Altar menunggu di bandara dengan mantel gelap dan papan kecil bertuliskan selamat datang, polisi suara. Karin melihatnya dari balik pintu kedatangan dan langsung berlari, lalu berhenti beberapa meter sebelum menabrak orang.
'Aku berhasil gak menabrak!' serunya.
Altar membuka tangan. Karin memeluknya erat. Enam bulan percakapan melalui layar tidak mampu mempersiapkan rasa hangat tubuh yang nyata. Mereka berciuman singkat, kemudian tertawa karena petugas di belakang meminta mereka menyingkir dari jalur.
'Kamu kurusan,' kata Karin.
'Kamu selalu bilang begitu di video.'
'Video menipu.'
Mereka naik kereta menuju kota. Altar menunjukkan cara membaca jalur dan membeli tiket, tetapi tidak mengambil alih koper Karin. Ketika pengumuman terdengar terlalu cepat, ia memperlihatkan aplikasi terjemahan yang biasa digunakan.
Karin tiba di penginapan sore hari. Ia ingin langsung berjalan-jalan, sementara Altar terlihat lelah setelah pagi kuliah dan perjalanan ke bandara.
'Kita makan dekat sini lalu istirahat,' usul Altar.
'Tapi waktuku cuma dua minggu.'
'Kalau hari pertama kamu sakit, waktumu malah habis.'
Karin mengalah. Mereka membeli makanan di toko kecil dan makan di kamar tamu penginapan. Kencan pertama setelah enam bulan ternyata hanya roti, sup, dan cerita tentang penerbangan. Namun Karin senang dapat menyentuh tangan Altar tanpa menunggu jaringan stabil.
Keesokan hari, Altar harus mengikuti praktikum. Karin datang sebagai tamu laboratorium. Ia bertemu Luc, Farid, dan Elise—gadis berambut cokelat yang selama ini hanya berupa nama dalam cerita.
Sebelum masuk, Karin mengikuti pengarahan keselamatan dan menandatangani aturan kerahasiaan proyek. Ia membaca dokumen sampai selesai meski petugas mengatakan formulirnya standar. Altar menunggu tanpa mengejek kebiasaan barunya.
Laboratorium memiliki ruang uji yang hampir menghapus gema. Ketika pintu ditutup, Karin dapat mendengar napas dan detak samar tubuhnya sendiri. Sensasi itu membuatnya tidak nyaman setelah beberapa menit.
'Tempat tenang belum tentu nyaman untuk semua orang,' jelas Altar. 'Makanya kami menguji beberapa tingkat redaman, bukan menghilangkan seluruh suara.'
Karin menulis kalimat itu di buku sketsa. Ia menyadari desain aksesibel bukan mengejar satu keadaan sempurna, melainkan memberikan pilihan.
Elise menyambut ramah dalam bahasa Inggris. 'Akhirnya kami bertemu polisi suara.'
Karin menatap Altar. 'Kamu cerita julukan itu?'
'Hanya sedikit.'
Elise menunjukkan panel akustik kelompok mereka. Ia dan Altar bekerja dengan mudah, saling menyelesaikan kalimat teknis. Rasa cemburu Karin muncul bukan karena keduanya terlihat romantis, melainkan karena Elise memahami bagian kehidupan Altar yang asing baginya.
Ketika Altar sibuk, Luc mengajak Karin melihat studio desain kampus. Ia memperkenalkan beberapa mahasiswa yang mengerjakan sistem penanda aksesibel. Karin tertarik dan bertukar kontak untuk diskusi proyek.
Saat makan siang, Elise bertanya tentang poster peta suara Karin. Ternyata Altar pernah menunjukkan artikel lombanya.
'Konsepmu membantu kami memikirkan panel bukan hanya sebagai benda, tetapi bagian dari informasi ruang,' kata Elise.
Karin sadar dirinya juga hadir dalam dunia Altar meski tidak berada secara fisik. Kecemburuannya mereda dan berubah menjadi rasa ingin tahu.
Sore hari, Altar mengajak Karin bertemu Jules di taman. Étienne mengantar putranya, lalu menjaga jarak sesuai kesepakatan. Jules pemalu dan hanya mampu beberapa kata bahasa Indonesia. Karin memberikan gambar Nadine, sedangkan Jules membawa permainan kartu.
