Selama dua minggu, Karin dan Altar tetap bertukar pesan tentang kegiatan sehari-hari, tetapi menghindari pembicaraan masa depan. Setiap ucapan terasa hati-hati. Bahkan lelucon kehilangan irama.
Karin meminta sesi video pada hari Minggu. Ia menyiapkan catatan agar tidak berubah menjadi tuduhan. Altar juga datang dengan daftar sendiri.
'Aku gak mau kita putus cuma karena takut bicara,' kata Karin.
'Aku juga. Tapi aku gak mau kita bertahan dengan harapan salah satu akhirnya mengalah.'
Mereka menuliskan pilihan nyata. Altar dapat mengambil riset Kanada lalu kembali menyelesaikan kuliah di Prancis. Karin menjalani magang Belanda, setelah itu belum tahu apakah pulang atau menerima pekerjaan lain. Setidaknya satu setengah tahun berikutnya tidak menawarkan kota bersama.
'Aku sanggup jarak jauh kalau ada arah,' kata Karin. 'Sekarang aku gak tahu arah kita.'
'Aku bisa berjanji pulang setelah lulus, tapi itu mungkin bohong. Bidang risetku belum punya fasilitas yang sama di Indonesia.'
'Dan aku gak bisa janji pindah ke mana pun kamu bekerja.'
Tidak ada penjahat dalam percakapan. Justru itu yang membuat keputusan semakin menyakitkan.
Altar mengusulkan jeda tiga bulan tanpa status pasangan. Bukan untuk mencoba orang lain atau menguji siapa yang lebih rindu, melainkan memberi ruang agar keduanya menentukan rencana pribadi tanpa otomatis menyesuaikan pasangan.
Karin menangis. 'Kalau setelah tiga bulan kita sadar lebih bahagia sendiri?'
'Berarti kita harus jujur soal itu.'
'Aku benci jawabanmu selalu masuk akal.'
'Aku juga benci kali ini.'
Mereka menyusun aturan jeda. Tidak ada kewajiban komunikasi harian. Keadaan darurat tetap boleh disampaikan. Mereka tidak akan menggunakan teman untuk memantau. Jika ingin berkencan dengan orang lain, harus memberi tahu sebelum pertemuan evaluasi karena hal itu memengaruhi keputusan bersama.
'Ini terasa seperti putus,' kata Karin.
'Mungkin memang bentuk putus sementara. Aku gak mau menyamarkannya dengan kata manis.'
Karin melepas kalung kecil yang diberikan Altar saat kunjungan terakhir dan menaruhnya di kotak, bukan membuang. Altar menyimpan kartu-kartu Karin tanpa membuka yang baru selama jeda.
Hari-hari pertama sangat berat. Karin berkali-kali hendak mengirim foto makanan atau keluhan klien. Ia baru sadar betapa banyak pikirannya otomatis mencari Altar sebagai tujuan. Sebagai gantinya, ia menulis jurnal, berbicara dengan Hany, dan menemui konselor program.
Hany tidak menyuruh Karin mencari pasangan baru. Ia mengajak melakukan panggilan mingguan yang tidak membahas Altar selama tiga puluh menit pertama. Mereka membicarakan pekerjaan, musik, dan rencana Hany membuka toko daring. Karin mengingat pertemanannya memiliki kehidupan sendiri.
Dion mengirim meme seperti biasa, tetapi bertanya sebelum membagikan kabar jeda kepada siapa pun. Raka juga menjaga hubungan mereka tetap profesional. Tidak ada teman yang menjadi mata-mata untuk mengetahui kegiatan Altar.
Pada satu malam sepi, Karin hampir membeli tiket mendadak ke Prancis. Ia sudah memilih penerbangan ketika menyadari tindakan itu akan melanggar tujuan jeda. Ia menutup halaman, berjalan keluar, dan duduk di tepi kanal sampai dorongan tersebut lewat.
Konselor menanyakan apakah jeda digunakan untuk menghukum atau menghindari masalah. Karin menjelaskan mereka sudah menyebut masalahnya: tidak adanya rencana lokasi bersama.
'Apa yang ingin kamu ketahui tentang dirimu selama tiga bulan?' tanya konselor.
Karin ingin mengetahui apakah keinginannya tinggal dekat keluarga berasal dari pilihan atau rasa bersalah. Ia juga ingin menilai apakah karier internasional benar-benar membuatnya bahagia atau hanya terlihat bergengsi.
