Enam bulan setelah keberangkatan Altar, tabungan perjalanan Karin belum cukup untuk tiket pulang-pergi. Ia sebenarnya dapat meminta Sandra membeli tiket dalam hitungan menit, tetapi ingin membuktikan bahwa rencana tersebut bukan dorongan sesaat.
Karin mulai menerima pekerjaan desain kecil. Ia membuat poster acara kampus, menu kedai milik teman Hany, dan tampilan media sosial untuk toko bunga. Pekerjaan pertamanya dibayar murah karena ia tidak berani menetapkan harga.
'Kamu menghabiskan tiga malam dan dibayar setara dua album,' kata Raka setelah melihat tagihan.
'Aku masih pemula.'
'Pemula tetap bekerja. Hitung waktumu.'
Bu Ratri mengajarkan cara menyusun kontrak sederhana: ruang lingkup, jumlah revisi, tenggat, dan hak penggunaan. Karin teringat surat kuasa Adrian dan tidak lagi menganggap dokumen sebagai sesuatu yang hanya perlu dibaca orang dewasa.
Klien kedua meminta revisi sebelas kali di luar kesepakatan. Karin hampir menurut karena takut kehilangan reputasi, lalu mengirim penjelasan bahwa revisi tambahan dikenai biaya. Klien mengeluh, tetapi akhirnya membayar.
Karin membuat lembar pencatatan penghasilan dan biaya perangkat lunak. Untuk pertama kalinya ia melihat bahwa uang yang masuk bukan seluruhnya keuntungan. Ada pajak, listrik, langganan aplikasi, dan waktu yang tidak dapat dijual dua kali.
Raka mengajaknya bergabung dalam studio kecil bersama beberapa mahasiswa, tetapi Karin tidak langsung menerima. Ia meminta melihat pembagian kepemilikan dan tanggung jawab terlebih dahulu. Teman-temannya menggoda sikap hati-hati itu, namun bersedia menyusun kesepakatan tertulis.
'Aku gak curiga sama kalian,' jelas Karin. 'Aku cuma belajar bahwa hubungan baik tetap butuh aturan jelas.'
Mila menyetujui. Mereka memulai masa percobaan tiga bulan tanpa menggabungkan rekening. Keputusan tersebut membuat Karin merasa pekerjaannya bukan sekadar cara mengumpulkan tiket, tetapi awal profesi yang ingin dipelajari serius.
'Tanganku dingin waktu kirim pesan,' cerita Karin kepada Altar.
'Tapi kamu mengirimnya.'
'Aku sekarang mengerti kenapa orang kerja ngomel soal klien.'
Altar menunjukkan meja laboratoriumnya. Ia sedang mengembangkan panel murah untuk mengurangi gema di ruang kelas. Kuliahnya padat, tetapi bahasa Prancisnya membaik dan ia sudah dapat membeli kebutuhan tanpa bantuan Luc.
'Aku dapat libur musim semi dua minggu,' katanya.
'Serius? Berarti aku bisa datang kalau uangnya cukup.'
'Jangan habiskan seluruh tabungan hanya buat tiket.'
Karin sudah membuat anggaran: tiket, visa, asuransi, penginapan, transportasi, makanan, dan dana darurat. Ia juga menghitung biaya kuliah yang tetap berjalan. Kekurangannya masih besar.
Sandra menawarkan meminjamkan tanpa bunga. Karin menolak kata hadiah, tetapi menerima pinjaman setelah mereka menulis jadwal pengembalian yang realistis.
'Mama sebenarnya senang bisa membelikan,' kata Sandra.
'Aku tahu. Tapi aku mau ikut bertanggung jawab.'
'Menerima sebagian bantuan tidak membuat usahamu hilang.'
Karin membeli tiket ketika harga turun. Tangannya bergetar saat menekan tombol pembayaran. Dahulu ia sering pergi ke Korea menggunakan uang keluarga tanpa memikirkan angka. Tiket ke Prancis terasa berbeda karena setiap nominal memiliki jam kerja dan keputusan di belakangnya.
Kevin memeriksa rencana perjalanan seperti petugas imigrasi. Ia meminta alamat penginapan, nomor kampus, kontak Altar, serta salinan asuransi. Karin menyewa kamar di penginapan dekat asrama karena peraturan kampus melarang tamu bermalam.
