Altar kembali ke Prancis setelah uji coba untuk menyelesaikan tesis. Data dari Indonesia, Kanada, dan Prancis menjadi dasar penelitian tentang ruang belajar adaptif lintas budaya. Ia tidak menyebut sistemnya universal; judul tesis menekankan desain bersama pengguna lokal.
Karin mengikuti sidang tesis melalui siaran video dengan teks langsung. Mama Hanna duduk di sampingnya, sementara Étienne, Claire, dan Jules hadir di ruang kampus. Untuk pertama kalinya dua sisi keluarga menyaksikan momen yang sama tanpa berpura-pura hubungan mereka sederhana.
Penguji bertanya apakah pengalaman Altar membuat penelitiannya bias. Altar menjawab semua peneliti membawa posisi, dan tugas ilmiah bukan berpura-pura tanpa bias, melainkan menyatakannya serta membangun pemeriksaan.
'Pengalamanku memberiku pertanyaan,' katanya. 'Jawabannya tetap harus diuji bersama orang lain.'
Setelah dua jam, Altar dinyatakan lulus dengan revisi kecil. Ruangan bertepuk menggunakan tangan terangkat. Karin menangis di depan layar dan memeluk Mama Hanna.
Pada acara wisuda sebulan kemudian, Karin terbang ke Prancis menggunakan uang koperasi yang memang dialokasikan untuk perjalanan profesional karena ia juga menghadiri konferensi. Ia membayar hari pribadi dengan dana sendiri.
Altar memakai toga dan alat bantu telinga kiri. Ia tidak menyembunyikan perangkat atau menjadikannya simbol. Ketika namanya dipanggil, transkripsi menampilkan ejaan yang salah. Altar membetulkan setelah acara dan kampus memperbarui rekaman.
Étienne meminta foto bersama. Altar mengizinkan satu foto berisi Mama Hanna, Étienne, Claire, Jules, dan Karin. Mama Hanna berdiri dengan nyaman tetapi tidak dekat mantan suaminya. Tidak ada orang yang diminta tersenyum lebih lebar daripada perasaan mereka.
Sesudah wisuda, Altar mendapat tiga tawaran: posisi tetap di Sonance, penelitian lanjutan di Kanada, dan kontrak dua tahun memimpin laboratorium kolaborasi antara universitas Prancis serta pusat riset Jakarta.
Sonance menawarkan gaji terbesar, tetapi meminta hak atas pengembangan selama masa kerja. Kanada memberi kebebasan akademik, namun proyeknya berfokus pada bangunan komersial. Kontrak kolaborasi lebih rumit karena Altar harus melapor kepada dua lembaga.
Ia meminta masa pertimbangan tiga minggu dan berbicara dengan mantan pekerja setiap program, bukan hanya perekrut. Dari mereka ia mengetahui beban perjalanan, dukungan akses sebenarnya, dan ruang peneliti muda mengambil keputusan.
Pusat Jakarta awalnya tidak menyediakan penerjemah tetap. Altar menjadikannya syarat. Setelah negosiasi, kontrak mencakup penerjemah, transkripsi, asuransi lintas negara, serta wewenang membentuk dewan pengguna. Ia juga meminta hasil dasar tetap terbuka bagi sekolah.
Tawaran ketiga gajinya paling kecil dan membutuhkan perjalanan rutin. Namun proyeknya memungkinkan sistem diuji serta diproduksi lokal. Altar membuat matriks keputusan: tujuan riset, akses kesehatan, stabilitas, kedekatan keluarga, dan ruang berkembang.
Ia membahas dengan Karin, tetapi tidak meminta pacarnya memilih. Karin mengungkap kontrak dua tahun paling sesuai dengan rencana mereka, sekaligus mengakui perjalanan rutin mungkin tetap melelahkan.
'Kalau kamu pilih Kanada, aku gak langsung putus,' katanya. 'Tapi kita harus menilai ulang arah.'
'Aku pilih kolaborasi Jakarta-Prancis,' jawab Altar beberapa hari kemudian. 'Bukan cuma karena kamu. Ini model kerja yang ingin kubangun.'
