Liary berdiri termenung, mengamati cahaya bulan dari jendela kamarnya.
Cerita maid yang dia dengar membuatnya lebih gelisah. Gadis itu berfikir apa yang bisa ia lakukan untuk menolong Gaelich. Gaelich memiliki tanggung jawab yang besar, dia adalah seorang Raja dan keberadaannya sangat diperlukan. Sebagai matenya, Liary sangat ingin membantu pria itu.
"Apa yang aku harus lakukan tuhan?"
"Melakukan apa sweet?"
"ASTAGA! Kau selalu saja membuatku kaget!" pekik Liary kesal.
Gaelich terkekeh "Andai aku bisa melihat ekspresi yang kaget itu, aku pasti akan tertawa keras." perkataan Gaelich membuat Liary kembali ingat cerita maid tadi.
"Lich, apa kau merasa menderita karena tidak bisa melihat?" tanya liary pelan. Setelah dipikir-pikir, memang sangat sangat menderita hidup tanpa bisa melihat. Meski Gaelich seorang Raja yang kuat sekalipun.
"Tentu saja sweet, mata butaku ini membuatku jijik terhadap diriku sendiri. Aku menjadi sosok yang gagal sebagai matemu. Aku harusnya bisa menjadi sosok yang sempurna untukmu." jawab Gaelich sedih
' kau lupakan aku lich? aku ini matamu ' mindlink Evon.
' rasanya berbeda Ev '
' memangnya kau mengharapkan rasa apa? stroberi? Jambu?'
' dasar bodoh ' Gaelich memutus mindlink.
Liary menarik tangan gaelich untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. "Aku tak menganggapmu sosok yang gagal, Lich. Tidak sekalipun dan kau itu istimewa. Kau harus percaya itu." Gaelich menarik tangan Liary, mencium lembut punggung tangan matenya itu. Membuat hati dan pipi Liary menghangat.
"Besok aku akan membawamu berkeliling sweet, kau mau kan?"
Tawar Gaelich. Berniat membawa matenya untuk melihat-lihat packnya.
Liary mengangguk "Tentu saja."
"Baiklah, beristirahatlah. Aku mencintaimu." ucap Gaelich mencium kening liary.
"Terimakasih, beristirahatlah juga. Selamat malam, Lich."
"Selamat malam, Sweet... "
Setelah Gaelich keluar, Liary kembali merenung. Memikirkan cara untuk bagaimana dirinya bisa menolong Gaelich. Dan siapa orang yang telah meracuni Gaelich? Memangnya Gaelich salah apa? Sungguh orang itu sangat jahat.
*******
"Kau tak bilang jika akan membawaku berjalan-jalan di pagi hari, Lich." celetuk Liary dengan muka sedikit kesal.
"Kau tak bertanya, Sweet. Lagi pula udara pagi lebih segar."
Hal yang mengesalkan dari Gaelich hari ini adalah membangunkan Liary dipagi-pagi buta hanya untuk jalan-jalan, menjengkelkan bukan?
Gaelich membawa liary kedalam hutan, matahari sudah mulai nampak. kicauan burung mulai terdengar. Embun masih melekat pada setiap tumbuhan. Hutan itu indah, banyak bunga liar yang tumbuh. Dan banyak kupu-kupu dan kumbang. Wangi teropis yang sangat menenangkan, mungkin Gaelich benar, berjalan-jalan pagi di hutan seperti ini cukup menyenangkan.
"Udaranya sangat segar ya?" kata Liary menghirup wangi hutan.
Gaelich membelai lembut rambut Liary "Nama hutan ini adalah Alotis. Hutan ini sering aku gunakan untuk berlatih bersama Evon dan para warrior. Lingkungan di sini memang sangat menyenangkan, cukup untuk obat penat" jelas Gaelich.
"Tidak ada mahluk buas?" mau seindah apapun ini tetap hutan, tempat tinggal para hewan.
"Ada beberapa hewan, tapi meraka jinak. Karena hutan ini memiliki sihir murni, hanya mahluk dengan hati bersih yang dapat tinggal dan memasuki hutan ini."
Mendengar itu liary menyipit kearah Gaelich "Berati kau juga berhati bersih ya? Tapi ku dengar dari rumor yang beredar, kau itu kejam, bisa kau jelaskan?"
Tak langsung menjawab, Gaelich memilih berjalan sambil menggenggam tangan Liary.
"Aku akan menunjukan sesuatu padamu." Gaelich berjalan menuju semak-semak tumbuhan yang cukup lebat. Pria itu lalu menyibaknya semak tersebut.
Mata liary melebar, dihadapannya terdapat sebuah hamparan tanah luas yang dipenuhi bunga lavender. Sangat Indah, tak hanya lavender. bunga mawar liar dan aster pun banyak tumbuh.
"Oh tuhan! Indah sekali." ucap Liary takjub. Bibirnya terus-menerus membentuk senyum indah.
"Ev, bagaimana Liary terseyum? sangat mempesona?" mindlink Gaelich.
' tak bisa di deskripsikan, senyumnya lebih indah dari hal terindah didunia ini' jawab evon antusias. Tentu karena dia lagi kesem-sem.
