Negosiasi dengan Sonance mencapai batas. Perusahaan bersedia memberi lisensi murah kepada sepuluh sekolah per tahun, tetapi tetap menginginkan hak eksklusif dan wajah Altar sebagai pusat kampanye. Universitas menganggap tawaran itu cukup baik.
Altar tidak yakin. Sepuluh sekolah terdengar banyak untuk brosur, tetapi kecil dibanding kebutuhan. Ia mengadakan rapat dengan kelompok pengguna yang membantu pengujian. Seorang guru mengatakan tanpa produksi perusahaan, bahkan sepuluh sekolah tidak akan mendapat apa pun. Aktivis Tuli bernama Camille khawatir kisah Altar dipakai untuk menjual produk tanpa memberi komunitas kuasa.
'Tidak ada pilihan murni,' kata Camille. 'Tapi tanyakan siapa yang dapat mengatakan tidak setelah kontrak ditandatangani.'
Kelompok Altar menyusun syarat akhir: dewan akses independen, laporan harga terbuka, versi perangkat lunak dasar tetap tersedia, dan peserta pengujian dibayar. Mereka juga menolak kampanye yang menyebut Altar berhasil mengalahkan ketulian.
Sonance menerima dewan dan pembayaran pengguna, tetapi menolak perangkat lunak terbuka. Elise berpendapat kompromi masih layak. Farid ingin mencari pendanaan publik meski produksi tertunda dua tahun.
Sebagai koordinator, Altar tidak dapat memutuskan sendiri. Mereka melakukan pemungutan suara setelah setiap anggota menyatakan konflik kepentingan. Hasilnya imbang. Altar menjadi suara penentu.
Ia meminta jeda satu minggu dan menemui sekolah tempat prototipe diuji. Kepala sekolah mengatakan anggaran mereka tidak akan mampu membeli lisensi Sonance setelah masa bantuan selesai.
'Kami mungkin kembali ke ruangan lama,' katanya.
Altar melihat murid-murid menggunakan sudut tenang. Proyek yang dibuat untuk memberi pilihan dapat berubah menjadi fasilitas sementara yang dicabut ketika dana habis.
Ia memilih menolak kontrak eksklusif. Elise kecewa dan menuduh Altar membiarkan idealisme menghambat kesempatan karier mereka.
'Kamu sudah punya beasiswa,' katanya. 'Tidak semua anggota bisa menunggu pendanaan berikutnya.'
Altar menyadari keputusan etis juga memiliki biaya yang tidak dibagi rata. Ia meminta maaf karena terlalu lama berbicara seolah semua mampu menanggung penundaan.
Kelompok kemudian membagi proyek. Elise boleh mengembangkan material tertentu bersama Sonance berdasarkan lisensi terpisah, sedangkan sistem gabungan tetap dikelola universitas. Farid dan Altar mengajukan hibah publik. Tidak semua orang puas, tetapi tidak ada yang dipaksa tetap dalam satu jalan.
Pembagian itu menimbulkan pekerjaan baru. Mereka harus menentukan bagian pengetahuan yang dibuat bersama dan bagian yang dapat dibawa Elise. Kantor hukum membantu menyusun lisensi silang. Semua catatan laboratorium diperiksa agar kontribusi mahasiswa tidak hilang di bawah nama universitas.
Elise dan Altar bertengkar sekali lagi ketika Sonance ingin memakai data uji lama. Altar menolak karena peserta memberi izin untuk riset pendidikan, bukan promosi perusahaan. Elise akhirnya setuju meminta persetujuan baru.
'Aku tetap kesal kamu menolak kontrak pertama,' kata Elise. 'Tapi aku gak mau membangun karier dari data yang dipakai tanpa izin.'
'Kita boleh berbeda soal jalan dan tetap punya batas yang sama.'
Hubungan kerja mereka menjadi lebih formal, tetapi tidak rusak. Elise memperoleh kesempatan yang dibutuhkannya, sementara Altar belajar menjaga prinsip tidak harus berarti menganggap semua orang yang berkompromi sebagai musuh.
