Enam bulan pertama Altar bekerja di Jakarta berlalu tanpa bencana besar. Ia tinggal bersama Mama Hanna dan bepergian ke laboratorium menggunakan kereta. Karin tinggal di rumah Sandra, tetapi lebih sering pulang malam karena koperasi berkembang.
Mereka bertemu dua atau tiga kali seminggu. Kedekatan geografis ternyata tidak otomatis memberi lebih banyak waktu. Jadwal rapat, perjalanan lapangan, dan kebutuhan Altar beristirahat setelah hari bising tetap harus diperhitungkan.
'Kita tinggal satu kota tapi ketemunya seperti masih beda negara,' keluh Karin.
'Setidaknya gak perlu paspor.'
'Romantis sekali.'
Pada evaluasi enam bulan, mereka membuka catatan rencana. Biaya perjalanan turun, komunikasi membaik, tetapi waktu berkualitas justru sering tersisa setelah keduanya kelelahan. Karin mengusulkan tinggal bersama selama masa percobaan enam bulan sebelum membahas pernikahan.
Altar tidak langsung setuju. 'Kita harus bicara dengan keluarga dan mencari tempat yang cocok. Bukan pindah ke apartemenmu besok.'
'Aku bahkan belum punya apartemen.'
'Itu alasan lain untuk merencanakan.'
Mereka menyewa konselor pasangan untuk membahas hal yang sering dianggap tidak romantis: pembagian uang, pekerjaan rumah, tamu, privasi, agama, kesehatan, dan kemungkinan berpisah. Konselor meminta setiap orang menulis harapan rumah.
Mereka juga membuat rencana darurat. Karin mempelajari letak obat dan kontak dokter, tetapi tidak diberi kewenangan mengubah perawatan. Altar mengetahui alergi Karin serta nomor asuransinya. Keduanya menulis siapa yang boleh dihubungi jika tidak sadar.
Pemilik apartemen sempat menolak pemasangan alarm visual karena takut dinding rusak. Altar menunjukkan rancangan nirkabel dan menawarkan deposit modifikasi tertulis. Setelah negosiasi, alarm dipasang tanpa membebankan biaya tambahan sebagai fasilitas akses.
Karin ingin membayar deposit penuh agar cepat selesai. Altar menolak jalan pintas itu karena penyewa berikutnya mungkin membutuhkan fasilitas sama. Mereka meminta klausul bahwa perangkat tetap tersedia jika penghuni mendatang menginginkan.
Karin ingin ruang kerja terang, dapur cukup besar, dan satu kamar untuk koleksi. Altar ingin jendela kedap, alarm visual, serta sudut tenang yang tidak dipakai menyimpan barang. Keduanya membutuhkan akses transportasi umum.
Mereka melihat tujuh apartemen. Tempat pertama terlalu bising, kedua tidak dapat dipasang alarm visual, dan ketiga indah tetapi sewanya akan menghabiskan penghasilan Karin. Tempat keenam sederhana, dekat stasiun, memiliki dua kamar kerja kecil, serta pemilik yang mengizinkan modifikasi.
Karin mampu membayar bagian lebih besar, tetapi mereka memilih membagi sewa berdasarkan persentase pendapatan, bukan setengah sama rata. Biaya pribadi tetap terpisah. Mereka membuat rekening bersama hanya untuk rumah dan memasukkan jumlah bulanan yang disepakati.
'Kita kayak bikin perusahaan baru,' kata Karin.
'Bedanya tidak ada pemegang saham lain.'
'Poli boleh punya satu persen.'
'Poli tinggal sama Mama.'
Pembicaraan dengan keluarga lebih sulit. Sandra khawatir tinggal bersama sebelum menikah menjadi bahan gosip. Mama Hanna lebih memikirkan apakah Altar sanggup mengurus perangkat dan jadwal medis tanpa dirinya.
'Aku sudah tinggal sendiri di tiga negara,' kata Altar.
'Mama tahu. Tapi ketika kamu di sini, rasanya Mama kembali ingin menjaga.'
Altar memeluk ibunya. 'Mama tetap boleh membantu kalau kuminta.'
