Dua tahun setelah meninggalkan Indonesia untuk pertama kali, Altar pulang membawa dua koper, satu kotak prototipe, dan kemampuan bahasa isyarat yang jauh lebih lancar. Mama Hanna menunggu di bandara bersama Karin, Kevin, dan Nadine.
Karin tidak berlari. Ia berjalan cepat, berhenti di depan Altar, lalu bertanya dengan isyarat apakah boleh memeluk. Altar menjawab iya dan menariknya mendekat.
'Empat bulan,' kata Karin setelah mereka berpisah.
'Empat bulan,' ulang Altar.
Kepulangan itu bukan akhir hubungan jarak jauh. Altar masih harus kembali ke Prancis untuk menyelesaikan tesis. Namun untuk pertama kalinya mereka memiliki waktu panjang di negara yang sama tanpa status liburan.
Altar tinggal bersama Mama Hanna. Rumah itu terasa lebih kecil daripada ingatannya. Pohon anggur tumbuh lebat, Poli sudah tua dan lebih suka tidur daripada mengejar tamu. Karin masih menjaga jarak dari kucing, meski tidak lagi melompat ke sofa.
'Dia bahkan gak kuat mencakar,' kata Altar.
'Trauma gak memeriksa umur kucing.'
Hari-hari pertama dipenuhi keluarga. Mama Hanna ingin memasak semua makanan kesukaan Altar. Dika datang membawa buku dan mengeluh perpustakaan kehilangan penghuni terbaik. Dion serta Hany mengadakan makan malam yang volumenya segera dikurangi setelah Altar memberi isyarat.
Kepulangan juga membutuhkan penyesuaian medis. Alat bantu Altar harus disetel untuk lingkungan tropis yang lembap dan ramai. Klinik mitra memeriksa perangkat, sementara Altar memastikan data kesehatannya tidak dikirim ke Prancis tanpa persetujuan baru.
Mama Hanna beberapa kali kembali melakukan semua hal untuk putranya, sampai menjawab pertanyaan kerabat. Altar meminta ibunya berhenti.
'Mama terbiasa menjagamu.'
'Menjaga bukan berarti menjawab atas namaku.'
Hanna tersinggung, lalu meminta maaf. Ia bertanya bantuan apa yang benar-benar diperlukan. Altar hanya meminta alarm visual dan tempat perangkat yang aman dari kelembapan.
Altar tidak meminta semua orang diam. Ia memakai alat bantu ketika nyaman, bahasa isyarat dengan Karin, dan aplikasi transkripsi saat percakapan kelompok. Teman-temannya belajar bergiliran bicara tanpa menjadikan aturan itu suasana resmi.
Proyek uji coba dilakukan di tiga sekolah negeri bersama pusat riset Jakarta. Ruang pertama memiliki dinding keras dan berada dekat jalan raya. Panel adaptif dipasang bersama layar informasi rancangan koperasi Karin.
Kerja bersama sebagai pasangan ternyata tidak otomatis mudah. Altar berfokus pada data gema, sedangkan Karin memikirkan cara guru memahami kontrol. Dalam rapat pertama, Altar mengubah posisi layar tanpa berkonsultasi karena hasil pengukuran lebih baik.
'Kamu baru saja menutup jalur pandang pengguna kursi roda,' kata Karin.
'Kalau di tempat semula, pantulan suaranya mengganggu sensor.'
'Berarti kita cari tempat ketiga, bukan menganggap datamu paling penting.'
Altar tersinggung. Mereka berdebat di depan tim sampai Mila meminta jeda. Setelah tenang, keduanya meminta maaf kepada anggota rapat karena menjadikan perbedaan teknis sebagai pertarungan pasangan.
Mereka mengundang pengguna kursi roda dan guru untuk menguji tiga posisi. Solusinya berupa layar miring yang dapat dilihat dari berbagai tinggi serta sensor dipindahkan ke langit-langit.
