Dua hari setelah malam pembatalan, Alisyah datang ke kampus membawa jadwal kuliah dan pesan-pesan tugas yang masih tersimpan. Manda berjalan bersamanya sampai gedung fakultas. Gea memilih menunggu di kantin, dengan alasan ia lebih berguna sebagai penanggung jawab makan siang daripada orang ketiga yang ikut menatap meja administrasi.
Di depan pintu, Alisyah berhenti sebentar. Ia ingat Azka mengatakan kampus ini miliknya. Waktu itu kalimat tersebut terdengar cukup untuk membuat masa depannya hilang. Sekarang ia ingin tahu apakah ancaman yang terus menghantuinya pernah berubah menjadi keputusan.
“Status saya masih aktif?” tanyanya setelah menyerahkan kartu mahasiswa.
Petugas memeriksa layar dan dokumen yang berkaitan dengan namanya. Tidak ada surat pemberhentian atau proses DO yang tercatat. Alisyah mengulangi pertanyaan untuk memastikan yang didengarnya, kemudian meminta keterangan tertulis.
“Saya pernah diancam dikeluarkan kalau tidak mengikuti tugas yang diberikan,” jelasnya. “Saya ingin tahu kepada siapa saya harus bertanya kalau ancaman itu muncul lagi.”
Petugas tidak meminta ia menemui Azka. Ia memberikan informasi layanan mahasiswa dan mencatat permohonannya. Alisyah menerima tanda terima, membaca nama serta nomor mahasiswanya, lalu menyimpan salinan di map.
Ketika ia keluar, Azka berada di ujung lorong bersama seorang staf. Ia membawa map biru. Alisyah sempat menegang, tetapi pria itu tidak memanggil atau mengulurkan tangan. Ia menunggu sampai staf pergi, kemudian berbicara dari jarak beberapa langkah.
“Aku sudah menyerahkan surat pencabutan tugas asisten dan penarikan ancaman itu.”
“Aku sedang mengurus statusku sendiri.”
“Aku tahu. Salinannya melalui administrasi. Kamu tidak perlu menerimanya dariku.”
Alisyah memandang map tersebut. “Aku tidak pernah menawarkan diri menjadi asistenmu. Bukan karena kita berselisih lalu aku tidak mau melanjutkan. Sejak awal kamu mengatakan aku akan dikeluarkan kalau menolak.”
Azka menunduk. “Benar. Suratku menyebut penugasan itu kupaksakan.”
“Pastikan itu yang tertulis.”
Ia berjalan melewati Azka tanpa menunggu kalimat berikutnya. Manda menyusul setelah mengambil tasnya. Mereka menuju kelas, dan Alisyah baru menarik napas lebih panjang ketika sampai di tangga.
***
Keesokan harinya administrasi menyerahkan salinan surat yang telah diterima. Azka menyatakan tidak pernah mengajukan proses pemberhentian, menarik ancaman yang diucapkannya, dan mengakhiri tugas asisten yang dipaksakan. Tidak ada pekerjaan pengganti yang harus dilakukan Alisyah. Ia membaca setiap bagian sebelum bertanya mengenai tugas-tugas yang sempat dikoreksinya untuk mahasiswa lain.
“Saya tidak ingin membawa lembar jawaban mereka lebih lama.”
Petugas mengarahkan pengembalian melalui kantor fakultas. Alisyah menyerahkan seluruh berkas yang masih dibawanya dan mendapat tanda penerimaan. Ia tidak diminta membawa tugas itu ke ruang Azka atau membersihkan ruangan sekali lagi untuk menutup kewajibannya.
Penilaian dan absensinya juga dialihkan. Marcel, yang telah kembali mengajar, membenarkan pengaturan untuk mata kuliah yang sempat diisi Azka. Ia akan menilai menggunakan rubrik yang sama dan tidak menerima permintaan nilai dari urusan pribadi.
“Kalau tugas saya buruk, tetap buruk?” tanya Alisyah saat konsultasi.
Marcel memandangnya dari atas kertas. “Kalau kamu menginginkan jawaban yang membuatmu tidak perlu bekerja, kamu datang ke orang yang salah.”