"Aku ingin dia terus terseyum seperti itu, cukup untukku Ev"
'Ya... aku sama halnya denganmu'
"Dia sudah cukup mengalami penderitaan dari masa lalunya, aku tak akan membiarkan dia kembali merasakannya, penderitaan itu"
' hmmmm.. Aku sama halnya denganmu '
"hatinya tulus, hati setulus itu tidak akan kubiarkan terluka"
' ya, aku sama halnya denganmu '
"Aku rela menukar semua kebahagiaanku hanya untuk membuatnya tetap tersenyum"
'tentu, aku sama halnya denganmu'
"hidupku ada padanya, jika dia bahagia aku akan hidup, namun jika dia bersedih aku sama saja mati"
' pasti, aku sama halnya denganmu '
"dia pioritas utama kita, dia jantung kita Ev, dia sumber energi ku, segenap hati aku hanya akan mencintainya"
' benar, aku sama halnya dengamu'
Tunggu, disini ada yang aneh, Evon terus mengucap kata-kata yang sama.
"Kenapa kau mengulang terus kata-katamu bodoh!" bentak Gaelich kesal.
' heh kau yang bodoh! Aku jelas mengatakan hal yang berbeda, ada kata hmmm, lalu ya, lalu tentu, lalu pasti,lalu benar. Itu kata yang berbeda bodoh! ' protes Evon tak terima.
"Kau serigala gila yang butuh psikiater"
' SAMA HALNYA DENGANMU '
"Serigala sialan!!" Liary tersentak kaget, Gaelich baru saja berteriak.
"Ada apa, Lich?" kini Gaelich yang tersentak kaget, Baru dia sadar jika matenya masih berada disampingnya.
"Maaf sweet, aku hanya sedang bertengkar kecil dengan serigala sialan itu."
Liary terkekeh kecil "Apa lagi yang kau tengkarkan dengannya, Lich?"
"Tentu saja kebodohannya, Sweet. Aku malu memiliki serigala gila sepertinya." keluh Gaelich.
'DASAR BANGKAI KUCING KAU LICH!!' umpat Evon memindlink.
"Kau tahu, Sweet? Baru saja dia mengataiku bangkai kucing. Serigala gila itu mulutnya sangat busuk." Adu Gaelich.
Liary mendengus pelan, dia tak memiliki serigala seperti Gaelich. Jadi dia tak akan paham cara memarahi mereka, jika ia mengomeli Gaelich, dia akan merasa hanya mengomeli satu mahluk. Tidak dua mahluk. Karena satunya tak berbujud, alias goib.
'hikss.. Hiks... Huuu.. Hiks... Huuu.. '
Liary dan Gaelich saling berpandangan.
"Kau mendengarnya?"
"Kau mendengarnya?" tanya meraka serempak. Keduanya sama-sama mengangguk.
' hiksss.. Hiks... Sa-sakitt.... Huuuuu... Hiks.. Hiks... '
"Bukahkan itu suara tangisan?" tanya Liary. Suara itu berasal tak tak jauh dari mereka berdiri.
"Lich, kita cari asal suaranya kurasa ada yang sedang butuh bantuan."
Gaelich mengangguk. Ia menarik tangan liary, membawa gadis itu kearah Selatan mereka berdiri. Gaelich tau asal suara itu. Diakan bukan manusia, mudah baginya menemukannya.
Disana, di balik pohon pinus besar. Seorang anak kecil dengan telinga runcing tengah terbaring meringkuk sambil menangis dan dengan luka-luka gores yang memenuhi tubuhnya .Liary melotot kaget, gadis itu tanpa pikir panjang, langsung menghampiri bocah kecil itu.
"Ya tuhan, apa yang terjadi pada anak ini?" ucapnya cemas. Bocah laki-laki itu masih menangis sambil meringis kesakitan.
"Hiks... Hiks... Sakittt... Sakitt sekali... "
Gaelich mendekati bocah berkuping lancip itu,
"Lich, kita harus menolong anak ini, astaga, ya tuhan.. Malang sekali anak ini." Ucap Liary.
"Mari bawa dia pulang, biar dokter yang mengobatinya." saran Gaelich, Liary mengangguk setuju. Dia membiarkan Gaelich menggendong anak itu.
Liary masih terus-menerus cemas, dia tak mengalihkan sedikitpun pandangnya dari dokter yang mengobati bocah Malang itu.
"Jangan cemas, Sweet. Dia akan baik-baik saja." Liary mengangguk.
"Anak ini baik-baik saja, Alpha. Hanya tergores di beberapa bagian."
"Bagaimana anak elf ini bisa sampai di wilayahku?" tanya Gaelich.
"Dia elf? peri maksudmu?"Gaelich mengangguk.
"Tempat tinggal para elf sangat jauh dari sini, butuh beberapa minggu perjalanan untuk kesana sweet, itulah mengapa aku bingung, kenapa bocah ini bisa sampai ke wilayahku." jelas Gaelich.
"Alpha, saya akan mencari tahu tentang hal ini." ujar Elas, Beta itu memang sangat cekatan. Gaelich mengangguk. Seperti biasa, dia selalu percaya pada Betanya itu.
Liary mendekati bocah dengan rambut pirang khas para elf tersebut, gadis itu membelai pelan rambut bocah itu.
"Dia sendiri ya? Sama sepertiku." gumamnya. Keadaan bocah elf itu mengingatkan dirinya dulu, sendirian. Sebelum bertemu dengan Gaelich. Kira-kira bagaimana reaksinya saat bangun? Pasti kaget karena mendapati dirinya berada di tempat asing. Menurut Liary itu sangat menyeramkan. Kamu sendirian ditempat asing tanpa mengenal siapapun. Uhhh!!
**************
Yoo guyss...
Jangan lupa like dan comment yahh...
Terimakasih sudah membaca..
See youuu...