Karin tiba lebih dulu di kota tempat mereka pernah membahas magang dan Kanada. Tiga bulan lalu, kota itu terasa seperti ruang netral yang aman. Kini setiap sudut mengingatkannya pada percakapan terakhir sebelum jeda.
Ia memilih meja kafe dekat jendela dan menaruh tiga lembar jawaban di dalam map. Tangannya berkeringat meski udara dingin. Altar datang sepuluh menit kemudian membawa tas ransel dan ekspresi yang sama gugupnya.
Mereka tidak langsung berpelukan. Altar bertanya melalui suara pelan dan isyarat apakah boleh duduk. Karin mengangguk.
'Apa kabar?' tanya Altar.
'Baik. Kadang gak baik. Kamu?'
'Sama.'
Percakapan kecil berhenti. Karin hampir tertawa karena dua orang yang dahulu dapat berbicara berjam-jam kini bingung memulai. Akhirnya ia mengeluarkan map.
'Kita baca jawaban masing-masing dulu?'
'Boleh.'
Mereka bertukar lembar. Altar membaca keinginan Karin pulang setelah magang dan membangun studio desain publik. Karin membaca rencana Altar mengikuti riset Kanada, menyelesaikan kuliah, lalu membentuk kolaborasi pengujian di Indonesia.
Tidak ada satu kota bersama dalam waktu dekat, tetapi ada kemungkinan mereka berada di Indonesia beberapa bulan setiap tahun setelah dua tahun berikutnya. Mereka juga memiliki batas yang jelas: Karin tidak akan meninggalkan karier untuk mengikuti penempatan Altar tanpa tujuan sendiri; Altar tidak akan mengorbankan akses medis dan riset tanpa sistem pengganti.
'Aku masih sayang kamu,' kata Karin. 'Tapi aku gak mau itu jadi satu-satunya alasan kita kembali.'
'Aku juga masih sayang. Alasan lainku adalah sekarang kita punya arah yang bisa dievaluasi.'
Altar mengusulkan rencana dua tahun, bukan janji selamanya. Tahun pertama: ia ke Kanada, Karin menyelesaikan magang lalu pulang. Mereka melanjutkan hubungan jarak jauh dengan kunjungan yang disesuaikan dana. Tahun kedua: Altar melakukan uji coba musim panas di Indonesia selama tiga bulan. Setelah lulus, mereka menilai pilihan kerja dan kota.
'Kalau rencana berubah?' tanya Karin.
'Kita bicara sebelum membuat keputusan besar, bukan setelah semuanya ditandatangani.'
'Kalau setelah dua tahun tetap gak ada jalan tinggal dekat?'
'Kita berani menilai lagi, termasuk kemungkinan berpisah.'
Karin menahan air mata. Jawaban itu tidak romantis seperti janji akan melawan dunia, tetapi terasa lebih aman.
Mereka membahas masa jeda. Tidak ada yang berkencan dengan orang lain. Karin mengaku hampir membeli tiket mendadak. Altar menceritakan tawaran kolaborasi Jakarta dan penerimaan Kanada yang tidak dikirim kepadanya.
Karin mengaku beberapa kali memeriksa akun universitas Altar terlalu sering. Altar mengaku berharap Farid membocorkan kabar Karin meski sudah meminta temannya menghormati jeda.
'Kita ternyata gak setenang yang terlihat,' kata Karin.
'Jeda bukan lomba siapa paling gak butuh.'
Mereka sepakat tidak menggunakan kemampuan bertahan sendiri sebagai senjata. Mandiri tidak berarti dilarang rindu, sedangkan rindu tidak otomatis menjadi alasan menghapus batas.
'Aku sakit lihat pengumumannya dari akun kampus,' kata Karin.
'Aku juga sakit gak bisa cerita. Tapi kita memang sepakat tidak saling menjadikan pusat selama jeda.'
