Keberhasilan uji coba menarik perhatian media. Sebuah stasiun televisi ingin membuat profil tentang Altar, pemuda dengan gangguan pendengaran yang pulang membangun sekolah. Judul sementara mereka menyebutnya menaklukkan keterbatasan demi cinta.
Altar menolak wawancara dengan judul tersebut. Produser menawarkan mengganti beberapa kata, tetapi tetap ingin menampilkan kisah hubungannya dengan Karin sebagai pusat.
'Proyek ini dibuat banyak orang,' kata Altar melalui penerjemah. 'Kondisiku bukan lawan yang kutaklukkan, dan kepulanganku bukan pengorbanan romantis.'
Karin juga menolak diwawancarai sebagai pacar setia. Koperasi mereka mengirim siaran pers yang mencantumkan sekolah, pengguna, peneliti, dan pendana. Beberapa media kehilangan minat karena ceritanya tidak lagi sederhana.
Namun satu media pendidikan bersedia meliput proses. Mereka meminta izin setiap peserta dan tidak merekam anak tanpa persetujuan. Hasilnya tidak viral, tetapi cukup membuat dua daerah menghubungi pusat riset.
Masalah baru muncul ketika perusahaan milik mantan rekan Adrian menawarkan dana perluasan. Mereka ingin nama keluarga Maheswati dicantumkan dan meminta Karin menjadi wajah kampanye tanggung jawab sosial.
Adrian mengetahui tawaran itu dan menghubungi Karin.
'Mereka mungkin mencoba memakai hubungan dengan Papa untuk memperbaiki reputasi,' katanya. 'Periksa sumber dananya.'
Karin berterima kasih, tetapi meminta Adrian tidak melakukan negosiasi di belakang. Koperasi menyewa pemeriksa independen. Ditemukan perusahaan tersebut pernah melanggar standar keselamatan di area tambang dan belum menyelesaikan kompensasi pekerja.
Raka ingin menolak langsung. Mila mengusulkan menerima hanya jika kompensasi diselesaikan dan tidak ada hak merek pada proyek. Karin membawa keputusan ke rapat anggota.
Perusahaan bersedia membayar sebagian tuntutan, tetapi ingin perjanjian rahasia. Koperasi menolak. Dana perluasan pun batal.
Keputusan itu memengaruhi arus kas. Koperasi menunda pembelian komputer dan para pendiri memotong keuntungan mereka selama tiga bulan. Karin tidak meminta Sandra menutup kekurangan secara diam-diam.
Seorang pekerja kontrak khawatir honornya tertunda. Karin menunjukkan laporan dan menjamin honor pekerja tetap prioritas. Mereka mengubah jadwal proyek sebelum mengorbankan orang dengan kuasa paling kecil.
Sekolah yang menunggu menerima penjelasan serta opsi memakai panel manual lebih dulu. Kepala sekolah kecewa, tetapi membantu menghubungkan koperasi dengan yayasan pendidikan lokal.
Penggalangan dana tidak langsung berhasil. Tim menolak mengekspos anak dalam video emosional dan memilih demonstrasi animasi serta laporan biaya. Pertumbuhannya lambat, tetapi donatur memahami tujuan yang didukung.
Akibatnya, proyek sekolah keempat harus ditunda. Beberapa anggota kecewa karena idealisme memiliki korban nyata. Karin tidak berpura-pura keputusan itu mudah.
'Kita harus menjelaskan kepada sekolah kenapa jadwal berubah dan mencari dana lain,' katanya. 'Menolak uang tidak otomatis membuat kita baik kalau beban penundaan ditanggung orang lain.'
Mereka membuka penggalangan dana publik dengan laporan biaya rinci. Altar menghubungi pemberi hibah Kanada dan universitas Prancis. Sonance, yang dulu ditolak, menawarkan membeli panel dengan lisensi berjenjang sesuai syarat baru. Perusahaan telah membentuk dewan akses setelah tekanan komunitas.
