Sudah lebih dari seminggu Liary tinggal di pack. Dan tentu saja hanya bermalas-malasan, Gaelich tak mengizinkan gadis itu untuk melakukan apapun kecuali bersenang-senang bersamanya.
Alpha yang egois bukan?
Hari ini liary tengah duduk santai di bangku taman pack. Menikmati bunga-bunga Indah yang sengaja di tanam untuk memperindah pack.
Angin semilir membelai lembut rambut Liary. Saat ini Gaelich tak bersamanya, pria itu ada kesibukan dengan para tetua. Entahlah, liary sendiri tak mengetahuinya.
Liary menutup matanya, tampak sangat menikmati kegiatannya. Dia tak menyangka hidupnya bisa sebegitu berubah hanya karena dia bertemu dengan Gaelich. Semua terasa seperti mimpi yang terlalu Indah.
Bagaimana jika suatu saat nanti dia terbangun dan semua yang dia alami terlupakan begitu saja? Sungguh sangat disayangkan dan Liary tidak ingin hal tersebut terjadi.
"Apa yang kau pikirkan sayang?" Liary tersentak kaget. Benar-benar ya, Galeich hobi sekali mengagetkannya.
"HEH! Dari mana kau muncul?! kau selalu membuatku kaget, Lich!" Gaelich terseyum, masih dengan memeluk Liary dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma matenya yang saat ini menjadi candunya.
"Aku lelah sweet...kepalaku terasa berat."
"Kau sakit? Kamari, duduk disampingku." kata Liary, tanganya membelai pipi kiri Gaelich.
Pria itu terdiam, memilih untuk memejamkan matanya menikmati sentuhan matenya tersebut. Rapat tadi cukup membuatnya pusing.
"Alpha, kondisi mata anda semakin memburuk. ini juga akan berpengaruh terhadap wolf anda bahkan nyawa anda" Gaelich mengembuskan nafas panjang. Masalah ini tak pernah bisa selesai. Tentu saja karena dia memang cacat bukan?. Sudah beratus tahun kondisinya ini tak pernah menemukan titik temu.
"Apa yang harus aku lakukan?Mengurangi efek samping pada kerusakan mataku dan nyawaku sekarang ini adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan." para tetua termasuk Elas hanya bisa diam. Jujur meraka sendiri juga tak mempunyai ide untuk masalah ini. Dan dia tidak ingin cepat mati, saat dia sudah mulai membangun Cinta bersama matenya. Bercanda ya?
"Ampuni kami yang tak bisa berbuat banyak untuk anda alpha" ucap Elas tulus. Beta Gaelich itu memang patut di puji akan kesetiannya. Susah tak perlu diragukan lagi.
"ini sudah takdirku " jawab Gaelich dingin.
Hening...........
"Aku tak ingin lunaku tau tentang hal ini"
Salah satu tetua mengangkat tanganya. "Bukankah sebaiknya
Luna tau kondisi anda Alpha? "
Gaelich terdiam, dia tak mau membuat Kiary khawatir. "Aku tak bisa membiarkannya khawatir"
"Kalian sepasang mate Alpha, mau di sembunyikanpun percuma, dia juga bisa merasakan apa yang anda rasakan" kata tetua.
Gaelich bangkit "Untuk saat ini aku hanya ingin dia bahagia, jadi tolong jangan bebani dia, melihat senyum Indah di wajahnya membuatku lebih hidup,aku tak ingin senyum itu hilang"
"Baiklah Alpha, kami akan meminta kiriman bunga teratai hitam lagi"
Gaelich tak menanggapi.
"Apa kau bahagia sekarang?" tanya Gaelich menerawang jauh kedepan.
"Memangnya aku terlihat tidak bahagia?"
Gaelich terseyum "Aku harap bisa terus membahagiakanmu. Terimakasih karena menerimaku yang cacat ini."
Liary mencubit pipi gaelich gemas.
"Bicara apa kau? Apa kau tak merasa jika kau itu sangat sempurna, lihat kulitmu, bahkan lebih halus dari seorang gadis. Jujur saja aku iri padamu!" omel Liary. Gaelich terkekeh geli.
"Aku ini buta."
Liary melepaskan rangkulan Gaelich pada tubuhnya. Gadis itu bangkit,
"Sepertinya aku tidak dengar ucapanmu, apa mungkin kau terlalu sering mengucapkannya ya..ahh aku mendadak tuli nih.." katanya sambil berlari memasuki pack. Meninggalkan Gaelich yang tergeli-geli karena tingkah imutnya.
"Aku ini iblis beruntung ya..." gunam Gaelich, lalu berjalan santai menyusul Liary.
"Maaf Alpha." langkah Gaelich terhenti, seorang warrior menghadapnya.
"Ada apa?"
"Utusan dari Luctaf sudah datang, mereka membawa obat untuk anda Alpha." jawab warrior itu, .
