zio menghela napas.
"Siapa nama kamu?" tanya Zio.
"Aksal, Pak."
Zio mengangguk lalu menoleh ke istrinya.
"Kalau ada yang gangguin kamu lagi, jangan sungkan pukul dia pakai pot bunga atau apapun," kata Zio membuat Aksal mendelik takut.
Dara mengangguk dengan senyum geli. Zio memang sangat protektif semenjak menikah. Padahal dulu waktu mereka masih berstatus sahabat, jangankan protektif, peduli saja tidak.
"Udah Mas, biarin aja, Aksal cuma ngasih pujian," ujar Dara tenang sambil mengelus bahu suaminya lembut. Zio mendecih.
"Ya udah, kalian pilih aja bunganya, gak usah takut ya," ujar Dara manis.
Aksal mengangguk cepat.
"Ma-Maaf pak," ujarnya. Zio mengangguk datar lalu membawa istrinya pergi menjauh dari mereka berdua.
"Yuk, pilih bunganya," ujar Alesha lalu menepuk bahu Aksal pelan. Aksal mengangguk dengan aura muram.
Alesha cukup tau jenis-jenis bunga, meski ia terlihat tomboy di luar tapi gadis itu tetap menyukai beberapa hal feminim seperti bunga. Buktinya halaman rumah Alesha penuh dengan bunga. Aksal sering memetik bunga Alesha sembarangan, tak jarang Aksal diamuk gadis itu.
"Menurut lo gue bagusnya ngasih bunga apa ke Lestari?" tanya Aksal mulai santai setelah tadi rasanya nyaris mati.
Alesha bergumam. "Mawar aja gimana?"
"Mainstream banget gak sih?" tanya Aksal sambil memperhatikan bunga merah yang punya wangi memabukkan itu.
Alesha berdehem. "Mawar kuning cocok deh kayaknya, cocok sama image lo, gak mainstream juga kan?" kata Alesha sambil menyentuh kelopak mawar kuning itu pelan.
Aksal mengerinyit. Merasa curiga. "Kuning? Apa gak kelihatan norak?"
"Enggak lah!" sahut Alesha semangat.
Aksal mengerinyit lagi. "Kok lo semangat banget?"
"Oh tentu dong, warna kuning itu gak norak, justru warnanya melambangkan keceriaan."
"Tapi Lestari orangnya ju-"
"Jutek? Nah! Dengan bunga kuning ini Lestari bisa berubah ceria!"
Aksal sebenarnya ragu. Jarang sekali Alesha baik sekali sampai semangat begitu mengerekomendasikan sesuatu. Sahabatan dari zaman TK membuat Aksal paham dengan watak Alesha.
"Ayo! Bayar sana! Lo masih betah lama-lama disini, gak malu tadi udah dimarahin dosen?"
Mendengar Alesha kembali menyebut kasus memalukan itu Aksal akhirnya mengangguk juga.
"Kak, bunga mawar kuningnya satu ya?" ujar Aksal pada Dara yang kembali sendiri. Zio bediri tak jauh dari sana, menempelkan ponsel ke telinga, seperti sedang menelfon seseorang.
Dara mengerutkan kening. Menatap Aksal ragu dengan bunga kuningnya.
"Ini buat calon pacar kamu kan? Mau dibikin jadi buket?"
Aksal mengangguk semangat.
"Iya kak, soalnya dia jutek, bunga mawar kuning kan melambangkan keceriaan, jadi dia pasti suka dan berubah ceria."
Alesha menahan tawa mendengar penuturan penuh semangat Aksal. Dara ikut tersenyum geli melihatnya.
"Hem, kalau saya jadi kamu, saya mungkin bakalan beli bunga tulip, bunga mawar kuning kan melambangkan ketidaksetiaan," jelas seseorang dari belakang.
Suara itu membuat Alesha segera membalikkan badan. Jantungnya mendadak berdegup cepat. Alesha tidak memedulikan celotehan Aksal yang memarahinya. Tatapannya terpaku pada Ales yang berbicara dengan Dara tentang pesanannya. Menyadari ada orang yang menatapnya begitu lekat, Ales akhirnya menatapnya balik.
"Lho kamu-"
"Om ganteng!"