Kelompok memeriksa perubahan itu dan menerima kontrak terbatas satu tahun. Sistem dasar tetap dapat digunakan sekolah, data tidak boleh dijual, dan harga dipublikasikan. Kompromi kali ini tidak sempurna, tetapi tidak menghapus tujuan utama.
Kontrak mencantumkan audit enam bulan dan hak sekolah berhenti tanpa penalti. Sonance meminta logo besar pada setiap panel; koperasi hanya menyetujui logo kecil di buku panduan. Perdebatan ukuran logo memakan dua rapat dan membuat Karin sadar nilai sering dipertahankan melalui detail membosankan.
Elise bergabung lewat video sebagai pengembang material. Ia mengakui dewan akses Sonance terbentuk sebagian karena penolakan kelompok dahulu.
'Ternyata tidak menandatangani juga bisa mengubah perusahaan,' katanya.
'Dan akhirnya menandatangani bukan berarti kritik selesai,' jawab Altar.
Di tengah pekerjaan, Adrian meminta Karin menghadiri ulang tahunnya. Acara hanya makan siang bersama Kevin, Nadine, Maya, dan Sandra. Kehadiran mantan pasangan di meja yang sama terasa canggung. Sandra setuju karena Karin serta Nadine, bukan karena hubungan lama pulih.
Adrian tidak mengadakan pesta. Ia memasak sendiri dan hasilnya terlalu asin. Nadine memberikan gambar, Kevin membawa buku, sementara Karin membawa tanaman kecil.
'Kenapa bukan hadiah mahal?' tanya Adrian sambil tersenyum.
'Tanaman perlu dirawat. Cocok buat latihan konsisten.'
Adrian menerima sindiran itu. Setelah makan, ia meminta maaf secara khusus kepada Sandra tanpa menuntut jawaban. Sandra mengatakan dirinya telah membangun hidup lain dan tidak ingin masa lalu terus dibahas setiap pertemuan keluarga.
'Tanggung jawabmu sekarang adalah tidak mengulang pola kepada anak-anak,' katanya.
Adrian mengangguk.
Hubungan mereka tidak menjadi keluarga utuh seperti bayangan masa kecil Karin. Mereka menjadi kumpulan orang dengan batas, jadwal, dan sejarah yang tidak disangkal.
Nadine membuat kalender warna: hari bersama Maya, jadwal bertemu Adrian, waktu menginap dengan Karin, serta panggilan Kevin. Jika jadwal berubah, orang dewasa harus menjelaskan.
Adrian pernah membatalkan kunjungan karena pekerjaan. Nadine marah dan menolak panggilan pengganti. Adrian tidak mengirim hadiah. Ia meminta maaf, menjadwalkan ulang melalui Maya, lalu datang tepat waktu. Karin melihat konsistensi itu tanpa mengubahnya menjadi bukti bahwa semua luka sembuh.
Maya tetap menentukan pengasuhan melalui mediator dan tidak menjadikan Karin pembawa pesan. Karin akhirnya dapat menjadi kakak bagi Nadine tanpa sekaligus bekerja sebagai penyelesai konflik orang tua.
Malam hari, Karin menunjukkan tanaman serupa kepada Altar. Ia membeli dua, satu untuk Adrian dan satu untuk dirinya.
'Kalau tanamanku mati duluan, jangan bilang Papa,' katanya.
'Kamu yang butuh latihan konsisten ternyata.'
Karin menyiram terlalu banyak sampai air meluap. Altar mengambil gelas dari tangannya sambil tertawa.
Nama keluarga, kondisi tubuh, dan kisah cinta mereka berkali-kali ditawarkan sebagai barang jualan. Karin dan Altar belajar publisitas tidak selalu salah, dana tidak selalu kotor, dan kompromi tidak selalu pengkhianatan. Namun mereka harus terus bertanya siapa yang memiliki cerita, siapa yang memperoleh manfaat, serta siapa yang membayar harga tersembunyi.
Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu membuat keputusan mudah. Setidaknya, pertanyaan tersebut mencegah niat baik menjadi alasan untuk berhenti memeriksa kekuasaan dengan jujur.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.