“Syukurlah. Saya sedang mengurangi orang yang mengaku tahu apa yang paling baik untuk saya.”
Marcel tidak tertawa, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit. Ia menunjukkan bagian tugas yang tertunda serta tenggat yang berlaku bagi mahasiswa yang memperoleh perpanjangan. Alisyah mencatatnya. Ia masih harus mengerjakan esai dan membicarakan bagiannya dengan kelompok. Surat penarikan ancaman tidak akan menulis satu paragraf pun untuknya.
Siang itu ia duduk bersama Manda di perpustakaan. Rancangan esainya tampak jauh lebih buruk ketika dibaca dengan rubrik di sebelah layar. Kesimpulannya tegas, sementara bukti yang dipakainya hanya dua kutipan pendek yang tidak dijelaskan.
“Aku kelihatan pintar di paragraf terakhir,” katanya.
Manda membaca bagian awal. “Masalahnya pembaca harus sampai ke sana dulu.”
Alisyah mendengus, lalu mulai menghapus. Ia membagi waktu: satu jam mencari bahan tambahan, makan, kemudian menyusun argumen. Ketika Manda menawarkan memeriksa, ia meminta temannya menandai bagian yang tidak dipahami, bukan menulis ulang.
Ia mengirim rancangan melalui portal pada sore hari. Sesudah tanda terima muncul, barulah ia menyimpannya. Tidak ada berkas yang dinyatakan sudah terkirim hanya karena selesai diberi nama.
Dua hari kemudian, komentar Marcel masuk. Argumen kedua belum ditopang sumber yang cukup, dan ada perbedaan antara data yang dikutip dengan kesimpulan yang ditulis. Alisyah merasakan kecewa yang biasa datang ketika mengira pekerjaannya lebih baik daripada penilaian orang lain. Namun kali ini ia dapat melihat alasan di balik catatan itu.
Ia mengirim satu pertanyaan tentang penggunaan sumber. Marcel menjawab melalui portal dan menunjuk bagian rubrik. Alisyah kembali membaca, mengubah susunan paragraf, lalu menyerahkan versi akhir sebelum tenggat yang ditetapkan. Setelah itu ia menutup laptop dan pergi mencari makan bersama Gea.
“Rasanya bagaimana menjadi mahasiswa rajin?” tanya temannya.
“Lapar.”
“Berarti tidak banyak berubah.”
Alisyah tertawa. Ia masih menyukai tidur, masih ingin menunda ketika melihat tugas panjang, dan masih bisa kesal kepada dosen. Bedanya, kini ia tidak harus menebak apakah penolakan terhadap seorang pria akan mengubah hasil belajarnya.
Pada pekan berikutnya nilai akhir esai diumumkan. Ia lulus, dengan beberapa catatan yang masih perlu diperbaiki pada tugas mendatang. Alisyah menyimpan hasil itu bersama rubrik. Ia tidak mengirimkannya kepada Azka atau meminta persetujuannya.
Di meja administrasi, ia juga menerima panduan pengaduan yang dimintanya. Ia belum mengisi formulir. Nama layanan dan jam konsultasinya ia simpan di ponsel, terpisah dari percakapan pribadi. Ia ingin mempunyai pilihan jika memutuskan perlu memeriksa penyalahgunaan kuasa yang telah terjadi.
Ketika pulang, ia melihat ruang kerja tempat dirinya pernah dikurung. Pintu itu sedang terbuka. Alisyah tetap merasa tengkuknya menegang, dan ia tidak memaksa diri berhenti di depannya. Manda mengikutinya menuju halaman tanpa bertanya apakah ia sudah merasa aman.
Ada tugas kelompok yang harus dibicarakan sore itu. Ada pula dua barang rusak di kos yang belum ditangani. Alisyah berjalan ke kantin, membuka catatan pembagian pekerjaan, dan meminta kelompoknya menunjukkan versi terakhir. Ia telah kembali untuk belajar. Urusan yang membuatnya takut belum selesai, tetapi ancaman Azka tidak lagi menjadi satu-satunya keterangan yang dimilikinya tentang masa depan.