Dua hari setelah festival, Ratna menghubungi Sandra dengan temuan baru. Ada surat kuasa bertanggal tiga tahun lalu yang memuat tanda tangan Karin. Surat itu memberi Adrian wewenang mengelola saham putrinya sampai usia dua puluh satu tahun.
'Aku gak pernah tanda tangan beginian,' kata Karin setelah melihat salinannya.
Tanda tersebut memang menyerupai namanya, tetapi huruf terakhir terlalu rapi. Tiga tahun lalu Karin bahkan jarang menandatangani buku tugas dengan bentuk yang sama dua kali.
'Bisa jadi kamu menandatangani di antara dokumen sekolah atau rekening,' ujar Sandra.
'Kalau begitu tetap saja Papa menyembunyikan isinya.'
Ratna meminta dokumen asli diperiksa ahli tulisan tangan. Sementara itu, ia mengirim pemberitahuan resmi kepada bank dan perusahaan bahwa surat kuasa tersebut disengketakan. Adrian tidak boleh memindahkan aset sampai pemeriksaan selesai.
Pemeriksaan itu mengharuskan Karin memberikan contoh tanda tangan dari berbagai tahun. Sandra membuka lemari arsip dan menemukan rapor, formulir lomba, serta kartu perpustakaan lama. Karin tertawa getir melihat tanda tangannya berubah-ubah seperti coretan anak ayam.
'Setidaknya kebiasaanmu gak konsisten sekarang berguna,' kata Kevin.
'Aku memilih menganggap itu bakat artistik.'
Ratna menjelaskan ahli tidak hanya membandingkan bentuk huruf, tetapi juga tekanan tinta, gerakan pena, dan posisi tulisan terhadap cetakan. Karin mendengarkan sambil mencatat. Proses hukum tidak secepat drama televisi; tidak ada satu adegan yang langsung membuktikan semuanya.
Ratna juga mengingatkan mereka agar tidak mengunggah tuduhan ke media sosial. Bukti harus diuji, bukan dijadikan bahan perang pendapat. Karin menghapus draf unggahan marah yang sempat ditulisnya dan memilih menyimpan tenaga untuk pemeriksaan resmi.
Kevin membaca semua surat sebelum ditandatangani. Karin juga membacanya, meski membutuhkan waktu dua kali lebih lama. Ketika tidak memahami istilah hukum, ia menuliskannya untuk ditanyakan.
'Aku bangga kamu gak menyerah cuma karena bahasanya susah,' kata Sandra.
'Jangan bangga dulu. Aku baru halaman tiga dan pengen bakar kamus.'
Sandra tersenyum. Hubungan mereka belum kembali seperti semula, tetapi percakapan sudah tidak selalu berakhir dengan pintu dibanting.
Di sekolah, Altar menjalani beberapa hari tanpa alat peredam karena telinganya harus beristirahat. Ia memakai pelindung luar dan memilih ruang yang tenang. Karin mengubah tempat belajar mereka dari kantin ke taman belakang.
'Aku bawa latihan soal,' katanya sambil mengeluarkan buku tebal.
'Kamu sendiri yang meminta belajar?'
'Jangan terlihat terlalu kaget. Menyinggung perasaan.'
Mereka mempersiapkan ujian akhir semester. Karin ternyata lebih mudah memahami matematika melalui gambar dan contoh belanja. Altar membuat soal tentang diskon album, ongkos konser, dan perbandingan harga tiket. Karin mengerjakannya dengan semangat yang tidak pernah muncul ketika Kevin menggunakan contoh apel.
'Jadi selama ini bukan aku bodoh. Soalnya aja yang gak kenal target pasar,' kata Karin.
'Jangan terlalu cepat menyalahkan soal.'
Ponsel Karin bergetar. Pesan Adrian meminta bertemu tanpa pengacara. Karin menunjukkan layar kepada Altar.
'Kamu mau menjawab apa?' tanya Altar.
'Aku mau bilang enggak.'
'Kalau begitu bilang.'
