Setelah sembilan bulan, Bu Wulan menyelesaikan program pemulihan, mendapat pekerjaan stabil, dan pindah ke tempat tinggal yang dinilai aman. Pertemuan dengan Sari diperpanjang dari beberapa jam menjadi akhir pekan. Reunifikasi dijadwalkan bertahap.
Karin ikut senang, tetapi setiap kali melipat pakaian Sari dadanya terasa sesak. Ia malu mengakui bagian dirinya berharap proses ditunda.
'Aku sayang dia,' katanya kepada Altar.
'Sayang gak selalu berarti menahan.'
'Aku tahu. Tetap sakit.'
Mereka membawa perasaan itu ke konselor, bukan kepada Sari. Anak tidak boleh diminta menenangkan orang dewasa atau merasa bersalah karena ingin pulang kepada ibunya.
Sari sendiri menjadi sulit menjelang kepulangan. Ia kembali mengambil makanan ke kamar, bertengkar di sekolah, dan mengatakan tidak mau pulang. Mbak Reni menjelaskan kegembiraan serta takut dapat muncul bersamaan.
Rencana transisi dibuat dalam kalender bergambar. Minggu pertama Sari menginap dua malam bersama Bu Wulan, lalu tiga, kemudian lima. Jika ada masalah, tahap dapat diulang tanpa menyebut reunifikasi gagal.
Karin serta Altar mengirim catatan sekolah dan kesehatan melalui lembaga, bukan memberi Bu Wulan ujian. Bu Wulan juga mengajarkan perubahan rutinitas rumah agar Sari tidak merasa dua kehidupannya terpisah total.
Pada satu akhir pekan, Sari kembali lebih cepat karena bertengkar dengan ibunya. Karin tidak mengambil pihak. Mbak Reni mengadakan pertemuan; ternyata pertengkaran bermula dari jam tidur dan rasa takut Bu Wulan kehilangan kewibawaan.
Mereka menyusun aturan yang dipimpin Bu Wulan. Karin menahan dorongan mengatakan cara rumahnya lebih berhasil.
Karin tidak berkata rumah mereka selalu terbuka tanpa syarat karena kontak setelah reunifikasi ditentukan Bu Wulan dan lembaga. Ia mengatakan, 'Kami akan mengikuti rencana supaya kamu aman. Kamu boleh sayang Ibu dan tetap sedih meninggalkan kami.'
Bu Wulan mengikuti sesi transisi bersama. Ia mengaku takut Sari membandingkan rumah sederhana mereka dengan apartemen Karin.
'Saya gak bisa kasih kamar sendiri,' katanya.
Altar menjawab melalui suara dan isyarat, 'Yang Sari butuhkan bukan rumah paling mahal. Dia butuh rencana yang bisa dipercaya.'
Mereka membantu tanpa mengambil alih. Karin menawarkan membayar furnitur, tetapi petugas mengingatkan bantuan besar dapat menciptakan ketergantungan dan ketimpangan. Koperasi memiliki program umum perbaikan informasi rumah yang dapat diakses semua keluarga, bukan khusus Bu Wulan.
Untuk kebutuhan pribadi, Karin memberi hanya barang Sari sendiri: pakaian, buku, dekorasi bintang, dan tabungan kecil yang dikelola melalui rencana lembaga. Bu Wulan menerima.
Hari kepulangan tiba pada Sabtu. Sari memeriksa kamar berkali-kali untuk memastikan tidak ada barang tertinggal. Ia meninggalkan satu gambar bintang di dinding.
Malam sebelumnya mereka membuat makan perpisahan, tetapi tidak menyebutnya pesta terakhir. Sari memilih menu sup resep Bu Wulan. Karin mengikuti resep tanpa menambah bahan mahal yang dianggapnya lebih enak.
Sari meminta satu foto bertiga untuk disimpan sendiri. Mereka mengambilnya tanpa mengunggah. Ia juga menulis surat kepada apartemen, bukan kepada orang: terima kasih sudah menjadi tempat tidur saat aku takut.
Karin menyimpan salinan hanya setelah Sari memberi izin. Surat asli dibawa Sari pulang.
