Festival sekolah tinggal tiga hari lagi. Aula, lapangan, dan lorong dipenuhi dekorasi setengah jadi. Karin datang lebih pagi untuk memasang tanda jalur keluar sebelum siswa lain memenuhi gedung. Ia membawa tangga lipat sendiri dan hampir jatuh karena mencoba memasang papan tanpa meminta bantuan.
'Kamu itu kenapa selalu memilih cara paling berbahaya?' Altar menahan tangga dari bawah.
'Aku bisa sendiri.'
'Kalimat itu biasanya diucapkan tepat sebelum kecelakaan.'
Karin turun sambil membawa selotip. 'Aku cuma gak mau semua orang menganggap aku harus dibantu.'
'Meminta orang menahan tangga bukan kehilangan kemandirian.'
Altar naik menggantikannya. Mereka bekerja sebelum bel pertama, memasang tanda sederhana yang mudah terlihat. Karin bangga saat guru pembina memuji hasilnya, meski ia pura-pura menganggap pujian itu biasa.
Pada rapat terakhir, panitia mengumumkan perubahan mendadak. Pembawa acara utama sakit dan Kevin diminta menggantikan. Akibatnya, tugas mengawasi panel informasi dipindahkan kepada Altar. Panel itu berada di sisi panggung utama, dekat pengeras suara.
'Aku tidak bisa di sana,' kata Altar tegas.
Guru pembina tampak bingung. 'Tugasnya hanya memperbarui jadwal. Kamu tidak perlu bicara.'
'Masalahnya bukan bicara, Pak. Suaranya terlalu keras.'
Beberapa siswa menoleh. Altar biasanya menyembunyikan kondisinya, tetapi kali ini ia tidak mau mengorbankan kesehatan hanya agar terlihat normal.
Kevin menjelaskan singkat bahwa Altar memiliki gangguan sensor pendengaran. Guru itu meminta maaf dan menawarkan memindahkan panel, tetapi kabel jaringan sudah terpasang permanen.
Karin mengangkat tangan. 'Panelnya gak harus dijaga satu orang terus. Kita bisa perbarui jadwal dari komputer perpustakaan, lalu satu anggota lain mengecek tampilannya setiap pergantian acara.'
Selvi menambahkan usulan penggunaan pesan singkat jika ada perubahan. Rencana baru disusun dalam sepuluh menit. Altar tetap mengurus data dari ruangan tenang, sedangkan tiga anggota bergiliran memantau panel.
'Maaf karena membuat repot,' kata Altar setelah rapat.
Selvi mengerutkan kening. 'Kita baru saja membuat sistem yang lebih aman. Kalau satu orang sakit, data tetap berjalan. Itu bukan repot.'
Karin mengangguk setuju. Ia senang Selvi bersikap baik, lalu sedikit malu karena sebelumnya memandang gadis itu sebagai ancaman.
Hari festival tiba dengan langit cerah. Siswa dan orang tua memenuhi sekolah. Musik terdengar dari lapangan, tetapi perpustakaan kecil tetap cukup tenang karena pintu kedap ditutup. Altar duduk di depan laptop bersama dua anggota. Jadwal tampil berubah beberapa kali, dan sistem baru mereka bekerja baik.
Karin mondar-mandir membawa cat cadangan, tali, dan daftar dekorasi. Ia berulang kali mampir untuk memastikan Altar baik-baik saja.
'Kunjungan keempat,' kata Altar. 'Aku aman.'
'Aku cuma lewat.'
'Stan tim dekorasi ada di gedung sebelah.'
'Aku lewat dengan rute pemandangan.'
Altar memberinya air minum. 'Kamu sendiri sudah istirahat?'
Karin belum sempat menjawab ketika seorang panitia berlari masuk. Pertunjukan musik kelas dua belas dimajukan dan data harus diganti. Altar segera bekerja. Beberapa menit kemudian, layar panel menampilkan jadwal baru.
