Awal untuk takdir baru..
Keringat dingin mulai membasahi wajah cantiknya, tangan kirinya digenggam erat oleh pria jangkung disampingnya.
Semua orang dalam ruangan itu menatap Liary intens, bertanya-tanya siapakah gadis disamping Alphanya itu. Para rakyat Sivlermoon pack mantap wanita yang di gandeng Alpha dengan penuh tanya.
"Dengar! aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian semua!" ucap Gaelich tegas, pria itu menarik tubuh mungil Liary kedalam pelukannya.
"Dia Lunaku! Luna kalian semua, bersikap baiklah padanya, hormati dia seperti kalian menghormatiku, turuti semua yang dia ucapkan dan jangan ada yang berani menolak!" kata Gaelich penuh penekanan.
Ruangan yang tadinya penuh dengan bisik-bisik, sekarang telah berubah menjadi ramai oleh sorakan.
Tampaknya rakyat Silvermoon pack sangat bahagia dengan kedatangan Liary.
Seorang omega berjalan mendekati Liary dan Gaelich. Omega itu membungkuk memberi hormat.
"Selamat datang, Luna. Kami sungguh bahagia untuk hari ini. Perkenalkan nama saya Sirena Hakwins siap melayani anda Luna" ucap Sirena tegas.
Liary tersenyum canggung, gadis itu melepas rangkulan Gaelich dan berjalan mendekati gadis omega itu.
"Terimakasih, senang bisa berkenalan denganmu Sirena, namaku Liary Hazine" ucap liary ramah. Gadis itu memeluk Sirena ringan, membuat gadis omega itu terkejut. Ya seharusnya Liary tak melakukan hal itu.
Lalu seorang pria datang, ikut memberi hormat "Nama saya Arigo Flies, saya panglima pack ini" ucap pria bernama Arigo itu. Liary kembali tersenyum, gadis itu berjalan hendak memeluk Arigo sebagai tanda perkenalan. Namun sebelum itu terjadi, tubuhnya sudah ditarik paksa oleh pria dibelakangnya.
"Tidak boleh!" Larang Gaelich posesif.
"Kenapa?" tanya Liary dengan polosnya.
"Karena dia laki-laki, aku tak suka itu." jawab Gaelich tak senang.
"Hanya sekedar tanda perkenalan, tidak boleh?"
"Tidak!"
Liary mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau jadi posesif sekali?" gerutunya.
"Karena aku tak suka miliku disentuh orang lain, siapapun itu! Hanya aku yang boleh menyentuhmu! Kau mengerti?"
Liary membuang nafas pelan, sebelum menjawab, "Iya"
Gaelich tersenyum puas, gemas melihat sikap liary yang begitu penurut. Namun senyum itu perlahan pudar, keinginan memiliki matenya sudah terpenuhi. Yang membuat Alpha itu sedih adalah, dia tak bisa melihat senyum Liary, hanya bayangan samar-samar saja dan itu hanya hitam-hitam tidak jelas. Selama ini Gaelich selalu melihat dunianya seperti itu. Ah haruskah dia puas dengan seperti itu saja? Padahal dia sangat ingin melihat ekpresi gadisnya. Gaelich memang masih memiliki Evon sebagai matanya, namun tentu saja dia hanya akan mendapat gambaran abstrak tubuh dan wajah matenya. Tak benar-benar bisa melihat dengan jelas, karena memang mata manusianya telah rusak. Mungkin jika Evon bisa melihatnya dengan jelas.
' sudahlah, jangan bersedih, yakinlah bahwa suatu saat kau bisa melihat lagi Lich, dan tentunya kau bisa menikmati setiap ekpresi dan senyum Mate kita' mindlink evon menghibur.
' ya, aku menantikan hari itu ' jawab gaelich.
*********
Liary terkagum dengan pemandangan yang tersuguh di hadapannya, sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga warna-warni nan cantik, juga kolam kecil yang dihuni ikan-ikan hias berbagai warna. Sunggu Indah.
"Kau suka?" tanya Gaelich. Kini meraka berdua tengah berada di taman pribadi Gaelich, taman yang memang dia persembahkan untuk matenya jika nanti mereka sudah bertemu.