'Buat kalian,' katanya.
Karin ingin mengatakan kamar itu akan selalu menjadi milik Sari, tetapi menahan. 'Terima kasih. Kami akan jaga gambarnya.'
Altar memberikan kartu komunikasi yang dibuat bersama. Kartu itu bukan alat memantau, hanya cara Sari menyampaikan kebutuhan ketika sulit bicara. Salinannya diberikan kepada Bu Wulan.
Di pintu, Sari memeluk mereka. Karin menangis tanpa meminta Sari berhenti pergi. Bu Wulan mengucapkan terima kasih dan berjanji mengirim kabar sesuai jadwal yang disepakati.
Setelah mobil pergi, apartemen terasa terlalu besar. Karin masuk kamar kosong, duduk di lantai, dan menangis lebih keras. Altar duduk di samping tanpa mencoba memberi hikmah.
Mereka mengambil cuti dua hari. Tidak langsung mendaftar penempatan baru, tidak pula mengubah kamar kembali menjadi ruang koleksi. Mereka menghadiri kelompok dukungan pengasuh dan mendengar orang lain berbicara tentang kehilangan yang tidak selalu diakui masyarakat.
'Orang bilang harusnya bahagia karena reunifikasi berhasil,' kata Karin.
'Kita bahagia dan berduka.'
Sebulan pertama, kontak dilakukan melalui Mbak Reni. Sari mengirim foto meja belajar di rumah baru. Karin membalas gambar tanaman yang dirawatnya. Mereka tidak menelepon setiap hari.
Pada kunjungan pertama, Sari memanggil Karin dengan nama, bukan Mama. Karin tidak merasa ditolak. Dari awal ia bukan pengganti Bu Wulan.
Mereka bertemu di taman. Bu Wulan ikut duduk, bukan menunggu terpisah. Hubungan baru mulai terbentuk: bukan pengasuh resmi, bukan keluarga kandung, tetapi orang dewasa yang pernah menjadi rumah sementara dan masih dapat hadir dengan izin.
Karin meminta Bu Wulan menegurnya jika mulai mengambil alih. Kesempatan itu datang ketika Karin menawarkan sekolah tambahan tanpa diminta. Bu Wulan menolak karena jadwal Sari sudah penuh.
Karin sempat merasa bantuannya tidak dihargai, lalu menyadari uang memberinya kemampuan menawarkan, bukan hak menentukan. Ia meminta maaf dan tidak mengulang tawaran.
Masalah muncul ketika sebuah majalah mengetahui Karin pernah mengasuh. Mereka ingin kisah inspiratif tentang anak kurang mampu tinggal dengan keluarga kaya. Karin menolak dan meminta semua foto yang diperoleh dihapus. Ia tidak berhak menjual kisah Sari bahkan untuk mempromosikan pengasuhan.
Ruang Baca Kota mengadakan seminar umum tentang desain ramah trauma tanpa menyebut pengalaman pribadi. Bu Wulan diundang sebagai konsultan jika ingin dan dibayar. Ia memilih belum terlibat.
Enam bulan setelah reunifikasi, penilaian menunjukkan Sari aman dan Bu Wulan stabil. Kontak informal boleh dilanjutkan langsung. Bu Wulan meminta Karin menjadi salah satu kontak darurat sekolah.
Karin menerima setelah membahas batas. Ia tidak akan mengambil keputusan pendidikan tanpa Bu Wulan dan tidak menggunakan uang untuk mengubah pilihan keluarga.
Kamar di apartemen akhirnya diubah menjadi ruang serbaguna. Gambar bintang tetap di dinding. Sebagian koleksi Karin kembali, tetapi satu tempat tidur lipat disimpan untuk tamu, bukan janji bahwa Sari akan kembali tinggal.
Hari Sari pulang bukan kegagalan pengasuhan. Justru kepulangan yang aman adalah tujuan yang mereka setujui sejak awal. Kesedihan Karin dan Altar tidak memberi mereka hak mengubah akhir tersebut.
Mereka belajar keluarga kadang hadir dalam hidup seseorang selama satu musim, lalu berubah bentuk tanpa kehilangan makna.