Setahun setelah sesi informasi, Karin dan Altar akhirnya mendaftar sebagai pengasuh sementara. Prosesnya tidak cepat. Mereka menjalani pemeriksaan latar belakang, kesehatan, keuangan, rumah, serta pelatihan trauma. Petugas mewawancarai keduanya secara terpisah.
'Kenapa ingin mengasuh?' tanya petugas bernama Mbak Reni.
Karin menjawab, 'Karena kami punya ruang dan waktu yang sekarang lebih stabil. Bukan karena kami ingin anak memanggil kami orang tua.'
Altar menambahkan mereka terbuka pada anak usia sekolah dan kebutuhan komunikasi beragam. Mereka tidak memilih anak berdasarkan kemungkinan adopsi.
Kamar koleksi Karin diubah menjadi kamar tamu anak, tetapi tidak dibuat terlalu pribadi sebelum ada penempatan. Sebagian album dipindahkan ke lemari tertutup. Dinding dibiarkan kosong agar anak boleh memilih dekorasi atau tidak.
Pemeriksaan rumah menemukan obat mudah dijangkau dan alarm visual terlalu terang untuk anak yang sensitif. Mereka memasang lemari terkunci serta kontrol cahaya. Petugas juga meminta rencana jika Altar berada di luar negeri atau Karin mengalami krisis pekerjaan.
Mereka menunjuk Kevin dan Hany sebagai kontak cadangan setelah keduanya mengikuti pengarahan. Sandra tidak otomatis dipilih hanya karena nenek potensial. Setiap orang harus memahami kerahasiaan serta tujuan reunifikasi.
Pelatihan membahas disiplin tanpa kekerasan, perilaku bertahan, dan bahaya memaksa rasa terima kasih. Karin menyadari banyak kalimat yang dahulu dianggap biasa—kamu sudah diberi rumah bagus—dapat membuat anak merasa keberadaannya adalah utang.
'Aku sedih koleksiku pindah,' kata Karin.
'Kamu boleh sedih. Kalau pengorbanan kecil saja membuatmu menyalahkan anak nanti, kita harus tahu sekarang.'
Karin mengakui hal tersebut dalam konseling. Ia belajar perasaan buruk tidak menjadikan seseorang buruk, selama tidak dibebankan kepada anak.
Penempatan pertama datang tiga bulan kemudian. Seorang anak perempuan delapan tahun bernama Sari membutuhkan rumah selama ibunya, Bu Wulan, menjalani pemulihan kesehatan dan menyelesaikan masalah tempat tinggal. Tujuan rencana adalah reunifikasi, bukan adopsi.
Sari datang membawa satu ransel dan menolak menatap Karin. Ia dapat mendengar, tetapi jarang bicara ketika cemas. Mbak Reni menjelaskan rutinitas, makanan yang disukai, sekolah, serta jadwal pertemuan dengan ibunya.
Karin ingin menunjukkan seluruh rumah, tetapi berhenti ketika Sari menutup telinga. Altar menggunakan kartu bergambar: kamar, kamar mandi, makan, sendiri, bantuan. Sari menunjuk kamar dan masuk tanpa mengucapkan terima kasih.
'Kita biarkan dulu,' kata Altar.
Malam pertama, Sari tidak mau makan di meja. Karin meletakkan makanan di depan kamar dan memberi tahu akan disimpan jika belum siap. Satu jam kemudian piring kosong.
Hari berikutnya Sari marah karena seragam sekolahnya dicuci. Ia berteriak bahwa Karin bukan ibunya. Karin tersentak, lalu menjawab, 'Benar. Aku bukan ibumu. Aku seharusnya tanya sebelum mencuci barangmu.'
Mereka membuat keranjang khusus yang hanya boleh dicuci setelah Sari memasang kartu izin. Aturan sederhana memberi anak sedikit kendali.
Altar menghadapi tantangan lain. Sari mengira alat bantu telinganya berarti Altar tidak memahami apa pun dan kadang sengaja berbicara sambil membelakangi. Bukannya memarahi, Altar menjelaskan cara mendapat perhatiannya. Ia juga mengatakan tidak semua orang Tuli berkomunikasi dengan cara sama.