'Aku gak akan hilang,' protesnya.
'Orang yang hilang biasanya gak merencanakannya.'
'Kak Kevin makin mirip Mama.'
'Dan kamu masih mirip anak yang pernah mau kabur lewat balkon.'
Maya meminta Karin membawa gambar dari Nadine untuk Altar. Adrian juga mengirim surat dari penjara dan menyelipkan uang sebagai hadiah perjalanan. Karin mengembalikan uang tersebut melalui prosedur resmi, tetapi membalas suratnya.
'Aku ingin perjalanan ini dibayar dari keputusan yang kupahami,' tulisnya. 'Papa bisa mendukung dengan menghormati itu.'
Adrian tidak mengirim ulang uang. Dalam surat berikutnya ia hanya berharap Karin selamat. Kepatuhan sederhana tersebut menjadi perubahan kecil yang lebih berarti daripada hadiah mahal.
Menjelang keberangkatan, hubungan Karin dan Altar justru terasa tegang. Mereka terlalu sibuk merencanakan pertemuan sampai lupa menikmati percakapan biasa. Karin ingin Altar menemaninya setiap hari, sementara Altar memiliki praktikum dan janji bertemu Jules.
'Aku datang jauh-jauh masa kamu tinggal kuliah?' kata Karin.
'Aku gak bisa libur dua minggu penuh. Jadwal kampusku sudah ada sebelum tiketmu.'
'Berarti aku jalan sendirian?'
'Sebagian hari, iya. Kamu bilang ingin perjalanan mandiri.'
Karin tersinggung, lalu membaca ulang anggarannya. Ia memang membangun perjalanan itu sebagai bagian dari kemandirian, bukan paket liburan yang seluruhnya harus diurus Altar.
'Maaf,' katanya pada panggilan berikutnya. 'Aku membuat usahaku jadi tagihan yang harus kamu bayar dengan waktu.'
'Aku juga bisa mengatur lebih banyak waktu. Aku cuma gak mau menjanjikan semua hari.'
Mereka menyusun jadwal longgar. Altar akan menjemput di bandara, menemani akhir pekan, dan mengajak Karin ke laboratorium pada hari kunjungan tamu. Hari lain Karin dapat mengikuti tur, bekerja dari kafe, atau bertemu komunitas desain.
Hany tertawa ketika mengetahui Karin akan bepergian tanpa jadwal pacar penuh.
'Kalau aku, sudah ngambek.'
'Aku tadi juga ngambek. Terus sadar pacar bukan pemandu wisata yang dipesan bersama tiket.'
Bu Ratri meminta Karin membuat jurnal visual selama perjalanan, bukan sebagai tugas wajib, tetapi latihan mengamati. Ia menyarankan Karin tidak hanya memotret tempat terkenal. Perhatikan tiket, tanda jalan, cara orang menunggu kereta, serta benda kecil yang membantu orang asing memahami ruang.
Karin menyiapkan buku sketsa dan berjanji tidak menghabiskan perjalanan hanya mengambil foto bersama Altar. Ia juga mempelajari kalimat Prancis dasar. Pelafalannya membuat Altar tertawa dalam panggilan video, lalu Karin mengancam hanya akan bicara bahasa isyarat ketika tiba.
Hari keberangkatan tiba. Kali ini Karin yang berdiri di depan gerbang pemeriksaan, sementara Kevin, Sandra, Hany, Dion, dan Nadine melambaikan tangan. Ia memakai pelindung telinga ungu pemberian Altar agar perjalanan lebih nyaman.
'Jangan nikah diam-diam!' seru Hany.
'Aku ke sana dua minggu, bukan pindah negara!'
Karin memeluk semua orang lalu berjalan masuk tanpa meminta Pak Yadi membawa koper sampai pintu terakhir. Di dalam tasnya ada dokumen yang diperiksa sendiri, uang hasil kerja, serta kecemasan yang tidak disembunyikan.
Perjalanan itu memang menuju Altar, tetapi setiap langkah menuju pesawat adalah langkah yang dipilih Karin untuk dirinya sendiri.