'Kalau kita menikah nanti, apa setiap meja makan harus diuji pengguna?' canda Raka.
Karin dan Altar serempak menatapnya. Raka buru-buru kembali bekerja.
Kata menikah tinggal di pikiran Karin sepanjang hari. Mereka sudah berpacaran bertahun-tahun, pernah jeda, dan kini memiliki rencana yang semakin menyatu. Namun tidak ada yang pernah membahas pernikahan secara serius.
Malamnya Karin bertanya langsung.
'Kamu pernah mikir menikah sama aku?'
Altar terdiam, lalu mematikan alat bantu karena lelah dan beralih ke isyarat. 'Pernah.'
'Terus?'
'Aku ingin, tapi belum sekarang. Kita baru mencoba tinggal di negara sama lagi. Aku juga belum punya pekerjaan tetap.'
'Aku gak minta dilamar malam ini.'
'Kamu bertanya dengan wajah seperti menunggu cincin keluar dari saku.'
Karin tertawa malu. Ia mengakui ingin menikah suatu hari, tetapi tidak mau pernikahan dipakai sebagai cara mengunci Altar agar pulang.
Mereka sepakat membahas setelah uji coba dan tesis selesai. Tidak ada tenggat lamaran, hanya keterbukaan bahwa tujuan itu ada.
Karin membawa pembicaraan itu kepada konselor, bukan seluruh keluarga. Ia ingin memastikan keinginan menikah bukan sisa ketakutan ditinggalkan. Konselor meminta Karin membayangkan pernikahan tanpa pesta, cincin, atau jaminan Altar menetap di satu negara.
Karin tetap menginginkan kemitraan hukum, rumah yang dinegosiasikan, dan tanggung jawab yang dipilih bersama. Ia menulis hal yang harus dibahas sebelum lamaran: keuangan, anak, orang tua, agama, tempat tinggal, serta keputusan medis. Altar membuat daftar sendiri.
Selama empat bulan, Altar melihat koperasi Karin bekerja. Ia menyaksikan Karin menerima kritik, memimpin rapat, dan pulang lelah tanpa kehilangan kegembiraan pada album idolanya. Kamar kerja Karin bahkan memiliki satu rak khusus koleksi BTS di samping laporan keuangan.
Karin juga melihat Altar bukan lagi cowok yang bersembunyi di pojok perpustakaan. Ia memimpin pelatihan guru melalui isyarat dan suara, meminta penerjemah ketika perlu, serta mengakui kalau tidak tahu.
Evaluasi sekolah menunjukkan tingkat gema menurun dan siswa lebih mudah memilih tempat belajar. Namun satu sekolah kesulitan merawat perangkat. Altar menghapus fitur rumit dan membuat mode manual. Produk canggih tidak berguna jika hanya teknisi luar negeri dapat memperbaikinya.
Tim melatih petugas sekolah dan siswa magang mengganti bagian sederhana. Panduan dibuat dalam teks, gambar, dan video bahasa isyarat. Jika pengguna masih harus menelepon Altar untuk setiap masalah, desain dianggap belum selesai.
Sekolah kedua sering kehilangan listrik. Tim menambahkan baterai serta panel mekanis yang tetap bekerja tanpa jaringan. Solusi itu tidak secanggih presentasi awal, tetapi lebih berguna. Hasil uji dipublikasikan bersama kegagalan agar tim lain tidak mengulang kesalahan. Sekolah menerima salinan data dan hak meminta perubahan sebelum laporan akhir diterbitkan.
Empat bulan terasa panjang dan singkat. Mereka bekerja, bertengkar, berdamai, bertemu keluarga, dan memiliki hari tanpa acara. Kepulangan Altar tidak mengembalikan masa lalu. Ia membuktikan Indonesia dapat menjadi bagian masa depannya tanpa menutup pintu dunia lain yang sudah dibangunnya secara nyata.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.