Lima tahun kemudian, perpustakaan lama tempat Karin serta Altar pernah saling menunggu dibuka kembali setelah renovasi. Ruang itu kini menjadi bagian jaringan kota, dengan jalur landai, pencahayaan yang dapat disesuaikan, ruang tenang, dan meja yang mudah dipindahkan.
Mereka menerima undangan pembukaan sebagai warga kehormatan, bukan pemilik proyek. Karin berusia tujuh puluh delapan tahun. Rambutnya putih dan dipotong pendek. Altar berjalan dengan tongkat, menggunakan bahasa isyarat sebagai komunikasi utama, serta sesekali memakai alat bantu hanya untuk getaran tertentu.
Sari menyambut di pintu bersama Dimas. Mereka telah menikah dalam acara kecil dua tahun sebelumnya dan memilih tidak memiliki anak. Karin tidak menyebut keputusan itu kehilangan. Ia hanya bertanya apakah mereka sudah makan.
Bu Wulan datang menggunakan pendamping. Hany duduk di barisan depan dengan kacamata besar. Dion mengikuti acara melalui siaran karena sedang merawat pasangannya. Kevin dan Nadine mengirim bunga atas nama mereka sendiri, bukan keluarga Adrian.
Di dinding tidak ada foto raksasa Karin atau Altar. Sebuah panel sejarah mencantumkan banyak nama: pustakawan, pekerja konstruksi, komunitas disabilitas, donor, peneliti, pembaca anak, dan pengurus kota. Hanna disebut pada bagian taman baca. Adrian muncul dalam arsip perkara pekerja, tidak dihapus dan tidak dimuliakan.
Pembukaan dimulai dengan bunyi perkusi, cahaya, teks, serta bahasa isyarat. Pengunjung boleh memilih ruang utama atau mengikuti dari ruangan tenang. Ketika mikrofon bermasalah, panitia tidak panik. Teks dan isyarat tetap berjalan sementara teknisi bekerja.
Karin memperhatikan Altar. Dahulu bunyi keras dapat membuatnya membeku, marah, atau kehilangan pijakan. Kini ia memilih tempat duduk yang aman, melihat akses tersedia, dan tidak perlu membuktikan ketahanan.
Seorang anak perempuan berlari mendekati mereka setelah acara. Ia membawa novel dan bertanya kepada Karin apakah benar ia dahulu penggemar yang sangat berisik.
'Sangat,' jawab Karin.
'Kenapa sekarang pakai tangan?'
'Karena suamiku berbicara dengan tangan, dan ternyata tanganku juga punya banyak omongan.'
Anak itu mencoba satu isyarat yang dipelajari dari lokakarya. Bentuknya kurang tepat. Altar menunjukkan ulang dengan sabar. Anak tersebut meniru, lalu berlari pergi tanpa mengetahui betapa jauh gerakan kecil itu membawa mereka dari masa lalu.
Direktur perpustakaan mengajak Karin serta Altar menandatangani buku tamu. Karin menulis namanya sendiri. Altar menulis namanya di bawah, tanpa garis yang menggabungkan keduanya. Setelah ragu sebentar, Karin menambahkan satu kata di sisi halaman: hadir.
Mereka berjalan ke sudut koleksi budaya populer. Arsip konser yang pernah dipilah bersama Hany dipamerkan dalam kotak kecil. Video Karin muda hanya dapat diputar setelah pengunjung membaca konteks dan menyetujui penggunaan edukasi. Wajah teman yang tidak memberi izin telah disamarkan.
Karin memasang headphone meskipun tahu Altar tidak akan memakainya. Teriakan dirinya yang berusia belasan tahun memenuhi telinga. Ia terkejut oleh kekuatan suara itu, lalu tertawa dan menangis sekaligus.
Altar menyentuh lengannya. 'Menyesal?' isyaratnya.
'Tidak. Malu sedikit.'
'Bagus.'
'Kenapa bagus?'
'Berarti kamu masih bisa menilai dirimu yang lama tanpa membencinya.'