"Wow...i-ini sangat Indah.. Bagaimana kau bisa memiliki taman secantik ini, Lich?" ucap Liary antusias. Gaelich terkekeh pelan, pria itu memeluk liary dari belakang. Menghirup aroma harum gadis itu dalam-dalam.
"Ini semua memang sudah aku siapkan khusus untukmu, mateku, jiwaku." jawab Gaelich, membuat pipi Liary memanas seketika. Jantungnya berdebar tak karuan dan tubuhnya kaku.
"Sweety aku ingin bertanya." ucap Gaelich.
"Ta-tanya apa?" tanya Liary gugup, panggilan baru Gaelich untuknya mampu membuat jantunya semakin berbebar.
"Apa yang kau lihat dari wajahku? Apa aku tampan? Apa aku punya jerawat besar? Atau bahkan aku memiliki bisul diwajahku." tanya gaelich, pertanyaan pria itu mungkin sedikit lucu. Tiba-tiba saja alpha itu memperdulikan wajahnya yang sudah jelas-jelas sangat tampan.
Liary tak bisa membendung tawanya hinggap akhirnya dia tertawa cukup keras.
"Hahahaha... Apa yang baru kau tanyakan, Lich? Oh kau lucu sekali."
Gaelich ikut terkekeh, suara tawa merdu Liary membuatnya ikut tertawa. "Aku serius sweety, Evon terus mengejekku jelek, jadi apakah aku benar-benar jelek?"
Liary membalik tubuhnya berhadapan dengan Gaelich, mata gadis itu menelisik setiap inci wajah pria didepannya itu. Dan tentu saja tak menemukan kecacatan disana. Hanya ada wajah yang sangat tampan, rahang tegas, mata tajam walau Gaelich memakai lensa, hidung mancung, bibir tipis seksi, rambut putih. Gaelich tampak sempurna. Sangat sempurna. Liary benar-benar terpana melihat ciptaan tuhan di depannya itu.
"Kau itu sangat tampan." guman Liary. Suaranya sangat kecil, namun tentu saja Gaelich masih bisa mendengarnya.
"Benarkah?"
Liary gelagapan, semburat merah kembali menghiasi pipi mulusnya.
Dia melupakan fakta jika gaelich bukanlah manusia.
"Ka-kau dengar ya?" tanya Liary malu.
Gaelich tertawa geli mendengar pertanyaan Liary. "Tidak, aku tidak dengar, untuk itu katakanlah sekali lagi." bisiknya penuh godaan. Ditatapnya gadis didepannya tersebut, tangan besarnya manangkup kedua pipi lembut Liary. Dia tau saat ini gadisnya tengah blushing. Tapi sepertinya itu justru membuat Gaelich semakin ingin menggodanya.
"Sweety, apa kau tau saat ini aku sedang menahan sesuatu?" ucap Gaelich.
"Ti-tidak." Liary menggeleng pelan.
"Aku sedang menahan nafsuku untuk tidak menyerangmu saat ini sweet dan itu sangat sulit." rendah dan penuh godaan tersirat jelas dari ucapan Gaelich.
Liary membeku, tubuhnya menegang dan jantungnya seolah ingin meloncat keluar. Gadis itu belum pernah sedekat ini dengan pria manapun, jelas membuatnya tegang dan gugup.
Tangan mungil Liary berusaha mendorong tubuh Gaelich, menjauhkan jarak antara mereka. Namun ya tentu saja tak semudah itu.
"Lich bi-bisakah kau lepaskan aku? Ak-aku lapar." Liary berbohong, bukan apa. Tapi saat ini menyelamatkan jantungnya adalah pioritasnya, Liary tak ingin mati muda karena jantungan.
Gaelich tesenyum jail, "kau mau makan hmmm?"
Liary mengangguk sebagai jawaban.
Tiba-tiba Gaelich mengangkat tubuh Liary, hingga membuat gadis itu memekik kaget .Gaelich menggendong bridal Liary, membawa gadis itu masuk menuju ruang makan.
"Li-lich turunkan aku."
"Nanti kakimu sakit, jadi lebih baik ku gendong."
