Aria menetap di rumah Sukabumi bersama Maya dan Damar. Rumah tua yang menghadap kebun teh itu, yang selama bertahun-tahun hanya dihuni dua orang tua dan kenangan, kini hidup kembali oleh langkah seorang remaja. Tapi kehidupan itu datang dengan masalah yang tidak pernah dihadapi keluarga Pradipta dalam bentuk seterang ini.
Tanda-tanda kawanan dalam diri Aria menonjol terlalu cepat dan terlalu kuat. Pada anak kawanan biasa, perubahan datang bertahap, terkendali, di bawah bimbingan sejak bayi. Tapi Aria tumbuh empat belas tahun sebagai manusia, dan kini darah Pradipta seolah mengejar ketinggalan dengan ganas.
Matanya menguning tanpa peringatan—di meja makan, di halaman, sekali bahkan di warung dekat pasar. Pendengarannya menangkap percakapan dari jarak yang mustahil. Dan kecepatannya: suatu sore, seekor ayam tetangga lepas, dan Aria menangkapnya sebelum mata Damar sempat mengikuti gerakannya.
"Dia lebih kuat dariku saat seumur itu," kata Sasi pada ayahnya, suaranya rendah agar Aria tak mendengar—meski mungkin sia-sia. "Jauh lebih kuat. Garis Pradipta yang murni, ditambah... entah apa. Dia anomali, Ayah."
Damar mengangguk pelan dari kursi rodanya. "Kekuatan yang datang terlambat selalu datang dengan kemarahan. Tubuhnya bertahun-tahun ditahan, sekarang melepaskan diri. Kita harus hati-hati."
Masalah sesungguhnya bukan kekuatan itu sendiri. Masalahnya adalah warga sekitar. Sukabumi adalah kampung kecil tempat semua orang saling kenal. Ibu-ibu di pasar mulai berbisik. Bagaimana mungkin anak baru yang katanya cucu dari Belanda itu bisa berlari secepat itu? Kenapa matanya kadang aneh tertimpa cahaya? Kenapa dia bisa tahu ada tamu datang sebelum ketukan pintu pertama?
Suatu malam, Pak RT datang berkunjung dengan dalih silaturahmi, tapi matanya menyelidik. "Cucu Ibu Maya ini sehat sekali ya," katanya sambil tersenyum. "Anak zaman sekarang biasanya lemah-lemah. Ini kuat betul."
Maya tertawa diplomatis, menjelaskan tentang gizi Belanda dan udara dingin Eropa. Tapi setelah Pak RT pergi, wajahnya berubah serius.
"Kita tidak bisa terus berbohong soal cuaca dan susu," katanya pada Damar. "Anak ini terlalu mencolok. Cepat atau lambat seseorang akan bertanya lebih keras. Dan kau tahu apa yang terjadi pada kawanan yang ceroboh."
Aria, di kamarnya di lantai atas, mendengar setiap kata. Dia memeluk lututnya, menatap kedua tangannya yang kadang terasa asing. Dia tidak meminta menjadi seperti ini. Dia hanya ingin menjadi gadis biasa yang membaca buku dan punya teman.
Air mata menguning di sudut matanya—bahkan tangisnya pun kini bukan tangis manusia biasa. Di luar jendela, bulan separuh menggantung di atas kebun teh, dan untuk pertama kalinya Aria merasa bulan itu memanggil namanya.
(bersambung...)