Mereka memeriksa rencana praktis. Altar akan tinggal delapan bulan di Indonesia dan empat bulan di Prancis pada tahun pertama. Tahun kedua dapat berubah berdasarkan evaluasi. Kampus menyediakan asuransi internasional dan akses penerjemah.
Karin serta Altar membuat anggaran terpisah untuk perjalanan pribadi. Tiket kerja tidak boleh diam-diam dipakai sebagai biaya kunjungan pasangan. Jika Karin ikut konferensi, koperasi hanya membayar hari profesional.
Mereka membahas kelelahan. Altar boleh menginap sendiri setelah penerbangan tanpa dianggap menolak Karin. Karin boleh tidak menjemput setiap kedatangan. Kedekatan tidak diukur melalui upacara bandara.
Kevin hanya bertanya siapa kontak darurat. Sandra menawarkan membantu mencari apartemen, tetapi mereka menunda sampai ritme kerja terbukti.
Karin tidak langsung mengajak tinggal bersama. Altar akan kembali ke rumah Mama Hanna selama enam bulan pertama. Mereka ingin menilai ritme kerja sebelum menyewa tempat.
'Kita ini lambat banget,' keluh Karin.
'Dulu kamu bilang aku harus jadi temanmu dalam satu hari. Sekarang kita belajar kecepatan bukan bukti keseriusan.'
Karin mengakui ia tetap berharap lamaran. Namun Altar meminta waktu merancang percakapan, bukan kejutan publik.
Dalam perjalanan pulang dari wisuda, mereka berhenti di kebun anggur tempat kencan dulu. Altar membawa kotak kecil. Karin langsung membulatkan mata.
'Jangan pingsan. Ini belum cincin.'
Kotak itu berisi kunci rumah Mama Hanna yang dibuatkan untuk Karin agar tidak selalu menunggu dibukakan ketika berkunjung.
'Ini simbol kepercayaan, bukan undangan pindah,' jelas Altar.
'Kamu benar-benar ahli merusak suasana romantis.'
'Aku mencegah salah tafsir.'
Karin menerima kunci dan menciumnya cepat. 'Terima kasih. Aku akan tetap mengetuk kalau datang malam.'
Beberapa minggu kemudian, Altar pulang ke Indonesia sebagai peneliti, bukan anak yang gagal bertahan di luar negeri. Kepulangannya juga bukan akhir petualangan. Ia membawa kerja lintas negara, keluarga yang perlahan dibangun ulang, dan hubungan yang telah melewati jarak serta jeda.
Pada hari pertama di laboratorium Jakarta, Altar memasang agenda tertulis dan layar transkripsi. Seorang peneliti senior mengeluh rapat terlalu formal. Setelah satu minggu, orang yang sama mengakui keputusan lebih jelas dan perdebatan tidak saling menimpa.
Altar tidak menjadi simbol kepulangan anak bangsa. Ia menjadi pekerja baru yang harus mempelajari birokrasi, membangun kepercayaan, dan mengakui pengetahuannya tentang sekolah Indonesia masih terbatas.
Ia meminta tim lokal memimpin pemilihan lokasi, sementara dirinya menangani metodologi. Pembagian itu mencegah gelar luar negeri berubah menjadi kuasa otomatis. Setiap tiga bulan, dewan pengguna menilai apakah laboratorium masih melayani kebutuhan sekolah atau mulai mengejar presentasi semata.
Di bandara, Karin memegang papan kecil seperti saat kedatangannya di Prancis. Tulisan di papan berbunyi selamat datang, bukan selamat pulang selamanya.
Altar membaca, tersenyum, lalu memeluknya.
Jalan pulang mereka bukan garis lurus menuju satu rumah. Jalan itu adalah jaringan kota, pekerjaan, bahasa, dan orang-orang yang akhirnya belajar bahwa pulang dapat berarti memiliki tempat untuk kembali tanpa harus berhenti bergerak dan bertumbuh bersama.
Pilihan itu mereka bawa dengan sadar ketika melangkah menuju hari berikutnya.