Masalah pertama persiapan pernikahan bukan gedung atau gaun, melainkan daftar tamu. Karin ingin acara kecil berisi keluarga dan teman dekat. Sandra memiliki daftar rekan bisnis, sementara beberapa kerabat Adrian menganggap ketidakhadiran mereka sebagai penghinaan.
'Kalau semua dimasukkan, tamunya lebih dari lima ratus,' kata Karin dalam rapat keluarga.
'Kita mampu membayar,' jawab salah satu bibi.
'Masalahnya bukan mampu. Altar gak nyaman dengan keramaian sebesar itu, dan aku gak mau menikah sambil menyalami orang yang gak kukenal.'
Sandra awalnya sulit melepaskan bayangan pesta besar. Sebagai pebisnis, ia terbiasa melihat pernikahan keluarga sebagai acara sosial. Namun ketika Karin menunjukkan kebutuhan ruang tenang, penerjemah, dan batas suara, Sandra mengurangi daftarnya sendiri.
'Mama masih ingin beberapa teman lama hadir,' katanya.
'Pilih lima yang benar-benar Mama anggap dekat.'
Adrian meminta hadir bersama Nadine, tetapi tidak meminta membawa rekan. Karin menyetujui dengan syarat ia tidak memberi sambutan dan tidak membiayai pesta secara diam-diam.
'Papa boleh memberi hadiah sesuai daftar, sama seperti tamu lain,' ujar Karin.
'Papa mengerti.'
Keputusan mengundang Adrian membuat Sandra tidak nyaman. Ia tetap bersedia hadir karena acara itu milik Karin. Mereka mengatur tempat duduk berjauhan dan tidak memaksa foto berdua.
Masalah berikutnya adalah Étienne. Altar ingin Jules hadir, berarti ayahnya dan Claire perlu mendampingi. Mama Hanna berkata sanggup berada di tempat sama, tetapi tidak mau berbicara lebih dari perlu.
'Aku gak akan minta Mama memaafkan atau foto dekat dia,' kata Altar.
'Mama datang untukmu. Itu cukup.'
Undangan akhir berjumlah delapan puluh orang. Acara berlangsung di taman dan aula kecil yang memiliki ruang tenang. Tidak ada kembang api. Musik dibatasi, informasi acara ditampilkan dalam teks, serta dua penerjemah bahasa isyarat bergantian.
Audit akses menemukan jalur kursi roda terhalang pot, layar teks tidak terlihat dari belakang, dan lampu darurat hanya mengandalkan bunyi. Pengelola memindahkan pot, menambah layar, serta memasang sinyal visual.
Koordinator bertanya apakah semua perubahan perlu untuk beberapa orang. Karin menjawab akses tidak dihitung dari jumlah tamu yang mengeluh. Layar jadwal membantu tamu lanjut usia dan asing, sedangkan ruang tenang dapat dipakai siapa pun.
Penerjemah meminta naskah janji lebih awal agar nama tidak salah. Altar memberikan teks, tetapi menegaskan interpretasi langsung harus mengikuti ucapan sebenarnya jika ia mengubah kalimat.
Karin memilih gaun sederhana dengan kantong tersembunyi. Hany kecewa karena tidak ada ekor gaun panjang, tetapi berubah pikiran setelah tahu kantong dapat menyimpan ponsel dan camilan.
Altar memakai setelan yang memungkinkan alat bantu serta mikrofon akses terpasang nyaman. Ia mencoba semua perangkat seminggu sebelumnya. Pasangan itu juga menyiapkan versi janji tertulis jika pada hari acara Altar memilih tidak menggunakan suara.
Mereka menyewa koordinator, tetapi keputusan akhir tidak diserahkan sepenuhnya. Koordinator sempat menawarkan adegan kejutan dengan musik keras saat pasangan masuk. Karin menolak.
'Kejutan yang bisa melukai pengantin bukan kejutan bagus.'