Karin mengetik bahwa semua pembicaraan tentang aset harus melalui Ratna. Adrian membalas dengan kalimat panjang mengenai kehormatan keluarga dan rasa percaya. Karin membaca, lalu meletakkan ponsel tanpa menanggapi.
'Dulu kalau Papa kirim uang, aku merasa disayang,' katanya. 'Sekarang aku bingung apa semuanya cuma cara supaya aku gak bertanya.'
'Mungkin ada rasa sayang, mungkin juga ada rasa bersalah dan kepentingan. Hanya papamu yang tahu.'
'Aku benci jawaban yang gak pasti.'
'Tapi jawaban pasti yang palsu lebih buruk.'
Karin mengangguk. Ia kembali mengerjakan soal sampai bel berbunyi.
Sore itu, Ratna mengabarkan tanda tangan pada surat kuasa kemungkinan besar dipindai dari formulir pembukaan rekening. Tinta dan cetakannya tidak berasal dari waktu yang sama. Bukti final membutuhkan pemeriksaan laboratorium, tetapi cukup kuat untuk membekukan kewenangan Adrian.
Kevin marah dan ingin langsung melaporkan ayahnya. Sandra meminta mereka mempertimbangkan langkah hukum bersama pengacara, bukan karena ingin melindungi Adrian, melainkan agar bukti tidak rusak oleh tindakan tergesa-gesa.
'Mama masih sayang Papa?' tanya Karin.
'Tidak seperti dulu. Tapi kemarahan juga tidak boleh membuat kita ceroboh.'
Mereka sepakat memberi Ratna wewenang melapor jika pemeriksaan mengonfirmasi pemalsuan. Karin menandatangani surat persetujuan setelah membaca setiap halaman.
Malamnya, Adrian datang tanpa pemberitahuan. Satpam rumah menahannya di gerbang. Ia menelepon Karin berkali-kali sampai akhirnya Kevin turun menemuinya bersama Sandra. Karin mengamati dari jendela kamar, lalu memutuskan ikut keluar.
Sebelum turun, ia mengirim lokasi kepada Ratna dan menyalakan perekam suara atas saran pengacara. Tindakan itu membuat tangannya dingin. Karin tidak pernah membayangkan perlu mengumpulkan bukti ketika berbicara dengan ayah sendiri. Namun rasa sedih tidak boleh menghapus kewaspadaan.
'Papa cuma ingin bicara,' kata Adrian.
'Kenapa tanda tanganku ada di surat yang gak pernah kulihat?' tanya Karin.
Adrian mengatakan staf administrasinya yang mengurus dokumen dan mungkin terjadi kesalahan. Ratna sebelumnya telah memperingatkan bahwa alasan semacam itu mungkin digunakan.
'Kalau staf yang salah, bantu pemeriksaan,' kata Kevin. 'Serahkan dokumen asli dan catatan perintah.'
'Kalian memperlakukan Papa seperti penjahat.'
Karin menatap lelaki yang dahulu selalu ia tunggu. 'Aku memperlakukan Papa seperti orang yang belum menjawab pertanyaan.'
Adrian mencoba masuk, tetapi Sandra berdiri menghalangi. Untuk pertama kalinya Karin melihat ibunya menetapkan batas tanpa berteriak.
'Pulanglah. Pembicaraan berikutnya lewat Ratna,' kata Sandra.
Adrian memandang anak-anaknya sebelum kembali ke mobil. Tidak ada pelukan atau janji pulang cepat. Gerbang menutup di belakangnya.
Karin merasa menang sekaligus kehilangan. Ia mengambil ponsel, hendak menghubungi Altar, lalu berhenti. Altar sedang beristirahat dan ia tidak harus selalu menjadikan cowok itu penampung semua kesedihan.
Sebagai gantinya, Karin duduk bersama Kevin dan Sandra di ruang tengah. Mereka membuat teh, membaca kembali kronologi dokumen, lalu berbicara tentang hal biasa ketika kepala mulai lelah.
Karin mulai mengerti bahwa percaya kepada diri sendiri tidak berarti menghadapi segalanya sendirian. Ia hanya perlu memilih orang yang tidak mengambil keputusan atas namanya.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.