Pada bulan kelima tinggal bersama, Altar mengajak Karin membandingkan daftar pernikahan yang dibuat masing-masing. Mereka duduk di ruang tengah dengan laptop, dokumen, dan camilan. Tidak ada lilin atau musik.
Daftar mereka sepakat pada beberapa hal: tetap bekerja setelah menikah, keuangan pribadi tidak dilebur seluruhnya, keputusan medis dimiliki tubuh masing-masing, serta tidak ada orang tua yang mendapat kunci rumah tanpa izin.
Perbedaan terbesar adalah anak. Karin membayangkan memiliki anak suatu hari, sedangkan Altar belum yakin. Ia takut kondisi pendengarannya diwariskan dan khawatir pekerjaan lintas negara membuat pengasuhan tidak adil.
'Aku gak butuh jawaban malam ini,' kata Karin. 'Tapi aku gak bisa menikah sambil menganggap kamu pasti berubah pikiran.'
'Aku juga gak mau bilang iya hanya supaya kita lanjut.'
Mereka menemui konselor genetik untuk memahami risiko, tetapi sepakat informasi medis tidak akan menentukan nilai kehidupan calon anak. Kondisi Altar bukan tragedi yang harus dihindari dengan segala cara. Pertanyaan sebenarnya adalah apakah keduanya ingin dan mampu menjadi orang tua.
Mereka juga berbicara dengan pasangan yang memilih tanpa anak serta keluarga yang mengasuh anak Tuli. Karin menyadari keinginannya sebagian berasal dari gambaran keluarga lengkap yang tidak dimiliki saat kecil.
'Aku mungkin ingin anak untuk memperbaiki masa kecilku,' akunya kepada konselor. 'Itu beban gak adil buat anak.'
Altar mengakui ketakutannya berasal dari ucapan ayah yang menganggap anak dengan kebutuhan medis sebagai beban. Ia takut suatu hari mengulang kalimat yang sama saat lelah.
Setelah beberapa bulan, jawaban mereka menjadi belum dalam lima tahun pertama, bukan tidak selamanya. Mereka akan mengevaluasi tanpa tekanan keluarga. Karin bersedia menikah dengan kemungkinan akhirnya tidak memiliki anak, selama ketidakpastian dibicarakan jujur.
Keuangan menjadi pembahasan berikutnya. Ratna membantu menyusun perjanjian pranikah yang melindungi saham koperasi Karin, kekayaan keluarga, serta hak kekayaan intelektual Altar. Dokumen juga mengatur utang tidak otomatis menjadi tanggung jawab pasangan tanpa persetujuan.
Adrian tidak dilibatkan dalam penyusunan. Sandra hanya memberi daftar pengacara, lalu membiarkan mereka memilih. Mama Hanna memastikan warisan rumahnya dicatat jelas agar tidak menjadi konflik kelak.
Ketika keluarga mendengar kabar pembicaraan pernikahan, beberapa kerabat menganggap perjanjian pranikah tanda tidak percaya. Karin menjawab kepercayaan bukan alasan mengabaikan akibat hukum. Ia menolak membuka isi dokumen kepada orang yang tidak berkepentingan.
Adrian justru menyetujui tanpa diminta dan mengakui pernikahannya dulu rusak karena uang serta kuasa tidak pernah dibicarakan jujur. Karin menerima pendapat itu, tetapi tetap tidak memberinya posisi dalam negosiasi.
Kevin bertanya apakah Ratna yang mewakili kedua pihak. Mereka menjelaskan Altar memiliki pengacara berbeda agar kepentingan masing-masing diperiksa. Kevin puas dan berhenti bertanya.
'Perjanjian ini bukan rencana bercerai,' kata Ratna. 'Ini cara memastikan kalian tahu apa yang disepakati saat hubungan masih baik.'
Karin membaca setiap pasal. Ia meminta bahasa yang lebih sederhana pada bagian tertentu. Altar menggunakan penerjemah hukum agar tidak kehilangan detail ketika rapat panjang.