'Aku sekarang sadar aku punya orang lain untuk berbagi. Bukan pengganti kamu, tapi teman dan keluarga.'
'Aku juga.'
Sebelum keputusan itu, mereka berjalan satu jam secara terpisah untuk memastikan emosi pertemuan tidak mendorong jawaban tergesa. Karin menyadari hidupnya tetap berjalan tanpa Altar; ia ingin kembali bukan karena tak sanggup sendiri, melainkan karena ingin berbagi hidup yang sudah dimilikinya.
Altar membaca ulang rencana kolaborasi Indonesia dan menyadari proyek itu tetap ia inginkan bahkan jika Karin tidak ada. Kepulangan kelak bukan pengorbanan tersembunyi yang dapat dipakai menuntut balasan. Ketika mereka kembali ke meja, jawaban keduanya tidak berubah.
Mereka memutuskan kembali menjadi pasangan. Tidak ada adegan besar. Altar mengulurkan tangan di atas meja dan Karin menerimanya. Setelah tiga bulan, sentuhan itu membuat keduanya menangis.
'Aku boleh peluk?' tanya Karin.
Altar mengangguk. Mereka berdiri dan berpelukan lama, cukup erat tetapi tidak seperti mencoba menghapus jarak yang telah terjadi.
Hari berikutnya mereka berjalan mengelilingi kota. Karin menunjukkan hasil magang, sedangkan Altar mempresentasikan rencana riset Kanada. Mereka tidak menghabiskan waktu hanya membahas hubungan. Ada toko buku, pameran kecil, dan makan siang yang terlalu pedas bagi Altar.
Karin melihat alat bantu di telinga kiri Altar dan bertanya apakah kondisi stabil. Pertanyaan itu tidak menjadi pemeriksaan. Altar menjawab secukupnya lalu beralih bercerita tentang kelas bahasa isyarat Jules.
Malam hari mereka tinggal di penginapan berbeda. Sebelum berpisah, Altar memberikan kembali satu kartu lama yang belum pernah dibuka selama jeda. Labelnya berbunyi buka ketika kita memilih lagi.
Mereka memberi tahu keluarga setelah kembali ke kamar. Hany mengirim belasan stiker, sedangkan Dion menulis bahwa rapat direksi akhirnya selesai. Mama Hanna dan Sandra menyambut tanpa mengaku sudah menduga atau menanyakan jadwal pernikahan.
'Kalian kembali karena punya rencana, bukan karena kami membujuk,' kata Mama Hanna. 'Jaga supaya rencana itu tetap milik kalian.'
Keesokan pagi, Karin dan Altar menyimpan salinan rencana di kalender bersama. Mereka menetapkan evaluasi enam bulan, bukan untuk menilai cinta dengan angka, melainkan memeriksa apakah biaya, kunjungan, dan pekerjaan masih adil. Jika salah satu terus menanggung lebih banyak, rencana harus diubah sebelum rasa lelah berubah menjadi dendam yang disembunyikan. Keduanya menandai tanggal itu dan berjanji membawa data serta perasaan yang jujur.
Karin membuka di kamarnya. Tulisan itu dibuat bertahun-tahun lalu, sebelum perjalanan dan krisis: memilih lagi tidak berarti mengulang awal; kita membawa semua perubahan dan memulai dari tempat baru.
Karin menelepon Altar melalui video meski kamar mereka hanya berjarak dua gedung.
'Kartu ini terlalu bijak buat Karin masa SMA.'
'Kamu menulis banyak hal bagus di antara ancaman dan gambar aneh.'
'Jangan bocorkan bagian ancaman.'
Mereka tertawa. Hubungan kembali memiliki nama, tetapi bukan kembali ke versi lama. Jeda tidak mengajari mereka bahwa cinta pasti menang. Jeda menunjukkan cinta hanya dapat berjalan jika keduanya membangun jalan, menandai persimpangan, dan bersedia berhenti ketika arah tidak lagi jujur.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.