"Kakiku tak sakit, Lich
aaaaaa aku maluuu.. Kumohon turunkan aku!" Liary menyembunyikan wajahnya didada gaelich saat meraka melewati beberapa omega dan warrior.
"Apa yang membuatmu malu sweet? Para pelayan itu? Biarlah mereka melihat kemesraan kita" Liary memukul d**a bidang Gaelich.
"Kau jadi menyebalkan!" rutuk gadis itu.
"Yaa, dan pri menyebalkan ini jatuh cinta padamu. Bagaimana hmm?" ucap Gaelich jail.
"Tidak tau, dan aku tak peduli." jawab Liary cuek. Gaelich kembali tertawa renyah. Meraka telah sampai diruang makan, berbagai menu tersaji mewah di atas meja. Bahkan membuat Liary tak berkedip.
"Tutup mulutmu sweet, atau kau butuh bantuanku?" goda Alpha itu, Liary buru-buru menutup mulutnya. Malu melanda diri gadis tersebut.
"Li-lich bukankah makanan ini terlalu berlebihan dan banyak?" tanya Liary polos.
"Tidak, apa kau mau menambahkan menu lagi?"
"Tidak, ini sudah sangat banyak."
"Baiklah, kalau begitu makanlah."
Liary berjalan, hendak duduk untuk memulai makannya. Namun langkahnya terhenti, Gaelich menariknya pinggangnya untuk duduk di pangkuannya.
Seketika wajah cantik itu bersemu merah.
"Li-lich apa yang kau lakukan?" Liary berontak ingin turun. Tapi pinggangnya di tahan erat oleh Gaelich.
"Memangku mateku" jawab pria itu santai.
Liary mencoba berdiri, namun Gaelich tetap menahan pinggangnya, membuatnya tak bisa kemana-mana.
"A-aku tak bisa makan jika begini lich, lepaskan aku."
Akhirnya dengan terpaksa Gaelich melepaskan Liary, membiarkan gadis itu duduk sendiri.
"Kau tak makan?" Tanya liary saat melihat Gaelich tak beranjak mengambil makanan.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Kenapa?"
"Tudak, jika bukan kau yang menyuapiku aku tak akan makan."
Liary mendengus pelan "Jadi ini sifat aslimu, huh? manja." tangannya bergerak, mengarahkan sesendok nasi berserta lauknya pada Gaelich, dan tentu saja langsung diterima dengan senang hati oleh pria tersebut.
' kebanyakan modus kau' mindlink evon.
' apa masalahnya? kau iri ya? " ejek gaelich membalas.
' cih.. Tentu saja aku tak iri, iri denganmu itu tidak level ' evon berkilah.
' aku tau kau iri...mengakulah, dasar serigala keras kepala '
' jangan percaya diri kau, aku sama sekali tak iri padamu, karena tubuhmu, tubuhku '
' ya serah padamu saja ' gaelich memutus mindlink.
*****************
BRAKKKK.....
"Alpha buta itu sudah menemukan matenya!? Bagaimana mungkin!!? "
"Benar tuan, matanya seorang manusia."
"Ayah!! Aku tak terima ini! Gaelich milikku harus Jadi milikku!!"
"Tenanglah Gilea! Ayahmu ini juga tak akan membiarkan ini semua." Rofftos berkata pada putrinya.
"Ayah aku mau kau musnahkan mate Gaelich!!! Tidak ada yang boleh memiliki Gaelich selain aku!."
Rofftos memebelai rambut panjang putrinya itu, "Tenanglah sayang, sebentar lagi kerajaan demon dan Gaelich akan menjadi milikmu."
"Bernarkah ayah?"
"Tentu saja sayang " Gilea memeluk Rofftos,
"Terimakasih ayah." Rofftos terseyum, balas memeluk putrinya itu.
"Pastikan Gaelich terus meminumnya! " perintah Rofftos pada seorang pria pesuruhnya.
"Baik tuan." pria itu beranjak pergi.
Meninggalkan Rofftos yang tengah terseyum sinis, kini ambisinya akan tercapai tak lama lagi. Dia akan menguasai kerjaan demon dan silvermoon pack sekaligus.
"Sebentar lagi, tunggulah." gumam pria tua itu sinis.
tbc.
-------------
-----------------------------
---------------------------------------------