Namun masalah muncul saat gladi singkat. Salah satu pengeras suara mengalami umpan balik dan menghasilkan lengkingan tajam. Walau berada di ruangan lain, suara itu menembus dinding. Altar mencengkeram tepi meja. Alat peredamnya tidak mampu menghalangi frekuensi tinggi tersebut.
Karin melihat perubahan wajahnya. Ia tidak menyentuh Altar. 'Kamu mau keluar lewat pintu belakang?'
Altar mengangguk. Karin membuka jalur, sementara Selvi mengambil alih komputer. Mereka menuju ruang kesehatan yang lebih jauh dari panggung. Altar duduk dalam gelap, melepaskan alat dari telinga, dan mengatur napas.
'Aku akan panggil Mama atau dokter?' tanya Karin.
'Tunggu lima menit dulu.'
Karin menunggu. Ia mematikan nada ponsel dan duduk beberapa langkah darinya. Setelah denging berkurang, Altar meminta air.
'Kali ini lebih sakit dari biasanya,' katanya.
'Kita periksa ke rumah sakit.'
'Festival belum selesai.'
'Selvi sudah mengambil alih. Sistemmu bekerja tanpa kamu, ingat?'
Altar masih ragu. Ia ingin membuktikan dapat menyelesaikan tanggung jawab, tetapi menyadari bertahan bukan satu-satunya bentuk tanggung jawab. Ia mengirim instruksi terakhir kepada tim lalu menghubungi Mama Hanna.
Karin menemani sampai mobil jemputan datang. 'Aku ikut.'
'Kamu punya tugas dekorasi.'
'Sudah ada Hany dan Dion.'
'Karin.'
'Aku gak maksa keputusan kesehatanmu. Aku hanya menawarkan menemani. Kamu boleh bilang tidak.'
Altar menatapnya lama. 'Baik. Temani aku.'
Di rumah sakit, dokter memeriksa saraf pendengaran dan menemukan iritasi sementara, bukan kerusakan baru. Altar harus menghindari suara keras selama beberapa hari. Mama Hanna berterima kasih kepada Karin karena tidak mencoba memasang atau mencabut alat sendiri.
'Dulu aku pasti langsung panik dan pegang-pegang,' kata Karin.
'Sekarang juga panik,' ujar Altar, 'cuma lebih berguna.'
Karin mendelik, tetapi senang melihat Altar masih bisa bercanda.
Mereka kembali ke sekolah menjelang sore hanya untuk mengambil barang. Festival hampir selesai. Kevin menemui mereka di gerbang dan memeluk bahu Altar hati-hati.
'Panel berjalan lancar. Tim bilang sistemmu menyelamatkan jadwal.'
Altar tersenyum lega. Ia tidak berada di sana sampai akhir, tetapi pekerjaannya tetap berarti.
Di aula yang sudah sepi, panitia menayangkan rekaman pertunjukan tanpa suara untuk memeriksa dokumentasi. Karin dan Altar duduk di baris belakang. Di layar, siswa menari, menyanyi, dan tertawa dalam gambar bisu.
'Aneh melihat pesta tanpa suara,' bisik Karin.
'Tidak buruk,' jawab Altar. 'Aku tetap bisa melihat orang bahagia.'
Karin menatap profilnya. Ia sempat mengira dunia Altar hanya terdiri dari larangan dan ketakutan. Kini ia memahami bahwa Altar tidak membutuhkan orang yang menghapus semua suara. Ia membutuhkan pilihan tentang suara mana yang sanggup diterima dan kapan harus pergi.
Ketika layar menampilkan tim dekorasi, Karin terlihat berdiri dengan cat di pipi. Altar tertawa pelan.
'Apa?'
'Kamu cantik saat bekerja serius.'
'Kemarin katanya cantik kalau gak teriak.'
'Berarti syaratnya bertambah.'
Karin menyandarkan kepala ke kursi, pura-pura kesal. Dalam ruangan tanpa musik dan tepuk tangan, jantungnya sendiri justru terasa sangat berisik.
Dan kali ini, ia tidak ingin meredam suara itu sama sekali.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.