Solusinya datang dari Damar, yang meski tubuhnya melemah, pikirannya tetap setajam alpha di masa jayanya.
"Ada sistem," katanya pada Sasi dan Maya suatu pagi, sambil memandang kebun teh yang berkabut. "Sudah ada sejak generasi sebelum aku. Kami menyebutnya sekolah daring kawanan. Bukan sekolah dalam arti gedung. Lebih seperti jaringan—anak-anak kawanan dari seluruh Indonesia yang belajar bersama, sebagian lewat pertemuan diam-diam, sebagian lewat saluran tertutup. Mereka belajar mengendalikan diri, belajar sejarah kawanan, sekaligus belajar berbaur dengan dunia manusia tanpa ketahuan."
"Kenapa Ayah tidak pernah bilang ini saat aku kecil?" tanya Sasi.
"Karena kau tumbuh di pusat kawanan, di bawah mata seluruh tetua. Kau tidak butuh. Aria butuh. Dia butuh melihat bahwa dia tidak sendirian."
Maka Aria didaftarkan. Pertemuan pertama berlangsung di sebuah villa terpencil di kaki Gunung Salak, yang dari luar tampak seperti tempat retret keluarga biasa. Tapi di dalam, ada belasan remaja seusianya, dan lebih banyak lagi yang bergabung lewat sambungan video terenkripsi dari Surabaya, Medan, Makassar, Yogyakarta.
Aria masuk dengan dada berdebar. Dia sudah terbiasa menjadi yang paling aneh di ruangan mana pun. Tapi di sini—
Seorang anak laki-laki menyambutnya dengan mata yang berkilat kuning, persis seperti matanya saat marah. Seorang gadis menunjukkan padanya cara menyembunyikan taring yang mulai memanjang. Seorang anak lain bercerita bagaimana dia menahan diri agar tidak berlari terlalu cepat saat pelajaran olahraga di sekolah manusianya.
"Kau dari garis mana?" tanya gadis berkepang dua, ramah.
"Pradipta," jawab Aria ragu. "Tapi aku baru tahu beberapa minggu lalu."
Bisik-bisik berhembus di ruangan. Garis Pradipta adalah garis alpha legendaris. Tapi tak ada yang mengejek. Sebaliknya, anak-anak itu memandangnya dengan rasa ingin tahu yang hangat, bukan curiga.
"Aku Galih," kata anak laki-laki bermata kuning tadi. "Garis Wijayakusuma. Kakekku Pratama. Kita mungkin masih saudara jauh, tahu." Dia nyengir. "Selamat datang di klub anak-anak aneh."
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Yogyakarta, Aria tertawa lepas. Tawa yang tidak perlu dia tahan, tidak perlu dia jelaskan. Di ruangan ini, matanya boleh kuning. Pendengarannya boleh tajam. Kecepatannya boleh luar biasa. Tidak ada yang berbisik di belakangnya.
Dia menemukan, di lereng gunung yang dingin itu, sesuatu yang lebih berharga dari kendali atas kekuatannya: dia menemukan komunitas. Dia menemukan tempat di mana menjadi dirinya sendiri bukanlah rahasia yang harus disembunyikan.
Malam itu, saat menelepon Bayu di Utrecht, suara Aria untuk pertama kalinya terdengar utuh. "Ayah," katanya, "aku tidak lagi merasa sendirian."
Di seberang benua, Bayu menutup mata dan untuk sesaat membiarkan dirinya merasa, mungkin, dia tidak terlambat sepenuhnya.
(bersambung...)