Mereka meninggalkan arsip dan memasuki ruang baca tenang. Meja dekat jendela kosong. Karin ingat seorang pemuda yang dahulu membutuhkan sunyi, sementara ia datang membawa dunia yang terlalu keras. Altar ingat seorang gadis yang tidak mengerti batas, tetapi mau belajar setelah menyakiti.
Kenangan itu bukan dongeng tentang perempuan riuh yang disembuhkan lelaki sunyi. Altar tidak pernah menjadi sunyi sepenuhnya, dan Karin tidak berhenti menjadi riuh. Mereka hanya belajar bahwa kebutuhan berbeda dapat duduk di meja yang sama jika tidak ada satu pihak dipaksa menghilang.
Sari menemukan mereka di sana dan mengatakan makan siang sudah siap. Ia tidak memanggil mereka Mama dan Papa setiap waktu. Hari itu ia menggunakan dua isyarat keluarga yang dipilihnya sendiri.
'Kami menyusul,' jawab Karin.
Sari pergi tanpa menunggu. Ia memiliki tamu lain, pekerjaan lain, dan hidup yang tidak berputar mengelilingi mereka.
Altar membuka novel dari rak. Karin membuka buku lain, bertahan membaca selama tiga menit, lalu mulai menceritakan bagian yang baru ditemukannya. Altar mengangkat alis dan menunjuk tanda ruang tenang.
Karin menutup mulut, kemudian mengisyaratkan ceritanya dengan gerakan besar. Seorang pembaca di meja sebelah tersenyum. Altar pura-pura kesal, tetapi membalas.
Percakapan tangan mereka berlangsung di bawah cahaya sore. Ada jeda ketika Altar mencari isyarat, ada salah paham yang harus diulang, dan ada lelucon yang hanya dipahami setelah terlambat. Tidak sempurna, tetapi hidup.
Di luar jendela, kota bergerak. Festival Ruang Bertemu sedang dipersiapkan oleh orang-orang yang sebagian tidak pernah mengenal pendirinya. Pusat akses memperbarui sistem tanpa meminta persetujuan Altar. Koperasi menerbitkan buku baru tanpa nama Karin. Taman Hanna mengganti tanaman yang mati. Arsip pekerja terus menerima klaim. Semua yang mereka cintai berubah karena tetap digunakan.
Karin memandang tangan mereka yang menua. Cincin pernikahan tidak lagi pas dan sudah dipindahkan ke rantai tipis. Bekas luka, urat, serta tremor kecil terlihat jelas. Ia mengisyaratkan satu pertanyaan.
'Kalau bisa kembali, kamu masih memilihku?'
Altar tidak menjawab cepat. Karin mencubit lengannya.
'Aku sedang menyusun jawaban akurat.'
'Salah. Jawabannya harus langsung iya.'
Altar tersenyum. 'Aku tidak memilih versi lama kita untuk tinggal selamanya. Aku memilih bertemu kamu lagi, lalu belajar lagi.'
Karin ingin protes karena jawaban itu terlalu Altar. Sebaliknya ia mengangguk. Ia pun tidak ingin mengulang seluruh luka atau mengunci mereka pada hari paling bahagia. Cinta bukan kesempatan kembali ke halaman pertama. Cinta adalah kesediaan membaca halaman berikutnya ketika keduanya sudah berubah.
Petugas memberi tanda perpustakaan akan tutup satu jam lagi. Mereka berdiri perlahan. Altar memasukkan buku ke mesin pinjam mandiri, sedangkan Karin membutuhkan bantuan karena salah menekan layar. Anak perempuan tadi datang menunjukkan tombol yang benar.
Di pintu, keramaian acara masih terasa melalui gerak lantai dan cahaya. Altar berhenti. Karin menunggu, tidak menariknya dan tidak menjawab untuknya.
'Siap?' isyarat Karin.
Altar menawarkan tangan.
Mereka melangkah keluar bersama, menuju orang-orang yang menunggu makan siang. Di belakang mereka ada ruang tenang yang tetap terbuka. Di depan mereka ada tawa, percakapan, kendaraan, musik, serta dunia yang tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan.
Karin menggenggam tangan Altar, cukup erat untuk terasa dan cukup longgar agar keduanya tetap bebas bergerak.
Di antara sunyi dan riuh, mereka pulang.
TAMAT