Kevin meminta bertemu empat mata dengan Karin. Ia tidak melarang, tetapi bertanya apakah adiknya memiliki dana darurat dan rencana jika hubungan berakhir.
'Ada tabungan enam bulan. Namaku juga ada di kontrak sewa, dan aku gak menjual saham koperasi buat pindah.'
'Bagus.'
'Kakak gak mau mengancam Altar dulu?'
'Kalian sudah dewasa. Kalau dia menyakitimu, kamu yang harus menentukan tindakan. Aku ada kalau diminta.'
Perubahan Kevin membuat Karin terharu. Kakaknya yang dahulu mengambil semua keputusan kini memilih berdiri dekat tanpa memegang kemudi.
Mereka pindah pada akhir pekan. Hany dan Dion membantu mengangkut kotak, tetapi Dion salah menaruh label koleksi Karin di kamar tenang Altar. Karin hampir memasukkan rak album ke sana sebelum Altar menunjukkan denah.
'Kamar ini bebas koleksi, pekerjaan, dan tamu tanpa izin,' kata Altar.
'Kalau aku butuh kamu?'
'Ketuk. Aku boleh menjawab belum.'
Karin mengangguk. Kamar kerjanya juga memiliki aturan: Altar tidak boleh merapikan meja tanpa izin karena kekacauan tersebut memiliki sistem yang hanya dipahami Karin.
Bulan pertama memperlihatkan perbedaan yang tidak muncul saat kencan. Altar suka mencuci piring segera; Karin menumpuk sampai malam. Karin membutuhkan suara televisi saat bekerja; Altar terganggu gema. Mereka membeli headphone untuk Karin dan membuat jadwal dapur.
Pertengkaran terbesar terjadi ketika Karin mengundang Hany serta Dion tanpa memberi tahu. Altar pulang setelah rapat panjang dan menemukan ruang tengah ramai. Ia masuk kamar tenang tanpa menyapa. Karin tersinggung, lalu menyadari kesalahannya.
Di sesi konseling berikutnya, mereka membedakan privasi dan rahasia. Menutup pintu kamar untuk pulih adalah privasi. Menyembunyikan masalah keuangan atau tamu berulang menjadi rahasia yang memengaruhi rumah bersama. Definisi itu membantu mereka berhenti memakai kata keterbukaan sebagai alasan menuntut akses ke semua hal.
Mereka juga memiliki malam masing-masing. Karin pergi menonton konser bersama Hany dengan pelindung telinga, sementara Altar mengikuti klub bahasa isyarat. Tidak ada kewajiban membawa pasangan ke setiap kegiatan.
'Aku harusnya kasih kabar,' katanya setelah tamu pulang.
'Aku juga bisa mengirim pesan bahwa aku butuh ruang, bukan menghilang.'
Mereka menetapkan tamu harus disepakati sehari sebelumnya kecuali darurat. Hany dan Dion tidak tersinggung ketika aturan dijelaskan.
Pekerjaan rumah dibagi bukan berdasarkan jenis kelamin, tetapi waktu dan kemampuan. Altar memasak lebih sering; Karin mengurus belanja serta administrasi. Mereka bergantian membersihkan, dan memakai jasa bantuan dua kali sebulan yang dibayar dari rekening bersama.
Setelah tiga bulan, rumah itu tidak lagi terlihat seperti apartemen contoh. Ada catatan riset di meja, sketsa Karin di dinding, tanaman yang hampir mati, serta satu foto mereka di kebun raya. Koleksi BTS tetap memenuhi satu kamar tanpa merambah sudut tenang.
Tinggal bersama tidak membuktikan mereka pasti menikah. Rumah percobaan justru memberi data tentang hal yang bisa dinegosiasikan dan hal yang membutuhkan batas. Setiap bulan mereka mengadakan rapat rumah selama tiga puluh menit, lalu menutupnya dengan makan bersama tanpa agenda.
Karin dulu mengira rumah adalah tempat orang yang saling sayang otomatis memahami satu sama lain. Kini ia tahu rumah dibangun dari pertanyaan kecil yang terus diulang: kamu butuh apa, aku sanggup apa, dan aturan mana yang harus kita ubah agar keduanya tetap memiliki ruang.