Mereka membahas agama dan bentuk upacara. Keduanya ingin pernikahan sah yang sederhana, dengan penerjemah bahasa isyarat, ruang tenang, dan tanpa musik terlalu keras. Karin tetap ingin satu lagu BTS diputar pada volume aman.
'Satu lagu,' kata Altar.
'Tiga.'
'Dua dan gak ada pengeras suara dekat meja.'
'Sepakat.'
Baru setelah semua pembicaraan itu, Altar mulai merencanakan lamaran. Karin tahu lamaran akan datang; yang tidak ia ketahui hanya waktu dan bentuknya. Mereka sepakat tidak ada kerumunan, kamera tersembunyi, atau tekanan menjawab langsung.
Altar meminta bantuan Dika mendapatkan izin menggunakan perpustakaan sekolah pada hari libur. Tempat itu sudah direnovasi dengan pencahayaan dan akses lebih baik, tetapi sudut dekat jendela masih ada.
Suatu Sabtu, Karin diajak ke sekolah dengan alasan melihat uji coba penanda baru. Ketika masuk perpustakaan, ia menemukan tujuh meja kecil. Setiap meja menyimpan benda dari perjalanan mereka: kaca mata pengganti, kertas jendela miniatur, kartu rumus, tiket kebun raya, alat pelindung ungu, foto kelulusan, dan kunci rumah.
'Kamu ternyata bisa romantis,' kata Karin dengan mata berkaca-kaca.
'Aku belajar dari peta tujuh titik.'
Di meja terakhir tidak ada cincin, hanya surat berisi pertanyaan: setelah semua yang sudah kita bicarakan, apakah kamu masih memilih menikah denganku?
Altar berdiri di depannya dan mengulang pertanyaan melalui suara serta bahasa isyarat. Ia tidak berlutut karena Karin pernah mengatakan posisi itu membuat lamaran terasa seperti pertunjukan.
Karin membaca surat sampai selesai. Meski sudah tahu arah jawabannya, ia memberi dirinya waktu. Altar menunggu tanpa menyela.
'Iya,' jawab Karin akhirnya, juga dengan suara dan isyarat. 'Aku memilih menikah denganmu.'
Altar mengeluarkan cincin sederhana yang ukurannya telah mereka ukur saat menyusun anggaran. Karin tertawa karena bahkan cincin tidak dibiarkan menjadi kejutan berisiko salah ukuran.
Mereka berpelukan di tempat pertama Karin memaksa Altar menjadi temannya. Dika muncul dari meja petugas, menangis sambil berpura-pura membersihkan debu.
'Aku gak nguping,' katanya.
'Kak Dika dari dulu selalu nguping,' balas Karin.
Setelah lamaran, mereka menelepon keluarga. Tidak ada yang benar-benar terkejut. Hany menjerit sampai ponsel dijauhkan dari Altar. Kevin mengucapkan selamat lalu bertanya apakah perjanjian sudah selesai. Adrian meminta izin hadir di pernikahan dan menerima ketika Karin mengatakan keputusan tamu belum final.
Karin dan Altar menunda unggahan media sosial sampai semua keluarga inti menerima kabar langsung. Foto cincin akhirnya dipasang tanpa lokasi perpustakaan agar sekolah tidak didatangi orang penasaran. Komentar tentang kapan punya anak tidak dijawab.
Ruang Baca Kota mengadakan makan siang kecil, sedangkan laboratorium memberi kartu bertuliskan agenda rapat pernikahan. Elise mengirim ucapan dari Prancis dan mengingatkan Altar menyisakan cuti untuk bulan madu.
Cincin tidak mengubah pekerjaan rumah atau jadwal laboratorium. Malam itu mereka pulang, memesan makan, dan membersihkan dapur bersama.
Lamaran bukan janji bahwa masalah sudah selesai. Ia adalah kesimpulan sementara dari puluhan percakapan sulit. Sebelum cincin dipasang, Karin dan Altar sudah memilih bentuk rumah, batas keluarga, keuangan, tubuh, serta ketidakpastian tentang anak.
Cincin hanya memberi nama pada keputusan yang telah lama mereka bangun.