Gaelich mengangguk "Layani mereka."
Warrior itu memberi hormat sebelum pergi.
********
Liary mengamati apa yang dilakukan para maid, mereka semua tampak sibuk. Lalu gadis itu juga sempat melihat ada beberapa tamu.
"Apakah ada acara penting?" tanya Liary pada salah satu maid.
"Tidak nona, hanya untuk melayani utusan dari Luctaf, mereka datang membawa obat untuk Alpha." jawanya.
"Obat? Untuk apa? Apakah Gaelich sakit?" maid itu menjadi tegang. Ia hanya menunduk, tak berani lagi menjawab pertanya Lunanya, dia kira lunanya sudah tau. Jika Gaelich mengetahui, habislah maid itu.
"Maaf lu-luna... " Liary mengerti, sepertinya ada yang disembunyikan darinya. Kenapa dia tak boleh tau? Apa ini sangat penting? Liary menarik tangan maid itu, membawanya ke sebuah ruangan tertutup.
"Bisakah kau beritahu aku.. Aku janji aku akan jaga rahasia." ucap Liary. Ini menyangkut Gaelich, kenapa dia tak boleh tau?
Maid itu tampak ragu, tentu dia tak berani menolak perintah Lunanya, tapi dia juga tak berani melawan Alphanya. "Lu-luna...Alpha akan menghukum saya jika tau saya memberi tahu Kuna." ucapnya lirih.
Liary meremas bahu maid itu "Percaya padaku.. Aku janji itu tidak akan terjadi padamu.. Aku bersumpah." maid itu diam cukup lama sebelum akhirnya mulai bercerita.
"Se-sebenarnya... Dulu Alpha tidak buta, namun sesuatu terjadi padanya saat perang melawan kerajaan Govinia.. "
"Iya.. Lancutkan, aku mendengarkan."
"Kerajaan Govinia adalah tempat tinggal ras vampir, siluman dan dark elf, meraka adalah musuh sejati kerajaan luctaf. Kerajaan itu selalu membuat gara-gara dengan kerajaan kami. Akhirnya pun perang terjadi, kejadian itu mungkin luna belum lahir, tidak. Luna memang belum dilahirkan. Alpha gaelich adalah Raja kerajaan luctaf, perang itu tidak ada yang memenangkan, namun saat itu ada yang memanipulasi pasukan alpha, alpha terkena racun mematikan yang tidak ada obatnya. Racun itu merusak semua organ dalam alpha dan membuatnya terus kehilangan darah, saat itu sudah semua kita kerahkan untuk menyembuhkan alpha, namun tak ada yang berhasil. Lalu seorang dari kaum witch datang, dia berhasil mengeluarkan racun dari tubuh alpha, tapi tidak bisa semua, dan racun itu berkembang dan menyebar, witch itu memberi tahu kami bahwa racun itu tak akan pernah bisa hilang, tapi bisa ditahan menggunakan teratai hitam yang hanya hidup dia tanah para iblis, dan sejak saat itu alpha gaelich buta,dia memutuskan untuk tinggal di tanah werewolf." Liary mendengar dengan saksama.
"Racun yang tak ada obatnya?" maid itu mengangguk.
Liary bergunam "Apa gaelich terkena santet ya?"
"Santet? Apa itu Luna?" tanya maid itu bingung. Ya tentu mahluk immortal tak tahu santet.
"Semacam ilmu hitam, yang digunakan untuk melukai sesorang, jika di periksa tidak ditemukan penyakitnya."
"Saya rasa tidak sesederhana itu Luna."
"Ah kau benar sih, mana bisa mahluk seperti kalian terkena santet, ya itu mustahil, apa yang akan terjadi jika Gaelich tak minum obat itu?."
"Alpha akan meninggal bersama jiwanya yang musnah."
Liary menutup mulut, separah ini kah? "Tidak ada yang bisa dilakukan?"
"Saat ini hanya bunga teratai itu satu-satunya harapan Alpha untuk terus hidup Luna, racun itu bersarang di jantung dan mata alpha."
"Baiklah... Terimakasih untuk semuanya, kau mau mempercayaiku, apa ada yang bisa ku lakukan untukmu?"
"Tidak perlu luna, melayani anda saya sudah cukup senang, jika saya boleh meminta, saya hanya ingin luna tetap di sisi Alpha, sejak luna hadir, hari-hari Alpha tidak buruk lagi. Meski dia adalah Alpha yang cukup kejam, tapi dia tak pernah membiarkan kaum dan rakyatnya menderita." ucap maid itu tulus.
"Aku janji untuk itu" jawab liary terseyum tipis. "Aku pergi dulu ya, kau silahakan lanjutkan kegiatanmu."
"Baik Luna"
**********
Sampai sini dulu untuk chapter ini ya guys..
Thank yang udah baca...
Jangan lupa like dan Comment!