Altar membahas jeda dengan konselor kampus. Ia menyadari selalu memandang pekerjaan di luar Indonesia sebagai satu-satunya jalan karena takut pulang berarti kehilangan akses dan kemandirian. Ia belum pernah meneliti kemungkinan membangun fasilitas serupa bersama mitra Indonesia.
Ia tetap mendaftar program Kanada, tetapi juga menghubungi universitas dan pusat riset di Jakarta untuk peluang kolaborasi. Tindakan itu bukan janji kepada Karin; itu usaha memperluas pilihan dirinya sendiri.
Salah satu pusat riset Indonesia membalas dan tertarik menguji panel di sekolah negeri, tetapi belum memiliki laboratorium lengkap. Mereka menawarkan kerja sama jarak jauh dan kesempatan Altar pulang selama musim panas untuk pelatihan.
Altar menyadari pilihannya tidak sesederhana Prancis atau Indonesia. Ia dapat membangun jaringan di beberapa negara, meski kehidupan semacam itu tetap membutuhkan biaya serta perjalanan. Ia mencatat kemungkinan tersebut tanpa mengubahnya menjadi janji rekonsiliasi.
Dalam konseling, Altar juga mengakui rasa takut bahwa kembali kepada Karin akan membuat semua keputusan tampak dipengaruhi hubungan. Konselor mengingatkan keputusan pribadi tidak harus bebas dari orang lain; yang penting Altar memahami alasan dan bersedia menanggung akibatnya.
Karin menjalani magang dengan serius. Ia berhenti menghitung jarak Belanda–Prancis dan mulai mempelajari cara studio melibatkan pemerintah kota. Pada akhir bulan pertama, ia menyadari menyukai pekerjaannya, tetapi tidak ingin menetap permanen. Ia ingin membawa metode tersebut ke proyek publik Indonesia.
Adrian mengirim surat menanyakan kabar Altar. Karin menjawab mereka sedang jeda dan meminta tidak diberi nasihat cinta. Adrian menghormati.
Mama Hanna juga tidak menghubungi Karin untuk membujuk. Ia hanya mengirim ucapan ulang tahun dan foto pohon anggur. Jarak keluarga tidak berubah menjadi alat tekanan.
Bulan kedua, Altar diterima dalam riset Kanada. Ia senang sekaligus sedih karena orang pertama yang ingin diberi tahu adalah Karin. Sesuai aturan, ia tidak mengirim pesan. Ia berbagi kabar dengan kelompok, Mama Hanna, dan Jules.
Karin mengetahui dari unggahan resmi universitas, bukan teman. Dadanya sakit, tetapi ia tidak menganggap itu pengkhianatan. Jeda berarti Altar berhak memiliki kabar yang tidak berpusat padanya.
Menjelang bulan ketiga, mereka masing-masing menulis jawaban atas tiga pertanyaan: kehidupan apa yang diinginkan, kompromi apa yang mampu diberikan, dan batas apa yang tidak boleh dilanggar.
Karin menulis ingin kembali ke Indonesia setelah magang dan membangun studio desain publik, tetapi tetap terbuka pada proyek internasional. Ia mampu menjalani jarak beberapa tahun jika ada rencana pertemuan dan evaluasi. Ia tidak mau meninggalkan karier hanya untuk mengikuti negara kerja pasangan.
Altar menulis ingin menyelesaikan riset Kanada dan kuliah, lalu membagi pekerjaannya antara pusat Eropa serta uji coba Indonesia. Ia mampu merencanakan kepulangan beberapa bulan setiap tahun. Ia tidak mau menghentikan akses medis dan komunitas yang sudah dibangun tanpa pengganti jelas.
Jawaban mereka belum menjamin kota bersama, tetapi untuk pertama kalinya terdapat arah yang dapat diuji, bukan sekadar harapan salah satu kelak mengalah.
Pertemuan evaluasi dijadwalkan di kota yang dahulu mereka pilih sebagai titik tengah. Tidak ada jaminan mereka akan kembali sebagai pasangan.
Jeda itu tidak digunakan untuk membuat salah satu ketakutan kehilangan lalu menyerah. Jeda memberi kesempatan melihat apakah cinta mereka memiliki arah yang dapat dibangun, atau hanya kenangan indah yang dipaksa bertahan karena terlalu takut mengakhiri.