'Ini pacarmu?' tanya Jules kepada Altar dalam bahasa Prancis.
Altar menerjemahkan dengan wajah merah. 'Iya.'
Jules memandang Karin. 'Dia berisik?'
Karin tidak memahami kalimatnya, tetapi melihat Altar tertawa.
'Dia tanya apa?'
'Katanya kamu kelihatan ramah.'
Étienne membetulkan terjemahan dalam bahasa Inggris. Karin langsung memelototi Altar, lalu semua orang tertawa. Ketegangan mencair.
Selama satu jam, Altar dan Jules bermain kartu. Étienne tidak menyelipkan permintaan maaf atau memaksa foto keluarga. Ia hanya menjawab ketika Altar bertanya tentang sekolah Jules. Sebelum pulang, Jules meminta bertemu lagi.
'Aku akan lihat jadwal,' jawab Altar.
Jawaban itu cukup. Étienne mengucapkan terima kasih dan pergi.
Dalam perjalanan ke penginapan, Karin menggenggam tangan Altar. 'Aku suka Jules.'
'Kamu baru bertemu satu jam.'
'Dulu aku juga langsung suka kamu setelah menabrak.'
'Itu justru alasan aku khawatir.'
Hari ketiga, Karin harus menjalani rencana sendiri karena Altar mengikuti ujian. Ia tersesat ketika turun di halte yang salah. Ponselnya hampir kehabisan baterai dan petunjuk jalan tidak tersedia dalam bahasa Indonesia.
Karin panik, lalu masuk ke toko dan meminta bantuan menggunakan bahasa Inggris sederhana. Pemilik toko menunjukkan stasiun terdekat. Ia membeli pengisi daya, mengirim lokasi kepada Altar, dan melanjutkan perjalanan tanpa memintanya meninggalkan ujian.
Karin akhirnya tiba di museum desain dua jam terlambat. Ia tetap masuk dan mengikuti tur terakhir. Di sana ia melihat sistem penanda tua yang mengandalkan warna serta bentuk, lalu memenuhi buku catatannya dengan sketsa.
Ketika Altar selesai ujian, ia menelepon.
'Kamu aman?'
'Aman. Tersesat, panik, lalu menemukan jalan.'
'Aku bisa menyusul.'
'Ujianmu selesai?'
'Sudah.'
'Kalau begitu datang. Bukan untuk menyelamatkan, tapi aku kangen.'
Mereka bertemu di depan museum saat matahari hampir tenggelam. Karin menceritakan kejadian dengan bangga. Altar tidak menegur atau memuji seperti anak kecil. Ia hanya mendengarkan lalu bertanya apa yang dipelajari.
Karin menunjukkan sketsa tanda jalan dan tiket museum. Salah satu petunjuk memakai simbol yang tetap dapat dipahami meski pengunjung tidak membaca bahasa setempat. Ia ingin mengadaptasi gagasan itu untuk proyek halte di Indonesia.
Mereka makan di kedai dekat sungai. Karin mencoba memesan sendiri dan salah mengucapkan nama makanan hingga pelayan kebingungan. Altar membantu setelah Karin meminta, bukan langsung mengambil alih. Kesalahan tersebut menjadi bahan tawa, bukan alasan baginya berhenti mencoba.
Saat berjalan pulang, mereka membicarakan hal-hal yang tidak pernah muncul di panggilan video: cara Altar sering lupa mencuci cangkir, kebiasaan Karin memeriksa peta setiap dua menit, serta kebutuhan masing-masing untuk diam setelah hari panjang. Kedekatan nyata ternyata memerlukan penyesuaian baru.
Pada malam itu, Karin menyadari dunia Altar tidak berhenti menunggunya datang. Ada teman, laboratorium, keluarga baru, dan rutinitas yang tumbuh selama mereka berjauhan. Hal yang sama berlaku bagi dunianya di Indonesia.
Pertemuan bukan usaha mengembalikan masa sebelum jarak. Mereka harus mengenal kembali dua orang yang terus berubah—dan memutuskan apakah versi baru itu masih ingin berjalan bersama.