Altar jatuh di kamar mandi pada usia tujuh puluh enam tahun. Lantai antiselip mencegah benturan keras, tetapi pergelangan tangannya retak. Sensor mengirim peringatan ke Karin dan layanan gedung. Dalam dua belas menit, petugas datang.
Di rumah sakit, dokter berbicara kepada Karin meski Altar sadar. Karin menunjuk suaminya dan berkata, 'Jelaskan kepadanya. Juru bahasa sedang tersambung.'
Dokter memperbaiki posisi, memastikan layar terlihat, lalu menerangkan hasil pemeriksaan. Tidak ada stroke. Altar perlu gips, fisioterapi, dan evaluasi keseimbangan.
Kejadian itu membuka percakapan yang lama mereka siapkan tetapi tetap takut dijalani. Surat kuasa sudah ada, preferensi perawatan tercatat, dan rekening bersama diatur. Namun dokumen tidak menjawab bagaimana rasanya membayangkan satu kursi kosong di meja sarapan.
'Kalau aku pergi dulu, jangan ubah rumah menjadi museum,' isyarat Altar dengan tangan yang sehat.
'Kalau aku pergi dulu, jangan makan roti setiap malam.'
'Itu bukan kehendak medis.'
'Itu darurat gizi.'
Mereka tertawa, lalu Karin menangis. Altar tidak mengatakan semuanya akan baik. Pada umur mereka, janji itu tidak jujur. Ia memegang tangan Karin sampai tangis mereda.
Setelah pulang, terapis okupasi menilai apartemen. Rak handuk dipindahkan, kursi mandi dipasang, dan lampu malam ditambah. Altar sempat malu membutuhkan bantuan memakai baju. Pendamping profesional mengajarinya cara menggunakan alat sederhana tanpa mengambil semua tugas.
Karin ingin berjaga sepanjang malam. Perawat mengingatkan kelelahan membuatnya sendiri berisiko jatuh. Mereka menerima jadwal bantuan sementara. Kasih tidak diuji dari berapa banyak layanan yang ditolak.
Sari datang membawa makanan dan daftar orang yang bersedia menemani. Ia mencoba mengambil semua koordinasi. Karin mengenali kepanikan di balik kecepatannya.
'Kamu tidak harus jadi anak yang membayar utang,' kata Karin.
'Aku cuma mau membantu.'
'Bantu satu bagian. Bukan seluruh hidup kami.'
Sari memilih mengantar ke fisioterapi tiap Kamis selama satu bulan. Dimas menggantikannya ketika kerja. Nara membantu menguji sensor baru. Pak Yusuf, yang kini memakai kursi roda, mengirim pesan mengejek bahwa Altar akhirnya mengikuti tren tongkat.
Pemulihan berjalan baik, tetapi pemeriksaan menemukan gangguan irama jantung yang perlu obat. Altar menambahkan informasi itu ke kartu darurat. Ia juga merekam video bahasa isyarat tentang keinginannya jika suatu hari tidak dapat berkomunikasi.
Karin memperbarui dokumennya sendiri. Ia tidak menginginkan tindakan agresif tanpa peluang kembali mengenali orang serta mengambil keputusan dasar. Mereka menunjuk Ratna muda—keponakan dari pengacara lama yang kini menangani dokumen—sebagai penasihat profesional, sementara Karin, Sari, dan Jules memiliki peran berbeda untuk Altar.
'Rumit sekali,' kata Hany ketika diminta menjadi kontak cadangan Karin.
'Kamu boleh menolak.'
Hany membaca rincian sampai selesai. 'Aku terima. Tapi aku tetap boleh panik.'
'Boleh. Setelah itu telepon profesional.'
Mereka mengadakan makan siang kecil agar semua kontak memahami peran. Tidak ada seorang pun diminta berjanji menjaga pasangan yang tersisa di rumah selamanya. Pilihan tempat tinggal akan ditentukan sesuai kebutuhan saat itu.
Percakapan beralih ke pemakaman. Altar memilih kremasi tanpa musik wajib. Karin ingin beberapa lagu BTS, tetapi tidak semuanya sedih. Ia melarang montase foto yang membuatnya tampak selalu anggun.