Mereka tetap makan siang bersama setelah menandatangani pembagian proyek. Percakapan terasa canggung, tetapi keduanya memilih tidak membiarkan satu keputusan profesional menghapus penghargaan terhadap kerja yang telah dibangun bersama.
Karin mengikuti konflik dari Belanda. Ia ingin langsung membela Altar ketika Elise marah, namun menahan diri. Elise memiliki alasan nyata tentang keamanan karier. Karin mengirim pesan pribadi kepadanya hanya untuk berterima kasih atas bantuan selama pemulihan Altar, tanpa ikut campur negosiasi.
Pada waktu yang sama, studio Belanda meminta jawaban magang. Karin membandingkan dua pilihan. Jika menerima, ia memperoleh pengalaman internasional dan gaji cukup untuk hidup sederhana. Jika pulang, studio mahasiswa di Indonesia membutuhkan dirinya untuk proyek terminal yang memasuki tahap konstruksi.
Raka mengatakan mereka dapat bekerja tanpa Karin selama enam bulan. Bu Ratri menyarankan melihat bidang mana yang belum dapat dipelajari di Indonesia. Sandra tidak meminta pulang, meski mengaku rindu.
Adrian menulis bahwa Karin sebaiknya mengambil magang dan menawarkan biaya tambahan. Karin menolak uang, tetapi tidak menolak pendapat hanya karena berasal dari ayahnya.
Ia menerima tawaran dengan syarat dapat menyelesaikan beberapa pekerjaan Indonesia jarak jauh dan mendapat cuti untuk evaluasi proyek terminal. Studio menyetujui.
Minggu pertama magang membuat Karin kewalahan. Rapat dimulai tepat waktu, kritik diberikan langsung, dan konsep yang dikerjakannya tiga hari dapat ditolak dalam lima menit. Ia pulang ke asrama ingin menelepon Altar, tetapi perbedaan jadwal membuatnya menulis jurnal lebih dulu.
Karin menemukan dirinya tidak selalu membutuhkan Altar untuk mengubah kecewa menjadi keputusan. Keesokan hari ia meminta alasan penolakan, memperbaiki riset, dan mengusulkan versi baru. Desain itu diterima bukan karena ia bersikeras, melainkan karena bukti pengujian lebih kuat.
Gaji pertama magang digunakan untuk biaya hidup, tabungan pulang, dan sebagian kecil membeli album baru. Ia tidak merasa harus meninggalkan identitas fangirl demi dianggap dewasa. Perbedaannya, pembelian kini memiliki tempat dalam anggaran, bukan mengambil alih seluruh rencana.
Altar merayakan melalui video. Namun saat membahas jadwal, mereka menemukan enam bulan Karin di Belanda bertepatan dengan kesempatan Altar mengikuti riset lapangan di Kanada selama satu semester.
'Kamu mau daftar?' tanya Karin.
'Bidangnya tepat dengan proyekku. Tapi kalau aku pergi, kita kembali beda enam jam dan lebih jauh.'
'Jangan jadikan magangku alasan menolak.'
'Aku juga gak mau hubungan kita hanya rangkaian keputusan terpisah.'
Ketegangan muncul lagi. Selama bertahun-tahun mereka selalu mengatakan karier masing-masing penting. Kini kesempatan datang bertumpuk tanpa peta kapan mereka akan tinggal di kota sama.
'Apa kita punya tujuan bersama?' tanya Karin. 'Atau cuma terus menunda?'
Altar tidak mampu menjawab. Ia ingin bersama Karin, tetapi belum tahu negara tempatnya bekerja. Karin juga tidak siap meninggalkan bidang desain sosial yang terhubung ke Indonesia.
Mereka mengakhiri panggilan tanpa pertengkaran, tetapi tidak ada ucapan sayang. Diam kali ini bukan ruang nyaman. Diam itu berisi pertanyaan yang semakin mahal untuk dihindari.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.