Menu makanan diuji karena Mama Hanna ingin masakan Indonesia, sedangkan Jules membutuhkan pilihan yang tidak pedas. Karin bersikeras ada satu hidangan Korea sebagai penghormatan kepada masa fangirl yang mempertemukan banyak bagian dirinya. Altar menyetujui selama tidak ada dekorasi wajah idol di meja utama.
'Aku sudah cukup dewasa untuk gak memasang foto Taehyung di pelaminan.'
'Aku hanya memastikan.'
Ketegangan paling besar terjadi dua minggu sebelum acara. Sebuah akun gosip mengetahui rencana pernikahan dan mengunggah lokasi. Karin menduga informasi bocor dari kerabat, tetapi tidak menuduh tanpa bukti.
Ratna mengirim permintaan penghapusan karena unggahan memuat detail keamanan. Platform menghapus lokasi, tetapi tangkapan layar sudah beredar. Pasangan tidak membayar akun tersebut untuk diam.
Tamu diberi pilihan hadir tanpa difoto. Gelang warna menandai izin dokumentasi dan fotografer mendapat daftar yang tidak boleh masuk unggahan. Anak-anak hanya difoto untuk album pribadi sesuai persetujuan orang tua.
Karin mengeluh aturan membuat pernikahan terasa seperti proyek. Altar mengingatkan mereka boleh membatalkan resepsi dan hanya melakukan upacara hukum. Menyadari pilihan masih ada membuat Karin tidak merasa terjebak.
Mereka mengganti waktu acara, memperketat akses undangan, dan meminta tamu tidak membagikan lokasi langsung. Lokasi baru adalah aula pusat komunitas tempat salah satu proyek akses diuji, bukan hotel mewah.
Beberapa kerabat mengeluh tempat itu tidak pantas untuk keluarga mereka. Karin mencoret kehadiran siapa pun yang menolak mengikuti aturan tanpa berdebat panjang.
'Kamu gak sedih?' tanya Hany.
'Sedih. Tapi aku lebih sedih kalau hari pernikahan jadi pertunjukan orang lain.'
Karin dan Altar juga menyiapkan rencana jika salah satu kewalahan: acara dapat dijeda, janji dapat dilakukan di ruang lebih kecil, dan resepsi boleh ditinggalkan lebih awal. Tidak ada tradisi yang lebih penting daripada kesehatan.
Malam sebelum pernikahan, mereka tidur di tempat berbeda sesuai pilihan pribadi. Karin bersama Hany dan Nadine di rumah Sandra. Altar tinggal bersama Mama Hanna serta Jules.
Karin tidak merasa seperti putri yang menunggu diserahkan kepada lelaki. Ia sudah menandatangani perjanjian, mengetahui anggaran, dan memilih setiap bagian penting. Sandra menyisir rambutnya sambil menangis.
Hany membawa kotak darurat berisi jarum, obat, makanan, pengisi daya, dan pelindung telinga cadangan. Nadine bertugas mengingatkan semua orang sarapan. Ketika ujung gaun Karin terkena minuman, mereka membersihkannya tanpa menyebut hari telah rusak.
Karin melakukan panggilan singkat dengan Altar sebelum tidur. Mereka tidak membahas dekorasi, hanya memastikan keduanya masih ingin melanjutkan. Jawaban mereka tetap iya.
'Mama takut dulu semua kesalahan keluarga membuatmu gak percaya pernikahan,' katanya.
'Aku gak percaya pernikahan otomatis membuat orang jujur. Makanya kami membangun aturannya.'
Di rumah lain, Mama Hanna memberikan jam tangan lama milik Altar, bukan milik Étienne. Jam itu dibeli dari penghasilan pertamanya saat bekerja paruh waktu di perpustakaan kampus.
'Pakai kalau kamu mau,' katanya. 'Bukan kewajiban tradisi.'
Altar memakainya.
Daftar tamu akhirnya bukan daftar orang yang harus menyaksikan status keluarga. Daftar itu berisi orang-orang yang bersedia hadir tanpa mengambil alih cerita. Bagi Karin dan Altar, itulah komunitas yang ingin mereka bawa memasuki pernikahan.