'Itu akan sangat singkat,' kata Hany.
Karin melempar bantal. Ruangan pecah oleh tawa yang bercampur ketakutan.
Malam setelah semua pulang, Altar bertanya apakah Karin benar-benar sanggup hidup tanpanya. Pertanyaan itu tidak adil, tetapi nyata.
'Aku gak tahu,' jawab Karin. 'Aku pernah hidup sebelum kamu, tapi bukan orang yang sama. Aku mungkin perlu bantuan. Aku mungkin marah. Tapi aku gak akan ikut mati hanya supaya kisah kita terlihat sempurna.'
Altar menunduk, lalu mengangguk. 'Aku juga.'
Jawaban itu bukan kurang cinta. Mereka menolak menjadikan kematian satu orang sebagai perintah bagi yang lain.
Beberapa bulan kemudian, gips dilepas. Altar masih memakai tongkat di luar rumah. Ia dan Karin kembali ke taman Hanna untuk pertama kalinya setelah kecelakaan. Jalur yang dulu rata memiliki akar pohon menonjol. Karin hendak melapor dengan nada marah, tetapi seorang petugas sudah memasang tanda dan mencatat perbaikan.
Mereka memilih rute lain. Di bangku, Karin membacakan pesan dari Jules, lalu mengisyaratkan bagian penting. Altar memperbaiki satu gerak tangannya seperti biasa.
'Kalau aku salah isyarat setelah kamu mati, siapa yang koreksi?' tanyanya.
'Ayu. Sari. Nara. Setengah kota.'
'Sombong.'
'Aku membangun kapasitas.'
Karin menyandarkan kepala ke bahunya. Matahari sore bergerak melalui daun. Mereka tidak tahu siapa pulang lebih dulu atau berapa banyak sore tersisa.
Ketidakpastian tidak membuat hari itu sia-sia. Justru karena tidak dapat dijamin, mereka berhenti menyimpan kalimat baik untuk keadaan darurat.
'Aku mencintaimu,' isyarat Karin perlahan, bentuk tangannya tepat.
Altar menjawab dengan gerak yang sama. Lalu ia menambahkan, 'Dan besok giliranmu mencuci piring.'
Karin tertawa. Cinta mereka tidak menolak akhir. Ia hanya terus membuat tempat bagi kehidupan sebelum akhir datang.
Malam itu, mereka mencoba menjalankan simulasi darurat. Karin berpura-pura tidak dapat menjawab, sementara Altar mencari kartu medis dan menghubungi nomor layanan. Pada percobaan pertama, kartu terselip di tas lama. Percobaan kedua gagal karena baterai perangkat cadangan habis.
Mereka memperbaiki letak kartu, memberi label pada pengisi daya, dan meminta pengelola gedung memasukkan komunikasi teks ke prosedur. Simulasi diulang bersama Nara sampai berhasil. Kesiapan ternyata bukan dokumen yang disimpan, melainkan kebiasaan yang diuji.
Kecelakaan juga mengubah cara Altar melihat tongkat. Ia mula-mula memilih warna hitam agar tidak menarik perhatian. Ayu menghadiahkan tongkat biru terang dengan stiker reflektif. Altar menolaknya dua hari, lalu memakai karena lebih mudah ditemukan dan lebih aman di malam hari.
Karin menempelkan satu stiker kecil berbentuk mahkota. Altar mencabutnya. Besoknya stiker itu kembali. Permainan berlangsung seminggu sampai mereka sepakat memindahkannya ke bagian dalam pegangan, tempat hanya mereka yang tahu.
Pada kontrol berikutnya, dokter bertanya kepada Karin apakah suaminya patuh minum obat. Altar mengetuk meja. Dokter segera mengulang pertanyaan kepadanya. Ia mengaku pernah lupa dua dosis. Mereka memasang kotak obat dengan lampu, bukan menyerahkan pengawasan kepada Karin.
Perubahan kecil itu memberi napas pada hubungan. Karin tetap pasangan, bukan petugas. Altar tetap orang yang menerima perawatan, bukan pekerjaan yang harus diselesaikan.