Sari mulai belajar beberapa isyarat karena tertarik, bukan diwajibkan. Isyarat pertama pilihannya adalah cokelat. Karin protes seharusnya kata pertama lebih bermakna.
'Cokelat sangat bermakna,' ujar Sari untuk pertama kali sambil tersenyum kecil.
Sekolah mengetahui Sari tinggal bersama keluarga Maheswati dan meminta sumbangan. Karin menolak menghubungkan penempatan dengan bisnis. Identitas Sari tidak dibagikan kepada media atau koperasi.
Guru sempat memasukkan nama Karin sebagai ibu pada formulir tanpa bertanya. Karin meminta diperbaiki menjadi pengasuh sementara dan Bu Wulan tetap dicatat sebagai orang tua. Perubahan itu penting agar sistem tidak menghapus keluarga asal hanya karena anak sedang tinggal di tempat lain.
Pada rapat sekolah, Sari diperbolehkan memilih apakah Karin duduk di dalam. Ia meminta Karin menunggu di luar pada bagian awal lalu masuk ketika membahas tugas. Karin menerima tanpa menafsirkan sebagai penolakan.
Sari juga mengikuti konseling sendiri. Karin serta Altar hanya menerima informasi yang perlu untuk keselamatan dan rutinitas. Mereka tidak meminta konselor menceritakan semua ucapan anak.
Pertemuan dengan Bu Wulan berlangsung setiap minggu. Karin mengantar, lalu menunggu di luar. Pada pertemuan ketiga, Bu Wulan meminta bicara.
'Sari bilang rumah kalian bagus,' katanya dengan mata gelisah.
'Dia juga selalu menunggu hari bertemu Ibu,' jawab Karin.
Karin tidak membandingkan fasilitas. Ia memberikan catatan rutinitas serta menanyakan kebiasaan yang ingin dipertahankan. Bu Wulan meminta rambut Sari tidak dipotong dan resep sup keluarga tetap digunakan.
Beberapa kerabat Karin berkata Sari beruntung dan mungkin lebih baik tinggal permanen. Karin menghentikan komentar itu.
'Kemiskinan atau sakit bukan bukti orang tua gak sayang. Tugas kami mendukung sampai aman pulang.'
Hubungan rumah tidak selalu hangat. Sari pernah memecahkan vas lalu menyembunyikan pecahan. Ia mengambil uang kecil dari meja karena takut tidak mendapat bekal. Karin marah dan takut, tetapi Mbak Reni membantu melihat perilaku sebagai strategi bertahan yang perlu batas.
Pada minggu lain, Sari menolak mandi dan mengunci diri. Altar berkomunikasi melalui kartu di bawah pintu, memberi pilihan waktu dan meminta jawaban aman. Ketika Sari keluar, mereka tidak menuntut penjelasan trauma. Mereka hanya menyusun rutinitas yang memberinya pilihan sabun, waktu, dan privasi.
Karin beberapa kali merasa gagal karena rumah mereka tidak selalu bahagia. Kelompok dukungan mengingatkan rasa aman tidak terlihat seperti anak terus tersenyum. Kadang rasa aman muncul ketika anak berani marah karena percaya tidak langsung dikirim pergi.
Mereka memasang kotak bekal yang dapat diakses Sari kapan saja dan tetap meminta uang dikembalikan. Tidak ada hukuman mengurung atau ancaman dikirim pergi. Sari ikut membersihkan area vas setelah memakai sarung tangan.
Karin dan Altar bergantian menghadiri rapat sekolah. Jadwal perjalanan Altar dikurangi sesuai komitmen sebelum penempatan. Ketika laboratorium meminta perjalanan tambahan, ia menolak dan mendelegasikan. Karin juga tidak membawa Sari ke kantor sebagai solusi penitipan.
Mama Hanna berkunjung setelah mendapat izin Bu Wulan melalui petugas. Ia memperkenalkan diri sebagai Hanna, bukan nenek. Sari sendiri yang kemudian memanggilnya Oma Kebun karena diajak menanam.
Kamar Sari akhirnya dihiasi gambar bintang yang dapat dilepas. Karin memastikan dekorasi boleh dibawa ketika pulang. Kamar itu tidak dirancang untuk menahan anak. Dari awal, ruang tersebut dibangun sebagai tempat aman yang juga boleh ditinggalkan.